Financial Market Update
IDR10 : 7,17% - 7,19% (cl: 7,18%) IDR5: 6,99% - 7,01% (cl: 6,99%) UST10: 5,18% - 5,23% (last: 5,19%)
IDR : 17.895 - 17.945 (cl: 17.896) DXY : 102,26 - 102,57 (last: 102,31) JCI : 5.828,68 - 5.930,08 (cl: 5.925,98)
Yield SUN FR0109 (5yr) : -2bps to 6,99% FR0108 (10yr) : -1bps to 7,18% FR0106 (15yr) : 0bps to 7,20% FR0107 (20yr) : +2bps to 7,22%
Market Recap:
• Pasar SBN ditutup bervariasi, dengan harga SBN tenor pendek-menengah menguat terbatas, sementara tenor panjang melemah tipis. Minat pada tenor pendek-menengah masih terjaga seiring penguatan tipis Rupiah serta pergerakan yield UST yang cenderung melandai meskipun masih bertahan di sekitar level tertingginya. Namun, investor tetap enggan menambah durasi di tengah pelaksanaan lelang SUN, antisipasi menjelang rilis data inflasi AS besok (14’Okt), serta harga minyak yang masih bertahan di atas $100/barel, sehingga cenderung menekan harga SBN tenor panjang.
• Rupiah ditutup menguat tipis 0,04% ke level 17.896, dari sebelumnya 17.903, ditopang intervensi Bank Indonesia dan penguatan pasar SBN. Rupiah sempat tertekan hingga 17.942 pada sesi awal perdagangan di tengah sentimen risk-off global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan aksi jual saham teknologi di bursa Asia. Namun, Rupiah berhasil memangkas pelemahan, sejalan dengan DXY yang bergerak relatif stabil di kisaran 102,31, serta ditopang operasi moneter BI melalui FX Swap jual USD/IDR sebesar $540 juta, dan hasil lelang SUN yang cukup konstruktif bagi pasar SBN. Pelaku pasar masih bersikap hati-hati menjelang rilis inflasi AS, sementara dari domestik perhatian tertuju pada perkembangan menuju hasil peninjauan MSCI pada November 2026.
• IHSG ditutup melemah tipis 0,17% ke level 5.925,98, melanjutkan pelemahan tajam pada hari sebelumnya. Tekanan tersebut sejalan dengan pelemahan bursa Asia, terutama Kospi Korea Selatan (-6%) dan Nikkei (-2,6%), akibat aksi jual saham teknologi dan semikonduktor menyusul pelemahan indeks semikonduktor AS. IHSG berhasil memangkas pelemahan menjelang penutupan, tetapi masih bertahan di bawah level psikologis 6.000. Dari sisi domestik, investor asing masih cenderung bersikap wait and see menjelang pengumuman hasil peninjauan MSCI pada November 2026 terkait risiko penurunan klasifikasi Indonesia ke kategori frontier market.
Point of Interest:
• IMF dalam World Economic Outlook Oktober 2026 memperingatkan risiko di pasar obligasi global. IMF menaikkan proyeksi pertumbuhan global 2026 menjadi 3,1% dari 3,0%, dan mempertahankan proyeksi 2027 di 3,4%. Namun, inflasi global diperkirakan naik ke 4,7% pada 2026 karena tingginya harga energi dan investasi AI yang masif, sebelum turun ke 4,1% pada 2027. IMF menilai tingginya utang pemerintah global dan risiko inflasi meningkatkan risiko lonjakan yield obligasi secara “disorderly”. IMF memperkirakan pada skenario downside, harga minyak berpotensi ke $130/barel hingga awal 2027, yang dapat memangkas pertumbuhan global sekaligus menaikkan inflasi secara signifikan. Bagi emerging market termasuk Indonesia, kondisi ini berpotensi menjaga biaya pembiayaan tetap tinggi dan meningkatkan kerentanan thd pembalikan arus modal.
• Konflik Timur Tengah kembali memanas. Eskalasi konflik Saudi–Houthi kembali meningkatkan risiko terhadap pasokan energi global, di tengah ketidakpastian implementasi tambahan pasokan diesel Rusia. IMF dalam WEO Oktober mengasumsikan pembukaan kembali Selat Hormuz baru dimulai pada Maret 2027 dan kondisi pelayaran kembali mendekati pra-perang pada Oktober 2027. Eskalasi lebih lanjut berisiko memperpanjang gangguan pasokan dan menjaga harga energi serta inflasi global tetap tinggi.
• Pasar menanti rilis CPI AS September sebagai sinyal lanjutan bagi arah kebijakan suku bunga The Fed hingga akhir tahun. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi kembali meningkatkan ekspektasi pengetatan dan menjaga yield global tetap tinggi, sementara data yang lebih moderat dapat meredakan tekanan. Pasar juga mencermati dimulainya musim laporan keuangan bank-bank besar AS untuk menilai dampak tingginya suku bunga dan yield UST terhadap aktivitas kredit, pendanaan, dan pasar modal.
• Lelang SUN 13 Oktober 2026 mencatat total penawaran masuk sebesar Rp64,86 triliun atau 2,16 kali target indikatif Rp30 triliun, mencerminkan permintaan investor yang relatif solid. Penawaran dimenangkan tercatat sebesar Rp35 triliun, melampaui target indikatif, dengan permintaan terbesar pada seri FR0110 (jatuh tempo 2032) sebesar Rp21,15 triliun dan nominal dimenangkan Rp10,90 triliun. Seri FR0110 mencatat weighted average yield (WAY) sebesar 7,07%, sementara FR0111 (2037) sebesar 7,25%, dan FR0112 (2042) sebesar 7,27%. Permintaan investor terlihat lebih terkonsentrasi pada tenor pendek hingga menengah, sedangkan seri bertenor panjang mencatat bid-to-cover ratio yang lebih rendah, mengindikasikan sikap investor yang masih selektif terhadap risiko durasi di tengah ketidakpastian pasar.
• Pasar mencermati dampak implementasi PMK 67/2026 tentang pengelolaan kelebihan kas pemerintah, khususnya pasal 11 yang dinilai membatasi penempatan kelebihan kas pemerintah hanya pada bank umum dan SBN, serta meniadakan opsi di Bank Indonesia. Kebijakan ini menahan dana SAL sekitar Rp299 triliun di bank BUMN hingga Juli 2027 untuk memperkuat bantalan likuiditas dan mendorong kredit di tengah ketatnya persaingan DPK. Meski menjadi sentimen positif jangka pendek bagi likuiditas, pelaku pasar tetap mengantisipasi risiko tekanan terhadap Net Interest Margin (NIM) perbankan seiring rencana penarikan dana tersebut secara bertahap.
• Pasar domestik mengantisipasi kenaikan inflasi akhir tahun akibat faktor musiman, tingginya harga energi global, dan imported inflation. Pelaku pasar kini bersikap wait-and-see menantikan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20–21 Oktober 2026. Di tengah sikap hawkish The Fed, ruang BI untuk melonggarkan kebijakan dinilai sangat terbatas. Fokus investor tertuju pada apakah BI akan tetap mempertahankan BI Rate di level 5,75% atau kembali menaikkannya guna memitigasi risiko inflasi dan menjaga stabilitas nilai tukar.
• DJP memberikan pengurangan hingga penghapusan sanksi administratif pajak melalui KEP-239/PJ/2026 untuk mendorong kepatuhan dan percepatan penyelesaian kewajiban pajak. Pokok pajak tetap wajib dilunasi, sehingga kebijakan ini berpotensi mendukung penerimaan negara meski dampaknya terhadap posisi fiskal belum dapat diukur.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP*