Financial Market Update
IDR10 : 7,59% - 7,69% (cl: 7,69%) IDR5: 7,46% - 7,54% (cl: 7,54%) UST10: 4,89% - 4,94% (last: 4,93%)
IDR : 18.102 - 18.162 (cl: 18.127) DXY : 101,59 - 101,90 (last: 101,63) JCI : 4.979,34 - 5.116,01 (cl: 5.057,05)
Yield SUN FR0109 (5yr) : +6bps to 7,54% FR0108 (10yr) : +9bps to 7,69% FR0106 (15yr) : +4bps to 7,69% FR0107 (20yr) : +3bps to 7,69%
Market Recap:
• Harga SBN seri benchmark melemah di seluruh tenor dengan kisaran kenaikan yield sebesar 3-9 bps. Selisih yield SBN 10 tahun terhadap UST 10 tahun melebar menjadi sekitar 276 bps dari sekitar 260 bps, yang mengindikasikan meningkatnya premi risiko domestik. Tekanan tersebut sejalan dengan lemahnya minat investor pada lelang SUN 27 Oktober, di tengah posisi yield yang telah melampaui asumsi rata-rata yield SBN tenor 10 tahun dalam APBN 2026 sebesar 6,9%. Dari sisi global, inflasi PCE AS September yang naik dari 3,4% menjadi 3,6% menjaga ekspektasi kenaikan FFR pada Desember.
• Rupiah ditutup menguat tipis 0,03% ke level 18.127 terhadap USD dari sebelumnya 18.132, dan bergerak di kisaran 18.102–18.162. Penguatan Rupiah disebabkan DXY yang turun ke 101,63 (kisaran 101,59–101,90) dari 102,16 pada penutupan sebelumnya, meskipun lebih terbatas dibandingkan dengan penguatan mata uang Asia lainnya. Analis menilai aksi jual bersih asing yang berkelanjutan di pasar ekuitas domestik masih membebani Rupiah, sementara laporan mengenai opsi militer AS terhadap Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik.
• IHSG ditutup melemah 0,80% ke level 5.057,05. Pelemahan terbesar berasal dari sektor utilitas (-4,85%), bahan baku (-2,72%), dan properti (-2,22%). Sebanyak 523 saham melemah, 187 saham menguat, dan 81 saham tidak berubah dengan nilai transaksi Rp10,38 triliun. Tekanan tersebut terjadi saat saham teknologi di Korea Selatan dan Taiwan dilaporkan melemah akibat rilis laporan keuangan perusahaan teknologi yang mengecewakan. Selain itu, terdapat juga kekhawatiran terhadap potensi arus keluar dana pasif dari sembilan saham MSCI Standard Cap sekitar $3,34 miliar apabila status pasar Indonesia diturunkan. IHSG terkoreksi sekitar 41,5% secara YTD dan turun hampir 18% secara bulanan (terburuk sejak Oktober 2008).
Point of Interest:
• Ekonomi AS tumbuh 3,4% pada Q3-2026, melampaui konsensus 3,2%, sementara inflasi PCE September meningkat ke 3,6% yoy, sehingga memperbesar peluang kenaikan FFR pada Desember. Pertumbuhan GDP tersebut lebih tinggi daripada ekspansi 2,2% pada Q2-2026, dengan kontribusi utama dari peningkatan investasi, belanja konsumen, dan belanja pemerintah. Di sisi harga, PCE headline naik dari 3,4% menjadi 3,6%, sedangkan PCE inti naik dari 3,0% menjadi 3,1%, dengan inflasi barang dan jasa energi mencapai 21,3% yoy, naik dari 16,9% pada Agustus. Data tersebut sejalan dengan pernyataan Fed Chairman Kevin Warsh sebelumnya, dan probabilitas kenaikan suku bunga pada Desember tercatat sekitar 84,5% sesaat setelah rilis.
• Bank of Japan mempertahankan suku bunga kebijakan di level 1,25% melalui keputusan voting 8–1 dan untuk pertama kalinya menilai inflasi dasar telah mencapai target 2%, sehingga membuka peluang kenaikan suku bunga pada Desember. Anggota dewan Hajime Takata menolak keputusan tersebut dan mengusulkan suku bunga 1,5%. BOJ menaikkan proyeksi inflasi inti tahun fiskal 2027 dari 2,4% menjadi 2,6% dan mengidentifikasi risiko kenaikan harga, serta menyetujui percepatan penjualan ETF lebih dari dua kali lipat mulai Januari 2027. JPY secara umum mempertahankan penguatannya setelah keputusan tersebut, sementara laju penjualan ETF dipercepat menjadi sekitar ¥860 miliar per tahun.
• Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga deposit di level 2,50% pada 29 Oktober, tetapi menilai kenaikan harga energi menambah risiko kenaikan inflasi sekaligus risiko perlambatan pertumbuhan di kawasan Eropa. ECB menyatakan bahwa besaran dan durasi guncangan energi yang meningkat, termasuk dampak tidak langsung dan dampak putaran kedua, cenderung mendorong inflasi naik dan menekan pertumbuhan. Christine Lagarde mengonfirmasi bahwa Dewan Gubernur membahas kenaikan suku bunga, tetapi secara bulat sepakat mempertahankannya. Harga kontrak berjangka pada 29 Oktober mencerminkan probabilitas sekitar 82% untuk kenaikan 25 bps ke 2,75% pada Desember.
• Risiko eskalasi AS–Iran kembali meningkat menjelang pemilu sela AS. Wall Street Journal melaporkan Komandan CENTCOM Adm. Brad Cooper memaparkan opsi militer terhadap Iran kepada Presiden Trump, di tengah penguatan pertahanan udara, amunisi, dan kesiapan militer AS di kawasan. Perkembangan tersebut menjaga premi risiko energi tetap tinggi, meski mediator Qatar kembali ke Tehran untuk mendorong kesepakatan dan kedua pihak masih berbeda mengenai isu nuklir, pencabutan blokade, serta sanksi minyak.
• CGS International memperkirakan potensi arus keluar dana pasif mencapai $3,34 miliar dari sembilan saham MSCI Indonesia Standard Cap, atau sekitar Rp60,64 triliun apabila status Indonesia diturunkan menjadi Standalone Market. Estimasi tersebut merupakan bagian dari potensi total arus keluar asing hingga $11 miliar atau sekitar Rp199,73 triliun, dengan BBCA memiliki potensi arus keluar terbesar, yakni sekitar $1,01 miliar atau Rp18,34 triliun.
• Pemerintah memperluas pemungutan PPN transaksi digital luar negeri untuk memperkuat penerimaan. Sistem Pemungutan Pajak atas Transaksi Digital Luar Negeri (SPP-TDLN) yang telah berjalan sejak 25 September akan diperluas dengan melibatkan lebih banyak bank, fintech dan platform pembayaran, sementara Hashim Djojohadikusumo menyebut implementasi yang lebih luas ditargetkan mulai 9 November. Dirjen Pajak memperkirakan penerimaan dari ekonomi digital berpotensi meningkat sekitar 50% menjadi Rp16 triliun, sehingga optimalisasi penerimaan menjadi penting untuk memperkuat kapasitas fiskal di tengah tingginya biaya utang pemerintah.
• Bank Indonesia melanjutkan stabilisasi Rupiah melalui FX Swap dan DNDF. Pada 30 Oktober, BI memenangkan FX Swap jual USD/IDR sebesar $100 juta dan melakukan transaksi DNDF jual sesi sore sebesar $168 juta, sebagai bagian dari upaya menjaga kecukupan pasokan valas dan meredam volatilitas.
• OJK mendorong peningkatan peran investor institusi domestik di pasar saham, dan tengah menyiapkan kebijakan untuk mendorong BPJS, dana pensiun, asuransi, dan institusi domestik lainnya meningkatkan partisipasi di pasar modal, seiring tingginya tekanan foreign outflow dan volatilitas IHSG. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat basis permintaan domestik dan mengurangi ketergantungan pasar terhadap arus dana asing. Meski bersifat konstruktif secara struktural, dampaknya terhadap pasar diperkirakan bertahap karena keputusan investasi institusi tetap bergantung pada valuasi, profil risiko, serta tata kelola masing-masing investor.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP