Financial Market Update

IDR10 : 7,68% - 7,72% (cl: 7,69%)
IDR5: 7,50% - 7,58% (cl: 7,52%)
UST10: 4,90% - 4,92% (last: 4,91%)

IDR : 18.132 - 18.164 (cl: 18.148)
DXY : 101,63 - 101,87 (last: 101,76)
JCI : 4.895,60 - 5.143,58 (cl: 4.904,29)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -6bps to 7,52%
FR0108 (10yr) : -2bps to 7,69%
FR0106 (15yr) : -5bps to 7,70%
FR0107 (20yr) : 0bps to 7,73%

Market Recap:

• Harga SBN seri benchmark menguat terbatas dengan kisaran penurunan yield sebesar 0–6 bps. Yield SBN 10 tahun turun 2 bps dan ditutup di 7,69% (+164 bps YTD), dengan selisih terhadap UST 10 tahun sekitar 278 bps. Penurunan yield sejalan dengan koreksi tajam harga minyak, dengan Brent turun ke $103-104/barel seiring ekspektasi perundingan AS–Iran yang meredakan kekhawatiran. Penurunan yield UST 10 tahun ke 4,91% juga turut menopang sentimen di pasar SBN domestik meskipun secara terbatas, seiring pasar masih mencermati sinyal pengetatan The Fed yang didukung pernyataan sejumlah pejabat The Fed.

• Rupiah ditutup menguat tipis 0,01% ke level 18.148 terhadap USD dari sebelumnya 18.150. Penguatan Rupiah ditopang oleh harapan terhadap perundingan damai di Timur Tengah dan penurunan harga minyak. Namun, penguatan tersebut menjadi yang paling terbatas di antara sejumlah mata uang Asia yang menguat (PHP, INR, KRW, THB), mencerminkan tekanan domestik yang masih kuat dari outflow saham dan obligasi, risiko MSCI, serta daya tarik carry yang terbatas. Intervensi aktif BI menjadi salah satu faktor yang menahan pelemahan Rupiah lebih lanjut.

• IHSG ditutup turun tajam 3,78% ke level 4.904,29. Seluruh indeks sektoral melemah, dengan penurunan terdalam pada sektor barang baku sebesar -6,00%, energi -4,38%, dan transportasi -3,90%. Sebanyak 57 saham menguat, 624 saham melemah, dan 37 saham tidak berubah, dengan nilai transaksi Rp11,14 triliun. Aksi jual bersih asing terlihat pada sesi I sebesar Rp831 miliar. Tekanan terjadi menjelang pengumuman index review MSCI November. Koreksi IHSG berlangsung bersamaan dengan tekanan pada saham teknologi Asia, dengan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang turun sekitar 1,4% pada perdagangan regional.

Point of Interest:

• Pemilu sela AS menjadi fokus utama pasar dengan potensi perubahan kontrol Kongres. Jajak pendapat mengunggulkan Demokrat merebut DPR, sementara persaingan Senat masih ketat meski Polymarket dan Kalshi memberikan probabilitas sekitar 76–77% bagi Demokrat untuk menguasai Senat. Investor juga mencermati implikasi hasil pemilu terhadap kebijakan fiskal, regulasi dan debt ceiling, serta menantikan quarterly refunding Treasury setelah estimasi kebutuhan pinjaman Q4-2026 diturunkan menjadi $618 miliar.

• PBOC menaikkan rasio giro wajib minimum valas dari 4% menjadi 6% mulai 15 November untuk meredam apresiasi CNY. Berdasarkan perhitungan Reuters, kebijakan tersebut diperkirakan menyerap sekitar $24 miliar likuiditas valas dari sistem perbankan. Dengan kewajiban menahan porsi simpanan valas yang lebih besar, jumlah USD yang dapat dikonversi ke CNY berkurang, sehingga tekanan permintaan terhadap CNY menurun. Kebijakan tsb merupakan kenaikan pertama sejak 2021 dan mendorong CNY melemah, sejalan dengan upaya PBOC membatasi penguatan yuan yang telah mencapai lebih dari 5% sepanjang tahun ini.

• RBA kembali menaikkan suku bunga acuan 25 bps menjadi 4,85% dengan split voting 6-3. Level ini merupakan yang tertinggi sejak 2008 dan menandai kenaikan kelima sepanjang 2026. Terdapat enam anggota yang memilih kenaikan, sedangkan tiga anggota memilih mempertahankan suku bunga di 4,60%. RBA juga merevisi proyeksi inflasi Q4-2026 menjadi sebesar 4,5%. Sementara itu, split voting meningkatkan ekspektasi bahwa RBA akan menahan suku bunga pada pertemuan Desember sehingga AUD melemah ke bawah $0,70.

• Pemerintah menerbitkan Rp16,65 triliun SBSN pada lelang hari ini dengan minat investor masih kuat di tenor pendek. SPNS tenor 1 bulan mencatat bid-to-cover (btc) tertinggi sebesar 15,26x dibandingkan btc tenor lebih panjang pada kisaran 1x-2,37x, yang mengindikasikan keengganan investor untuk mengambil risiko durasi di tengah ketidakpastian pasar yang masih tinggi. Obligasi PBS bertenor menengah-panjang (jatuh tempo tahun 2033–2049) terjual pada kisaran imbal hasil 7,68%–7,71%, konsisten dengan level pasar sekunder dan mencerminkan ekspektasi pasar bahwa imbal hasil SBN akan tetap tinggi dalam jangka dekat.

• Koordinasi kebijakan ekonomi menjadi perhatian di tengah tekanan pasar domestik. Presiden Prabowo memanggil sejumlah menteri ekonomi dan Gubernur BI ke Istana pada Selasa siang, bertepatan dengan pelemahan tajam IHSG. Konferensi pers hasil Rapat Berkala KSSK Q4-2026 yang semula dijadwalkan pukul 16.00 WIB juga diundur menjadi pukul 17.00 WIB, sehingga pasar mencermati sinyal koordinasi kebijakan otoritas dalam merespons volatilitas pasar keuangan.

• Pemerintah memperkuat dukungan daya beli menjelang akhir tahun melalui bansos dan diskon Nataru. Menko Perekonomian Airlangga menyatakan pemerintah mengandalkan program bansos sekitar Rp30 triliun serta bantuan beras total 30 kg per keluarga untuk periode Oktober–Desember, di tengah inflasi volatile food yang meningkat menjadi 5,81% YoY.

• Fitch Ratings menurunkan peringkat Sukuk Tranche I Pos Indonesia menjadi 'D(IDN)' akibat gagal bayar yang tidak diselesaikan (uncured non-payment). Meskipun dampak sistemik langsung terhadap pasar SBN secara keseluruhan relatif terbatas, peristiwa ini membawa implikasi reputasional yang signifikan bagi pasar keuangan syariah Indonesia, mengingat Pos Indonesia merupakan BUMN.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP