Financial Market Update
IDR10 : 7,05% - 7,14% (cl: 7,10%) IDR5 : 6,83% - 6,92% (cl: 6,92%) UST10 : 5,09% - 5,22% (last: 5,20%)
IDR : 17.846 - 17.910 (cl: 17.901) DXY : 101,00 - 101,40 (last: 101,29) JCI : 6.287,46 - 6.368,57 (cl: 6.298,61)
Yield SUN FR0109 (5yr) : +9bps to 6,92% FR0108 (10yr) : +2bps to 7,10% FR0106 (15yr) : +4bps to 7,14% FR0107 (20yr) : +2bps to 7,18%
Market Recap:
• Harga SBN seri benchmark bergerak melemah dengan kenaikan yield sebesar 1-9 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 2 bps ke level 7,10% (ytd: +105 bps). Pelemahan SBN pada tenor menengah terutama dipengaruhi oleh kenaikan yield UST 10 tahun hingga di atas 5,1% yang dipicu oleh meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed serta sentimen dari lelang UST tenor 5 tahun yang kurang diminati pelaku pasar sehingga memicu aksi jual lanjutan di pasar UST. Pelemahan Rupiah turut memberikan tekanan dan berkontribusi terhadap pelemahan SBN.
• Rupiah ditutup melemah 0,57% ke 17.901 dari sebelumnya 17.800, terutama akibat tekanan dari penguatan USD dan lonjakan yield UST 10 tahun ke atas 5,1% seiring data aktivitas ekonomi AS yang solid dan kembali meningkatkan ekspektasi pengetatan lanjutan The Fed. Tekanan lebih lanjut turut disebabkan oleh kenaikan kembali harga minyak Brent di atas $100/barel akibat ketidakpastian geopolitik Timur Tengah, di tengah meningkatnya kebutuhan valas domestik menjelang akhir Q3-2026.
• IHSG ditutup melemah 1,20% ke level 6.298,61, terutama tertekan sentimen risk-off global seiring lonjakan yield UST 10 tahun ke atas 5,1%, meningkatnya ekspektasi pengetatan lanjutan The Fed, serta kenaikan harga minyak akibat ketegangan geopolitik AS–Iran dan pelemahan Rupiah. Koreksi tajam pada saham perbankan big caps dan saham konglomerasi menjadi kontributor utama pelemahan IHSG pada 24 September.
Point of Interest:
• Data flash Composite PMI AS September naik menjadi 58,4 (survey: 55,3) atau tertinggi sejak Juli 2021, menunjukkan aktivitas ekonomi AS masih sangat kuat. Data tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi belum mereda dan memperkuat ekspektasi bahwa The Fed masih perlu menaikkan suku bunga lagi.
• Lelang UST tenor 5 tahun menunjukkan permintaan yang lemah sehingga memicu aksi jual obligasi. Yield UST 10Y melonjak ke sekitar 5,11%–5,15%, tertinggi sejak 2007, sementara DXY bertahan di sekitar 101,1, tertinggi dalam sekitar dua bulan.
• Harga minyak Brent kembali naik menembus level $100/barel, setelah ketidakpastian negosiasi AS–Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk impor energi dan berpotensi memperlebar current account deficit.
• Pelaku pasar masih mencermati implikasi kebijakan BI setelah BI-Rate dipertahankan di 5,75% dan BI memperkuat insentif swap serta DNDF untuk meningkatkan daya tarik aliran modal asing dan menjaga stabilitas Rupiah. Ekonom Citi menilai pernyataan BI mengenai pengelolaan struktur suku bunga operasi moneter yang selaras dengan BI-Rate mengindikasikan jeda pemangkasan yield SRBI. Sebelumnya Citi memperkirakan BI akan menurunkan lagi rate SRBI sekitar 25 bps.
• Banggar DPR dan pemerintah menyepakati postur RAPBN 2027 dengan defisit 2,40% PDB. Pendapatan negara ditetapkan sebesar Rp3.435,1 triliun dan belanja negara sekitar Rp4.106,3 triliun, masing-masing naik Rp9,1 triliun dari usulan awal pemerintah dengan target defisit tetap terjaga. Alokasi subsidi energi juga diturunkan menjadi Rp261,5 triliun dari Rp272,9 triliun. Kesepakatan tersebut akan dilanjutkan ke Rapat Paripurna DPR pada 29 September untuk persetujuan final.
• Waskita Karya gagal melunasi pokok obligasi yang dijamin pemerintah senilai Rp722 miliar. Obligasi III Waskita Karya Tahun 2021 Seri A yang jatuh tempo 24 September tidak dapat dilunasi, sehingga Bank Mega selaku wali amanat mengajukan klaim kepada Kemenkeu dan PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) berdasarkan skema penjaminan PEN. Namun, Waskita tetap menyediakan sekitar Rp28,9 miliar untuk pembayaran bunga. Peristiwa ini menjadi ujian penting terhadap mekanisme penjaminan pemerintah bagi obligasi BUMN dan meningkatkan perhatian terhadap risiko kredit sektor BUMN serta contingent liabilities pemerintah, meski skema penjaminan tetap memberikan hak regres Pemerintah/PII atas Waskita (hak untuk menagih kembali jaminan yg diberikan Pemerintah kepada issuer).
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP