Financial Market Update
IDR10 : 7,04% - 7,13% (cl: 7,08%) IDR5 : 6,92% - 6,98% (cl: 6,94%) UST10 : 5,15% - 5,20% (last: 5,18%)
IDR : 17.893 - 17.937 (cl: 17.893) DXY : 100,94 - 101,31 (last: 100,97) JCI : 6.231,83 - 6.328,41 (cl: 6.241,89)
Yield SUN FR0109 (5yr) : +2bps to 6,94% FR0108 (10yr) : -2bps to 7,08% FR0106 (15yr) : +1bps to 7,15% FR0107 (20yr) : -3bps to 7,15%
Market Recap:
• Harga SBN seri benchmark bergerak mixed dengan kecenderungan melemah pada kisaran pergerakan yield sebesar 1-3 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 2 bps ke level 7,08% (ytd: +103 bps). Tekanan dari kenaikan yield UST, aksi jual pada obligasi global, serta kenaikan harga minyak di atas level $105/barel masih menjadi sentimen utama yang mewarnai pergerakan SBN hari ini. Pada awal perdagangan Asia, yield UST 10 tahun melonjak ke 5,20% dan UST 30 tahun ke level tertingginya sejak tahun 2004 sekitar 5,48%.
• Rupiah ditutup menguat tipis 0,04% ke 17.893 dari sebelumnya 17.901. Secara intraday, Rupiah dibuka melemah dan terus tertekan hingga ke level tertinggi harian 17.937. Tekanan terutama berasal dari yield UST yang meningkat, penguatan USD, ekspektasi Fed yang tetap hawkish, serta harga minyak Brent yang masih tinggi di kisaran $105–$106/barel, yang meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi, external balance, dan ruang fiskal Indonesia. Namun demikian, mulai meredanya yield UST 10 tahun dari level tertinggi 5,20% ke sekitar 5,15% pada sore hari berhasil mengurangi tekanan hingga Rupiah berbalik dan ditutup menguat tipis.
• IHSG ditutup melemah 0,90% ke level 6.241,89, terutama tertekan oleh sentimen risk-off global seiring yield UST 10 tahun yang melonjak ke kisaran 5,2% dan tingginya harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran terhadap prospek suku bunga global. Tekanan terhadap IHSG turut disebabkan oleh berlanjutnya aksi jual investor asing dan koreksi saham berkapitalisasi besar, terutama BYAN, dengan pelemahan yang meluas pada mayoritas sektor saham.
Point of Interest:
• Pernyataan hawkish pejabat The Fed membuat yield UST semakin meningkat. Presiden Fed Philadelphia Anna Paulson menyampaikan bahwa pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut secara terbatas masih dapat diperlukan untuk memastikan inflasi kembali ke target 2.00%, mengingat tekanan inflasi yang mendasari masih tinggi dan belum menunjukkan banyak perbaikan. Pandangan serupa disampaikan Presiden Fed New York John Williams dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack, yang menilai masih diperlukan upaya lebih lanjut untuk mengatasi risiko inflasi yang persisten.
• Harga minyak Brent kembali mengalami kenaikan ke sekitar $106/barel. AS dan Iran tengah menjajaki kesepakatan bertahap yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz oleh Iran dan pencabutan blokade pelabuhan Iran oleh AS, yang dimediasi oleh Qatar. Negosiasi ini masih menghadapi perbedaan terkait blokade, pencairan aset Iran, serta akses pelayaran di Hormuz. Kesepakatan yang telah beberapa kali gagal ini membuat pelaku pasar masih cenderung waspada dan menantikan perkembangan lebih lanjut.
• Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping belum menghasilkan terobosan signifikan pada isu perdagangan dan teknologi, meski kedua negara mempertahankan de-eskalasi dengan memperpanjang gencatan perdagangan selama dua bulan. Kesepakatan tersebut meredakan risiko eskalasi tarif dalam jangka pendek, namun ketidakpastian masih berlanjut karena isu tarif, pasokan rare earth, pembatasan teknologi, dan isu Taiwan belum mencapai penyelesaian substantif.
• Lelang SRBI mendapatkan permintaan solid dari pelaku pasar dengan total penawaran masuk sebesar Rp64,11 triliun atau dua kali lipat dibandingkan lelang sebelumnya Rp30,52 triliun (11’Sep). Minat terbesar investor pada tenor 12 bulan dengan total penawaran masuk Rp51,19 triliun. BI menyerap Rp15 triliun dengan rata-rata tertimbang yield SRBI mengalami penurunan di seluruh tenor, dimana yield SRBI 6, 9, dan 12 bulan masing-masing 6,76%, 6,79%, dan 6,86% (prev.6,91%; 6,95%; 7,02%). Bloomberg menyoroti bahwa berkurangnya supply SRBI membuat SBN tenor sama menjadi lebih kompetitif dan diminati pelaku pasar sehingga yield tenor pendek cenderung turun.
• BI dan Banco Central de Timor-Leste (BCTL) memperkuat kerja sama sistem pembayaran dan inovasi keuangan digital. BI-BCTL menandatangani Nota Kesepahaman pada 25 September 2026 yang mencakup kerja sama sistem pembayaran dan setelmen, pertukaran informasi, serta pengembangan konektivitas pembayaran Indonesia–Timor-Leste, termasuk penjajakan implementasi QRIS Antarnegara.
• BI mencatat M2 Agustus 2026 sebesar Rp10.448,1 triliun (+8,2% YoY vs Juli: 8,3%). Di sisi lain, penyaluran kredit dalam statistik M2 meningkat dari 13,0% menjadi 13,3% YoY, menunjukkan intermediasi perbankan tetap menguat. Data terpisah BI juga selaras dan menunjukkan kredit perbankan Agustus tumbuh 13,65% YoY (Juli: 13,58%), ditopang oleh kebijakan makroprudensial akomodatif dan pertumbuhan DPK yang tetap solid.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP