Financial Market Update
IDR10 : 7,13% - 7,15% (cl: 7,13%) IDR5 : 6,97% - 7,00% (cl: 6,97%) UST10 : 4,95% - 5,01% (last: 4,95%)
IDR : 17.722 - 17.765 (cl: 17.747) DXY : 100,10 - 100,37 (last: 100,25) JCI : 6.418,13 - 6.500,41 (cl: 6.462,43)
Yield SUN FR0109 (5yr) : -1bps to 6,97% FR0108 (10yr) : -1bps to 7,13% FR0106 (15yr) : 0bps to 7,19% FR0107 (20yr) : 0bps to 7,19%
Market Recap:
• Harga SBN seri benchmark bergerak sideways cenderung menguat dengan kisaran penurunan yield sebesar 0-1 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 1 bps ke level 7,13% (ytd: +108 bps). Pada awal sesi, yield sempat naik ke level 7,15% merespons hasil FOMC meeting, namun berbalik turun dan ditutup pada level 7,13%, seiring keputusan FOMC yang sudah diantisipasi oleh pelaku pasar sehingga dampaknya relatif terbatas terhadap kenaikan yield lebih lanjut. Yield UST 10 tahun terlihat berbalik turun sekitar 3-5 bps hingga ke bawah 5,00%. Koreksi harga minyak global turut memberikan dukungan tambahan bagi penguatan SBN meskipun secara terbatas.
• Rupiah ditutup melemah 0,31% ke 17.747 dari sebelumnya 17.693, terutama disebabkan oleh penguatan USD secara global pasca keputusan The Fed menaikkan FFR 25bps ke kisaran 3,75%-4,00% dengan tone yang hawkish.
• IHSG ditutup menguat terbatas 0,40% ke level 6.462,43, seiring keputusan FOMC untuk menaikkan suku bunga acuan yang sudah diantisipasi pelaku pasar (largely priced-in) dan mendorong terjadinya relief buying. Koreksi harga minyak dunia, technical rebound dan pembelian secara selektif oleh investor turut menjadi faktor pendorong penguatan terbatas IHSG. Sejumlah saham big caps tercatat berkontribusi pada penguatan IHSG, antara lain BMRI dan DSSA.
Point of Interest:
• The Fed menaikkan suku bunga acuan FFR sebesar 25 bps ke kisaran 3,75%-4,00% dengan tone hawkish dan sesuai ekspektasi. Keputusan tsb dicapai secara bulat (unanimously) dan merupakan kenaikan pertama dalam tiga tahun terakhir. Konferensi pers Ketua The Fed Warsh dinilai hawkish, mendorong pelaku pasar dengan cepat memperhitungkan potensi siklus hingga empat kali kenaikan suku bunga hingga 2027.
• Dot plot menunjukkan 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan suku bunga tambahan pada 2026, dengan 4 pejabat memperkirakan dua kali kenaikan. Sementara proyeksi inflasi PCE 2026 dinaikkan menjadi 3,7% dari 3,6% dan pencapaian target inflasi 2% dilaporkan mundur hingga 2029.
• Presiden AS Trump tetap mendukung Chairman Warsh meski mengkritik keputusan The Fed. Trump menyatakan masih memiliki kepercayaan terhadap Warsh setelah FOMC menaikkan suku bunga 25 bps, namun mengkritik anggota Fed lainnya yang dinilainya terlalu politis. Trump juga mengungkapkan telah berbicara dengan Warsh sebelum keputusan FOMC. Perkembangan tersebut kembali menyoroti isu independensi Fed, meski respons pasar pada 17 September lebih banyak dipengaruhi oleh arah kebijakan Fed yang hawkish dibandingkan dinamika politik tersebut.
• Harga minyak Brent melanjutkan penurunan pada sesi Asia (17/9) dari sekitar $106/barel ke kisaran $103-$104/barel, setelah Arab Saudi menawarkan tambahan kargo minyak mentah melalui Oman dan muncul ekspektasi East-West Pipeline dapat kembali beroperasi lebih cepat. Penurunan minyak membantu menurunkan inflation risk premium dan ikut mendorong yield obligasi global turun.
• Artikel Bloomberg melaporkan bahwa obligasi EM diperkirakan mengungguli obligasi negara maju, yang akan menjadi faktor positif struktural dalam jangka menengah. Hal ini sejalan dengan profil risk-reward yang lebih menarik dibandingkan negara maju seiring perbedaan dinamika fiskal, serta sejumlah negara EM dinilai memiliki neraca yang lebih kuat, real yield yang lebih tinggi, dan fundamental sovereign yang membaik.
• Bloomberg menyoroti penurunan kepemilikan investor asing sekitar $747 juta setelah jatuh tempo FR0037 dan FR0056 pada 15 September. Namun, penurunan tersebut terutama mencerminkan pelunasan pokok obligasi, bukan aksi jual aktif investor asing, sehingga tidak serta-merta menunjukkan memburuknya sentimen terhadap SBN. Besarnya dana jatuh tempo juga membuka ruang reinvestment flow ke seri SBN lainnya, yang turut menopang permintaan di pasar obligasi domestik.
• Komisi XI DPR membahas kemungkinan evaluasi batas defisit 3% PDB guna memberi ruang fiskal lebih besar untuk mendukung pertumbuhan. LPEM UI mengusulkan penerapan batas defisit berdasarkan rata-rata jangka menengah, sementara CORE Indonesia berpandangan batas 3% masih perlu dipertahankan mengingat penerimaan negara yang relatif terbatas dan meningkatnya beban bunga utang. Pembahasan masih berada pada tahap awal, namun menjadi perhatian bagi pasar SBN mengingat implikasinya terhadap disiplin fiskal dan kebutuhan pembiayaan pemerintah.
• Analis Mirae Asset Sekuritas menilai BI tidak agresif menggunakan SRBI untuk menarik arus modal dan mendukung nilai tukar Rupiah. Hal ini menunjukkan bahwa BI lebih mengandalkan intervensi sebagai alat kebijakan utama dalam menjaga stabilisasi Rupiah. Lebih lanjut, dot plot The Fed yang hawkish akan menjadi risiko utama yang menekan Rupiah.
• Pemerintah akan mulai memungut PPh kepada pedagang online di platform e-commerce pada 1 Oktober 2026 setelah sebelumnya ditunda. Direktorat Jenderal Pajak menyebut sejumlah marketplace, termasuk Shopee dan TikTok Shop, telah siap menerapkan pungutan tersebut.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP