Financial Market Update

IDR10 : 7,16% - 7,20% (cl: 7,19%)
IDR5: 7,00% - 7,03% (cl: 7,02%)
UST10: 5,25% - 5,29% (last: 5,27%)

IDR : 17.883 - 17.933 (cl: 17.907)
DXY : 101,86 - 102,52 (last: 102,24)
JCI : 6.023,12 - 6.118,86 (cl: 6.118,86)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +1bps to 7,02%
FR0108 (10yr) : +5bps to 7,19%
FR0106 (15yr) : +1bps to 7,20%
FR0107 (20yr) : 0bps to 7,20%

Market Recap:

• Harga SBN seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 0-5 bps. Yield FR0109 (5 tahun) naik 1 bps ke level 7,02%, FR0108 (10 tahun) naik 5 bps ke level 7,19%, FR0106 (15 tahun) naik 1 bps ke level 7,20%, sedangkan FR0107 (20 tahun) stagnan di level 7,20%. Tekanan terbesar terjadi pada tenor 10 tahun, mencerminkan aksi jual investor pada seri yang paling likuid di tengah sikap hati-hati pasar. Kenaikan yield SBN terutama berasal dari faktor eksternal, antara lain tingginya yield UST yang mempersempit selisih imbal hasil SBN terhadap obligasi AS, di tengah premi risiko geopolitik di Timur Tengah yang masih membatasi minat investor terhadap obligasi negara berkembang, serta sikap hati-hati pelaku pasar menantikan rilis risalah FOMC September pada 7 Oktober 2026 untuk memperoleh kejelasan arah kebijakan The Fed. Sementara dari domestik, data inflasi September yang diumumkan meningkat pada pekan lalu turut menjadi sentimen yang menekan harga SBN.

• Rupiah ditutup melemah 0,17% ke 17.906 dari sebelumnya 17.875, dipicu oleh kenaikan harga minyak, peningkatan yield UST, serta penguatan indeks dolar AS. Penguatan indeks USD (DXY) sebesar 0,25% ke level 102,24 (bertahan di sekitar level tertingginya dalam 17 bulan terakhir), terutama disebabkan oleh eskalasi militer di Yaman yang turut meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan mendorong permintaan terhadap safe haven asset. Tekanan juga dirasakan oleh sejumlah mata uang Asia, dengan THB melemah paling dalam, disusul KRW yang turun 0,3%. Ke depan, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, sambil menantikan rilis risalah FOMC September pada 7 Oktober 2026.

• IHSG ditutup menguat 81,97 poin (+1,36%) ke level 6.118,86. IHSG sempat berfluktuasi dan melemah pada sesi pagi hingga menyentuh level terendah harian di 6.023,12, sebelum berbalik naik secara bertahap dan menguat signifikan pada sesi sore. Penguatan IHSG sejalan dengan tren positif bursa Asia yang dipicu oleh ekspektasi sikap dovish The Fed pada pertemuan Oktober 2026, setelah data tenaga kerja AS yang melambat sehingga mengurangi tekanan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut. Hampir seluruh sektor menguat, dipimpin sektor properti sebesar 2,31%, barang baku 2,07%, dan infrastruktur 1,99%, sedangkan sektor teknologi menjadi satu-satunya yang melemah sebesar 1,33%. Saham berkapitalisasi besar yang menopang indeks antara lain BRPT yang naik 4,58%, SCMA naik 4,07%, dan PGEO naik 3,72%.

Point of Interest:

• Negara G7 melepas 100 juta barel cadangan minyak. Para pemimpin negara G7 menyepakati pelepasan cadangan strategis minyak mentah dan solar hingga 100 juta barel dalam kurun waktu empat bulan. Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan virtual pada Jumat (2/10) di tengah lonjakan harga energi serta kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Selain itu, G7 berkomitmen untuk tidak menerapkan pembatasan ekspor energi setelah mendapat tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Merespons hal tersebut, harga minyak Brent turun 0,65% ke level $101,59 per barel, sedangkan WTI melemah 1,03% ke level $90,12 per barel. Namu demikian, harga minyak masih berada jauh di atas level sebelum konflik.

• Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mereda setelah data ketenagakerjaan AS dirilis lebih lemah dibandingkan ekspektasi. Perekonomian AS hanya menambah 29 ribu lapangan kerja pada September, jauh di bawah perkiraan sebesar 84 ribu, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%. Pelemahan tersebut mengubah ekspektasi pasar secara signifikan, dengan peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada Oktober kini mencapai 52,9%, berbalik dari ekspektasi kenaikan sebesar 54–55% pada sepekan sebelumnya. Pernyataan Presiden The Fed New York, John Williams, bahwa tidak ada urgensi untuk menaikkan suku bunga secara tergesa-gesa turut mendukung ekspektasi hold The Fed pada FOMC Oktober.

• Skema insentif program Makan Bergizi Gratis (MBG) mengalami penyesuaian per 5 Oktober 2026, dimana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menerima pembayaran sebesar Rp2.000 per porsi berdasarkan skema insentif baru. Perubahan tsb menjadi perhatian pelaku pasar karena dinilai sebagai upaya pemerintah untuk menjaga efisiensi anggaran, mengingat program MBG yang masih menjadi salah satu sorotan utama investor terhadap risiko pelebaran defisit fiskal.

• Pemerintah menyalurkan stimulus pada Q4-2026 untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tingginya harga pangan. Pemerintah memperkuat penyaluran Program Keluarga Harapan (PKH) Tahap III, Bantuan Pangan Beras sebanyak 10 kg per bulan pada periode Oktober–Desember 2026, serta percepatan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) beras medium melalui Perum Bulog. Kebijakan tersebut diharapkan dapat meredam tekanan inflasi pangan sekaligus menopang konsumsi rumah tangga yang merupakan penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP