Financial Market Update

IDR10 : 7,08% - 7,09% (cl: 7,08%)
IDR5 : 6,83% - 6,91% (cl: 6,83%)
UST10 : 4,93% - 5,05% (last: 5,05%)

IDR : 17.787 - 17.852 (cl: 17.800)
DXY : 100,54 - 101,06 (last: 101,00)
JCI : 6.253,74 - 6.380,17 (cl: 6.374,91)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -7bps to 6,83%
FR0108 (10yr) : -1bps to 7,08%
FR0106 (15yr) : -5bps to 7,10%
FR0107 (20yr) : -2bps to 7,16%

Market Recap:

• Harga SBN seri benchmark bergerak menguat dengan penurunan yield sebesar 1-7 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 1 bps ke level 7,08% (ytd: +103 bps). Penguatan yang telah berlangsung sejak awal perdagangan terus berlanjut pasca keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan di 5,75%, yang disertai dengan serangkaian kebijakan insentif non suku bunga yang bertujuan untuk menarik aliran modal asing serta menjaga stabilitas Rupiah. Kebijakan penurunan biaya lindung nilai meningkatkan daya tarik risk-adjusted carry pada obligasi Indonesia berdurasi pendek tanpa memerlukan kenaikan suku bunga, sehingga mendorong penguatan yang lebih signifikan pada SBN tenor pendek tsb.

• Rupiah ditutup menguat 0,40% ke 17.800 dari sebelumnya 17.872, seiring sentimen positif dari koreksi harga minyak ke bawah level $100/barel serta kebijakan BI meningkatkan insentif lindung nilai yang menurunkan biaya efektif bagi investor asing dalam memegang aset berdenominasi Rupiah. Komitmen BI untuk terus melakukan intervensi dalam rangka stabilisasi Rupiah turut berkontribusi terhadap penguatan Rupiah hari ini.

• IHSG ditutup menguat 1,56% ke level 6.374,91, terutama didorong respons positif pasar terhadap keputusan BI mempertahankan BI-Rate di 5,75% serta memperkuat bauran kebijakan stabilisasi Rupiah melalui peningkatan insentif lindung nilai. Penguatan IHSG dikontribusikan oleh kenaikan saham perbankan big caps seiring berkurangnya kekhawatiran terhadap tambahan tekanan cost of fund, kualitas kredit, dan perlambatan intermediasi.

Point of Interest:

• RDG BI mempertahankan BI-Rate di 5,75% sesuai ekspektasi pasar, dengan fokus tetap pada stabilisasi Rupiah. BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility 4,75%, dan Lending Facility 6,50%. Keputusan tsb sejalan dengan ekspektasi 29 dari 32 ekonom berdasarkan poling Reuters dan 33 dari 36 ekonom menurut survey Bloomberg. Kenaikan BI-Rate hingga total 100 bps pada periode Mei–Juni dinilai BI telah memadai untuk merespons ketidakpastian global, dengan ruang kebijakan saat ini juga perlu untuk menjaga momentum pertumbuhan. Gubernur Destry juga menyatakan bahwa BI akan menggunakan kebijakan insentif secara lebih terarah untuk mendukung inflows.

• BI meningkatkan insentif transaksi lindung nilai untuk mendorong arus modal asing dan memperkuat stabilisasi Rupiah. Kebijakan ini mencakup pengurangan premi swap dan peningkatan insentif DNDF untuk underlying investasi portofolio, pinjaman luar negeri perbankan, dan FDI. Langkah tsb diharapkan dapat meningkatkan daya tarik aset Rupiah tanpa perlu menaikkan suku bunga acuan.

• Menkeu Suahasil menyatakan modal asing kembali masuk ke SBN dan SRBI sebesar Rp140,7 triliun. Data capital inflow asing tsb merupakan angka kumulatif sampai dengan 14 September 2026, yang berbalik setelah sebelumnya sempat mengalami periode outflow. Tren tsb menunjukkan bahwa investor global mulai memiliki persepsi yang positif terhadap Indonesia, di tengah turbulensi perekonomian global.

• Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sekitar 6% pada 2027 terutama bersumber dari pertumbuhan investasi sekitar 7% melalui dukungan sinergi pengelolaan APBN, Danantara, dan sektor swasta. Investasi akan diarahkan pada enam sektor prioritas, meliputi infrastruktur digital, hilirisasi SDA, manufaktur bernilai tambah tinggi, industri hulu strategis, ketahanan pangan, serta energi terbarukan.

• Pemerintah tengah menyiapkan desain insentif investasi baru untuk menyesuaikan Global Minimum Tax. Kebijakan tsb dirancang agar Indonesia tetap kompetitif menarik investasi pasca implementasi Global Minimum Tax dengan tetap memenuhi komitmen perpajakan internasional. Menkeu juga menyampaikan bahwa detail skema masih dirancang bersama pelaku usaha.

• Harga minyak kembali turun dan meredakan tekanan inflasi global. Brent melemah ke sekitar $98-$99/barel pada perdagangan Asia, ditopang optimisme terhadap kemajuan diplomasi AS–Iran, normalisasi bertahap arus minyak Timur Tengah, serta pemulihan sebagian jalur ekspor Saudi.

• USD menguat ke level tertinggi sejak akhir Juli seiring berlanjutnya ekspektasi pengetatan The Fed. Sikap pejabat The Fed yang masih hawkish dan ekspektasi pasar terhadap tambahan kenaikan suku bunga mendorong pelemahan mayoritas mata uang Asia, termasuk CNY setelah PBOC menetapkan fixing yang lebih lemah. Namun, Rupiah ditutup menguat dengan kinerja outperform dibandingkan mata uang peers regional, yang ditopang respons positif terhadap keputusan dan bauran kebijakan BI serta koreksi harga minyak.

• OECD merevisi naik proyeksi inflasi G20 seiring tekanan harga energi, dengan inflasi G20 2026 diperkirakan 4,1% dan 2027 3,6%, dibandingkan proyeksi Juni masing-masing 4,0% dan 3,1%. OECD menilai penyesuaian kebijakan moneter lebih lanjut dapat diperlukan apabila tekanan harga meluas, serta memproyeksikan tambahan kenaikan suku bunga di AS dan sejumlah ekonomi utama. Perkembangan ini mendukung narasi higher-for-longer pada suku bunga global, meski tekanan pasar pada hari ini sebagian teredam oleh koreksi harga minyak.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP