Financial Market Update
IDR10 : 7,38% - 7,43% (cl: 7,39%) IDR5: 7,15% - 7,28% (cl: 7,19%) UST10: 5,05% - 5,09% (last: 5,08%)
IDR : 18,020 - 18.053 (cl: 18.043) DXY : 101,77 - 102,07 (last: 101,94) JCI : 4.907,37 - 5.012,87 (cl: 4.996,61)
Yield SUN FR0109 (5yr) : -7bps to 7,19% FR0108 (10yr) : +7bps to 7,39% FR0106 (15yr) : -2bps to 7,39% FR0107 (20yr) : +13bps to 7,43%
Market Recap:
• Harga SBN seri benchmark ditutup bervariasi, dengan kisaran pergerakan yield sebesar 2-13 bps. Tekanan pada pasar SBN masih terlihat di beberapa tenor seiring Rupiah yang bertahan di atas level psikologis 18.000 dan kembali melemah terbatas pada hari ini melanjutkan sentimen negatif dari proposal konsultasi MSCI atas status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. MSCI menyatakan akan melanjutkan reklasifikasi tersebut kecuali konsultasi menemukan bukti jelas adanya perbaikan material dalam tata kelola dan fungsi pasar. Yield UST 10 tahun yang bertahan tinggi di kisaran 5,05%–5,09% dan harga minyak dunia yang menembus US$110 per barel turut membatasi minat terhadap SBN tenor panjang. Pelaku pasar juga menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu (21/10/2026).
• Rupiah ditutup melemah 0,17% ke level 18.043 terhadap USD, dari sebelumnya 18.012, dan bertahan di atas level psikologis 18.000. Pelemahan masih dipengaruhi sentimen risk-off dan arus keluar dana asing dari pasar domestik. Berbeda dengan Jumat, tekanan Rupiah hari ini juga sejalan dengan penguatan terbatas DXY ke kisaran 101,94, meskipun pergerakan mata uang Asia relatif bervariasi, dimana THB, TWD, dan PHP melemah sedangkan KRW dan CNY menguat terhadap USD. Analis menilai sanksi OJK serta pertemuan BEI dengan MSCI berpotensi membantu memulihkan kepercayaan investor, tetapi Rupiah diperkirakan masih tertekan selama arus keluar dana asing berlanjut.
• IHSG ditutup melemah 3,64% ke level 4.996,61, melanjutkan penurunan tajam Jumat dan kembali ke bawah level psikologis 5.000. IHSG dibuka di level 4.961,88 dan sempat turun lebih dari 5% ke kisaran 4.910 pada sesi I, sebelum memangkas pelemahan menjelang penutupan. Seluruh sektor ditutup melemah, dipimpin sektor barang baku (-4,57%) dan infrastruktur (-4,45%), dengan 656 saham turun, 100 saham naik, dan 43 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp19,41 triliun. Saham MDKA, AMMN, dan MBMA menjadi top losers LQ45, sementara saham BBCA turun 6,86%. Sebagai langkah stabilisasi, BEI menyesuaikan batas auto rejection bawah (ARB) menjadi 7% mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026. BEI juga mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG setelah bertemu MSCI, dan BCA melanjutkan buyback saham pada 19–21 Oktober. Dengan penurunan hari ini, IHSG telah melemah tajam 43,14% sejak awal tahun.
Point of Interest:
• Aksi “No Kings” di AS pada 17 Oktober mencerminkan peningkatan mobilisasi dan polarisasi politik menjelang midterm election. Aksi nasional bertajuk “No Kings: Vote Early” kembali digelar di berbagai kota AS sebagai rangkaian keempat gerakan tersebut, dengan fokus mendorong masyarakat memberikan suara lebih awal menjelang pemilu sela 3 November. Demonstran turut menyuarakan penolakan terhadap kebijakan imigrasi pemerintahan Trump serta kekhawatiran terkait hak pilih dan integritas pemilu. Aksi tersebut mencerminkan meningkatnya mobilisasi dan polarisasi politik menjelang midterm, di tengah ketatnya persaingan memperebutkan kontrol Kongres.
• Demonstrasi biaya hidup di Prancis pada 17–18 Oktober berkembang menjadi kerusuhan. Prancis menghadapi salah satu gelombang kerusuhan terburuk dalam beberapa tahun setelah aksi demonstrasi berkembang menjadi penjarahan dan bentrokan di sejumlah kota. Sekitar 2.400 orang ditangkap dan hampir 1.000 aparat terluka, sementara Presiden Emmanuel Macron meminta pemerintah menyiapkan langkah konkret untuk merespons tekanan biaya hidup dan memburuknya layanan publik. Kondisi tersebut meningkatkan ketidakpastian yang menekan aset Prancis, dengan yield surat utang pemerintah (OAT) 10 tahun meningkat dan EUR melemah, menunjukkan kenaikan risk premium politik dan fiskal di kawasan Eropa.
• PDB China Q3-2026 menunjukkan pemulihan yang lebih kuat dari ekspektasi, dengan pertumbuhan sebesar 4,5% YoY (consensus 4,4%; Q2-2026 4,3%) yang didukung oleh ekspor dan aktivitas industri berbasis AI. Pertumbuhan ekonomi China 9M-2026 mencapai 4,6%, atau masih dalam rentang target tahunan 4,5%–5%. Penjualan ritel September tumbuh 1,1% YoY dan produksi industri 5,5% YoY, keduanya melampaui ekspektasi, sehingga memperkuat optimisme terhadap prospek pertumbuhan China. Namun, sektor properti masih menjadi titik lemah, tercermin dari kontraksi investasi properti sebesar 20,6% YTD, yg membatasi pemulihan permintaan domestik secara lebih luas.
• Survey Reuters terhadap 29 ekonom menunjukkan slim majority memperkirakan BI akan hold suku bunga acuan pada RDG bulan Oktober 2026. 15 ekonom memperkirakan BI mempertahankan suku bunga 5,75%, sementara sisanya memperkirakan kenaikan. Selain itu, 15 dari 22 ekonom yang memberikan proyeksi akhir tahun memperkirakan BI-Rate mencapai sekurang-kurangnya 6,00% pada akhir 2026.
• BEI mengubah batas auto rejection bawah. BEI menyesuaikan batas ARB saham menjadi 7% mulai 19 Oktober hingga 31 Desember 2026. Langkah ini ditujukan untuk meredam volatilitas di tengah tekanan jual akibat sentimen MSCI.
• BEI bertemu MSCI dan mengeluarkan saham HSC dari perhitungan IHSG. Setelah bertemu MSCI, BEI mengeluarkan saham-saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG. Jumlah saham HSC tercatat telah melampaui 80 emiten. Menurut BEI, kekhawatiran MSCI berkaitan dengan penegakan aturan dan tindak lanjut atas saham-saham HSC tersebut. Keputusan final MSCI dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027, dengan masa penerimaan masukan pelaku pasar hingga 30 April 2027.
• Goldman Sachs memperkirakan penghapusan penuh Indonesia dari indeks MSCI dapat memicu arus keluar pasif sekitar $5,6 miliar, setara dengan 18 hari rata-rata volume perdagangan saham konstituen MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI). Risiko arus keluar tambahan sebesar $2,7 miliar dapat terjadi apabila FTSE Russell mengambil langkah serupa.
• DBS Group menilai dampak proposal MSCI berisiko meluas dari pasar saham ke pasar SBN apabila tekanan jual investor asing meningkat, sehingga memperketat kondisi pembiayaan domestik. Dalam skenario koreksi pasar yang lebih dalam, yield SBN 10 tahun berpotensi bergerak menuju 7,5%, sementara BI dapat terdorong menaikkan suku bunga tambahan sebesar 50–100 bps untuk menjaga stabilitas pasar.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP