Financial Market Update

IDR10 : 7,10% - 7,14% (cl: 7,10%)
IDR5 : 6,97% - 7,00% (cl: 6,97%)
UST10 : 4,92% - 5,01% (last: 5,00%)

IDR : 17.720 - 17.753 (cl: 17.742)
DXY : 100,17 - 100,56 (last: 100,22)
JCI : 6.419,50 - 6.521,02 (cl: 6.441,16)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : 0bps to 6,97%
FR0108 (10yr) : -3bps to 7,10%
FR0106 (15yr) : -4bps to 7,15%
FR0107 (20yr) : -1bps to 7,18%

Market Recap:

Harga SBN seri benchmark bergerak menguat dengan kisaran penurunan yield sebesar 0-4 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 3 bps ke level 7,10% (ytd: +105 bps). Penguatan SBN didukung oleh sentimen positif dari rilis data realisasi APBN KiTa setelah dua bulan hiatus, dan menunjukkan bahwa kondisi fiskal masih cukup sejalan dengan target/outlook defisit 2,85% PDB untuk 2026.

Rupiah ditutup menguat tipis 0,03% ke 17.742 dari sebelumnya 17.743, relatif tertinggal dibandingkan penguatan mata uang peers di kawasan Asia lainnya. Secara intraday, Rupiah cenderung tertekan seiring sentimen negatif dari siklus pengetatan moneter global (ECB, Fed, BoJ telah menaikkan suku bunga acuan). Namun demikian, sentimen positif dari rilis realisasi APBN hingga Agustus membantu menahan pelemahan dan mendorong Rupiah berbalik menguat tipis pada penutupan pasar.

IHSG ditutup melemah 0,33% ke level 6.441,16, terutama dipengaruhi kembali menguatnya narasi pengetatan moneter global setelah kenaikan suku bunga sejumlah bank sentral utama, yang menekan valuasi aset berisiko. Tekanan jual berlangsung cukup luas, dengan 10 dari 11 sektor melemah, dipimpin sektor industri dan properti, sehingga menahan IHSG meskipun bursa Asia secara umum bergerak lebih positif.

Point of Interest:

Realisasi APBN KiTa bulan Agustus 2026: Defisit APBN tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93% PDB, dengan keseimbangan primer masih surplus Rp154 triliun. Pemerintah menilai pelaksanaan APBN masih on track dan mempertahankan outlook defisit fiskal 2026 sebesar 2,85% PDB, tetap di bawah batas 3%. Pendapatan negara mencapai Rp2.055,6 triliun (+25,4% YoY), ditopang oleh penerimaan pajak Rp1.409 triliun (+24,1% YoY) dan mencapai 59,8% target APBN. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp2.295,7 triliun (+17,1% YoY) atau sekitar 59,7% dari pagu.

Subsidi dan bunga utang masih menjadi beban utama APBN. Pembayaran subsidi mencapai Rp331,4 triliun (+52,1% YoY), antara lain akibat tingginya biaya subsidi energi. Sementara pembayaran bunga utang sekitar Rp394,1 triliun, terdiri dari Rp366,4 triliun bunga domestik dan Rp27,8 triliun bunga luar negeri. Dari sisi pembiayaan, penerbitan SBN neto mencapai Rp527,4 triliun (+22,3% YoY) atau setara sekitar 66% target APBN; total pembiayaan utang neto mencapai Rp506 triliun atau 60,8% target. Pemerintah menyatakan pelaksanaannya masih sesuai rencana pembiayaan 2026.

Perhatian investor masih tertuju pada arah kebijakan Menkeu Suahasil Nazara setelah perubahan kepemimpinan ekonomi yang berlangsung beruntun. Bloomberg Intelligence menilai pengangkatan Suahasil membantu mengurangi risiko perubahan kebijakan secara mendadak, meskipun pergantian di Kemenkeu dan BI dalam waktu yang berdekatan tetap membuat investor lebih mencermati agenda ekonomi pemerintah secara keseluruhan. Latar belakang Menkeu Suahasil sebagai teknokrat berpengalaman di bidang fiskal memberi dukungan moderat terhadap kepercayaan pasar, termasuk pada SBN.

Fitch Ratings Indonesia menurunkan peringkat PT Pos Indonesia (Persero) menjadi Restricted Default atau ‘RD(idn)’ dari sebelumnya ‘C(idn)’. Langkah ini didorong oleh kegagalan perusahaan dalam membayar cicilan imbalan ijarah atas sukuknya. Perkembangan tersebut memberikan sinyal kehati-hatian kepada pelaku pasar terhadap persepsi tata kelola BUMN yang cenderung negatif meskipun relatif terbatas dampaknya pada pasar obligasi domestik secara keseluruhan.

Harga minyak Brent turun ke kisaran $103–$105/barel, seiring meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak. Penurunan didorong oleh ekspektasi pemulihan sebagian East-West Pipeline serta peningkatan pengiriman melalui Oman yang sedikit meredakan kekhawatiran pasokan jangka pendek. Namun demikian, penurunan harga minyak lebih lanjut cenderung tertahan setelah Saudi Aramco dilaporkan menghentikan pasokan Oktober kepada sejumlah kilang Eropa.

Bank of Japan (BoJ) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps dari 1,00% menjadi 1,25%, level tertinggi dalam 31 tahun, melalui voting 7–2. Kenaikan yang telah diantisipasi pasar tersebut bertujuan untuk mencegah inflasi melampaui target 2%, seiring tekanan harga produsen mulai tertransmisikan ke harga konsumen. Gubernur Kazuo Ueda menegaskan bahwa fokus kebijakan telah bergeser menuju pencegahan overshooting inflation, namun Ueda tidak memberikan komitmen terhadap kenaikan suku bunga lanjutan dan tetap menekankan data-dependent. Hal ini mengecewakan pelaku pasar yang mengharapkan forward guidance lebih hawkish dari BoJ.

CNY menguat hingga sekitar 6,70/USD yang merupakan level tertinggi lebih dari empat tahun dan turut menopang penguatan mata uang Asia. Penguatan CNY terjadi setelah PBOC menetapkan fixing yang lebih kuat untuk delapan sesi berturut-turut menjelang pertemuan Presiden Trump dan Presiden Xi pekan depan.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP