Financial Market Update
IDR10 : 7,15% - 7,17% (cl: 7,17%)
IDR5: 7,00% - 7,04% (cl: 7,03%)
UST10: 5,29% - 5,32% (last: 5,32%)
IDR : 17.862 - 17.888 (cl: 17.882)
DXY : 101,90 - 102,32 (last: 102,30)
JCI : 6.139,38 - 6.212,29 (cl: 6.146,72)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : -1bps to 7,03%
FR0108 (10yr) : -1bps to 7,17%
FR0106 (15yr) : 0bps to 7,20%
FR0107 (20yr) : -1bps to 7,19%
Market Recap:
• Harga SBN seri benchmark bergerak menguat dalam rentang sempit pada perdagangan hari ini, dengan perubahan yield 0–1 bps. Minimnya pergerakan terutama karena pelaku pasar memilih wait-and-see sambil menunggu kejelasan arah kebijakan suku bunga global. Yield UST yang bertahan tinggi di atas level 5,30% sepanjang sesi perdagangan Asia cenderung membatasi appetite investor untuk menambah posisi di SBN, terutama pada tenor panjang.
• Rupiah ditutup menguat sebesar 0,10% ke level 17.882 per dolar AS, dari sebelumnya 17.900. Penguatan terbatas pada Rupiah terjadi di tengah penguatan DXY dan kenaikan yield UST. Hal ini terutama disebabkan sentimen domestik yang cukup konstruktif pasca rilis data cadev September yang relatif resilient di level $146,3 miliar (Agustus: $146,5 miliar). Penurunan cadev yang relatif kecil nampaknya memberi keyakinan pelaku pasar bahwa bahwa BI masih memiliki ruang yang cukup untuk menjaga volatilitas Rupiah jika tekanan eksternal kembali meningkat.
• IHSG ditutup melemah 0,75% ke level 6.146,72, turun 46,20 poin dari penutupan sebelumnya. Indeks sempat dibuka menguat di 6.210,42 dan mencapai level tertinggi harian 6.214,76, namun tekanan jual menyebabkan indeks berbalik turun. Pelemahan terutama datang dari sektor energi yang turun 1,56%, diikuti sektor konsumen non-primer (-1,21%), dan barang baku (-1,15%). Secara umum, pergerakan IHSG cenderung sejalan dengan bursa saham regional seiring memburuknya risk appetite di Asia akibat kombinasi kenaikan kembali harga minyak, tingginya yield obligasi global, dan sikap wait-and-see menjelang FOMC Minutes.
Point of Interest:
• Yield UST tenor 10 tahun kembali menembus 5,30%, tertinggi sejak 2002. Lonjakan ini mencerminkan kekhawatiran pasar atas kondisi fiskal AS dan besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah AS, yang mendorong investor meminta imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi AS. Tingginya yield UST mempersempit selisih imbal hasil dengan SBN sehingga daya tarik SBN berkurang dan ruang penurunan yield domestik terbatas. Kondisi ini juga membuat dolar AS tetap kuat dan menahan penguatan rupiah.
• Harga minyak Brent kembali bergerak di atas $100/barel, didorong risiko gangguan pasokan akibat ketegangan di Timur Tengah, serangan terhadap infrastruktur/transportasi energi, serta ancaman badai terhadap produksi minyak di Gulf of Mexico.
• FTSE Russell mempertahankan status Indonesia sebagai Secondary Emerging Market dan tidak memasukkan Indonesia ke dalam Watch List. FTSE mengakui sejumlah reformasi yang telah dilakukan otoritas Indonesia, termasuk peningkatan keterbukaan pemegang saham, klasifikasi investor yang lebih granular, persyaratan minimum free float, dan penguatan pengawasan. Namun, FTSE menegaskan tetap memantau ketat efektivitas implementasi reformasi integritas pasar modal, termasuk peningkatan transparansi dan pengawasan pasar. Pembaruan terkait saham Indonesia akan diberikan menjelang peninjauan indeks Desember 2026, dengan mempertimbangkan kemajuan reformasi dan masukan dari pelaku pasar global.
• Cadangan devisa Indonesia akhir September 2026 turun tipis $0,2 miliar menjadi $146,3 miliar (Agustus: $146,5 miliar). Penurunan disebabkan pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI di tengah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Sebagian penurunan ini tertahan oleh penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. Cadev tsb setara 5,3 bulan impor, atau 5,2 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
• Pertumbuhan uang primer (M0) adjusted melambat menjadi 9,3% YoY pada September 2026 (Agustus: 16,3%), dengan posisi mencapai Rp2.353,1 triliun. Perlambatan terutama terlihat pada giro bank umum di BI adjusted yang tumbuh 3,9% YoY dari 19,0% sebelumnya, sementara uang kartal tetap tumbuh 11,8%. Meski demikian, perkembangan tersebut belum serta-merta menunjukkan pengetatan likuiditas perbankan, mengingat saldo giro bank aktual di BI masih meningkat secara bulanan dan kebijakan makroprudensial BI tetap akomodatif melalui pemberian insentif KLM.
• Mahkamah Konstitusi tidak menerima gugatan terhadap keabsahan syarat pendidikan Wapres Gibran yang dinilai pelaku pasar cenderung mengurangi immediate political tail risk, meskipun isu tsb belum sepenuhnya selesai. MK menyatakan para pemohon tidak memiliki kedudukan hukum sehingga permohonan untuk mendiskualifikasi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak dapat diterima, sehingga status Gibran sebagai Wapres tidak berubah.
• UU Pelindungan Ketenagakerjaan baru menjadi perhatian korporasi karena meningkatkan perlindungan pekerja sekaligus berpotensi menaikkan biaya tenaga kerja. Setelah disahkan DPR pada 6 Oktober, detail UU baru tsb terus menjadi fokus pada perdagangan 7 Oktober. Aturannya antara lain memperkuat pembayaran pesangon, membentuk mekanisme dana cadangan pesangon, memperketat beberapa ketentuan PHK, serta mengubah dasar pengupahan dengan memasukkan kembali aspek Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Pemerintah menyatakan formula baru tidak serta-merta berlaku untuk UMP 2027 karena terdapat masa transisi, sehingga aturan yang berlaku saat ini kemungkinan masih digunakan tahun depan.
• Danantara Investment Management menginvestasikan $250 juta (sekitar Rp4,47 triliun) melalui saham preferen konvertibel di HighPeak Energy, perusahaan migas yang memiliki aset di Permian Basin, AS. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan Pertamina akan ikut ambil bagian dalam investasi strategis tsb selama transaksi bernilai ekonomis dan memperkuat ketahanan energi nasional.
• Lelang SBSN kemarin mencatat total penawaran Rp32,61 triliun, dan pemerintah memenangkan Rp10 triliun sesuai target indikatif, dengan rasio bid-to-cover sekitar 3,3 kali. Permintaan terbesar berada pada sukuk tenor pendek yang mencerminkan sikap hati-hati investor di tengah ketidakpastian arah yield global. Namun demikian, tingginya total penawaran masuk menunjukkan minat terhadap surat berharga negara masih cukup kuat yang kemungkinan besar ditopang oleh investor domestik.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP