Financial Market Update
IDR10 : 7,14% - 7,16% (cl: 7,14%) IDR5 : 6,97% - 7,04% (cl: 6,98%) UST10 : 4,93% - 5,02% (last: 5,02%)
IDR : 17.687 - 17.738 (cl: 17.693) DXY : 99,54 - 100,35 (last: 100,33) JCI : 6.436,85 - 6.535,46 (cl: 6.436,85)
Yield SUN FR0109 (5yr) : -3bps to 6,98% FR0108 (10yr) : -2bps to 7,14% FR0106 (15yr) : -3bps to 7,19% FR0107 (20yr) : -2bps to 7,19%
Market Recap:
• Harga SBN seri benchmark bergerak menguat terbatas dengan kisaran penurunan yield sebesar 2-3 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 2 bps ke level 7,14% (ytd: +109 bps). Penguatan terjadi setelah SBN sempat tertekan pada awal sesi, seiring meredanya tekanan global akibat koreksi terbatas pada harga minyak dan stabilisasi terbatas pada yield global setelah sebelumnya naik cukup tajam. Dari domestik, permintaan investor yang tetap terjaga serta persepsi terhadap kesinambungan kebijakan fiskal turut menopang pasar SBN menjelang keputusan FOMC.
• Rupiah cenderung stabil -0,01% ke 17.693 dari sebelumnya 17.691, terutama dipengaruhi oleh wait-and-see pelaku pasar menjelang keputusan suku bunga The Fed yang diperkirakan akan menaikkan FFR. Tekanan turut diperkuat oleh yield UST 10 tahun yang berada di atas 5% serta harga minyak yang tetap di atas $100/barel sehingga menopang USD sekaligus menambah kekhawatiran terhadap Rupiah akibat risiko biaya impor energi.
• IHSG ditutup melemah terbatas 0,38% ke level 6.436,85 dan cenderung tertinggal dari penguatan pasar saham regional Asia, di tengah sentimen negatif dari harga minyak yang masih tinggi dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Pelemahan juga diperkuat oleh koreksi saham berkapitalisasi besar, terutama BBCA yang turun 1,2%.
Point of Interest:
• Risiko geopolitik Timur Tengah tetap tinggi seiring berlanjutnya gangguan di Selat Hormuz dan meluasnya konflik ke Yaman–Saudi. Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun menjadi hanya 4 kapal, jauh di bawah rata-rata 10 hari sebanyak 18 kapal, sementara pasukan Houthi yang didukung Iran meningkatkan tekanan terhadap Saudi dengan serangan drone dan rudal di tengah berlanjutnya serangan udara Saudi di Yaman. Gangguan East-West Pipeline Saudi turut mempertahankan risiko pasokan energi global dan menjaga Brent di sekitar $108/barel, meski tambahan ekspor Saudi melalui Oman sedikit meredakan tekanan pasokan.
• Harga minyak Brent turun menuju $108/barel pada perdagangan Asia setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik sekitar 7,1 juta barel, berlawanan dengan ekspektasi pasar berupa penurunan sebesar 1,6 juta barel. Koreksi tersebut sedikit meredakan tekanan inflasi energi, meski harga minyak tetap tinggi seiring berlanjutnya gangguan pasokan di Timur Tengah.
• Congressional Budget Office (CBO) AS memperkirakan biaya perang melawan Iran bagi Departemen Pertahanan telah mencapai sekitar $38,1 miliar hingga 1 Agustus 2026. Jika konflik berlanjut, biaya diperkirakan bertambah sekitar $2–3 miliar per bulan, bergantung pada intensitas pertempuran.
• Penjualan ritel China tumbuh 0,4% YoY pada Agustus 2026, melambat dari 0,6% pada Juli dan di bawah ekspektasi pasar sebesar 0,8%. Pelemahan terutama terlihat pada penjualan kendaraan bermotor yang turun 18,5% YoY, diikuti furnitur -7,9%, bahan bangunan -11,8%, serta perhiasan emas dan perak -17,5%.
• Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu menilai Suahasil Nazara memiliki pengalaman yang memadai untuk menjaga disiplin fiskal dan defisit tetap di bawah batas 3% PDB. Lebih lanjut, dirinya menilai pemerintah membuka ruang peningkatan efisiensi anggaran, antara lain melalui pengurangan anggaran MBG, serta digitalisasi pemerintah, peningkatan governance, serta perbaikan penerimaan. Mari juga berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi 2027 tidak dapat terlalu bergantung pada belanja pemerintah dan perlu investasi swasta yang lebih kuat.
• OJK menetapkan batas maksimal kepemilikan 5% bagi satu pihak dalam skema demutualisasi BEI, sehingga membatasi ruang Danantara maupun institusi negara lain untuk memiliki porsi strategis yang signifikan. Ketentuan ini menjaga struktur kepemilikan tetap tersebar dan mendukung independensi BEI sebagai infrastruktur pasar, sekaligus memberikan kejelasan atas arah reformasi tata kelola bursa.
• BI tengah menjajaki kerja sama QRIS dengan Arab Saudi, India, Vietnam, dan Australia sebagai bagian dari penguatan konektivitas pembayaran lintas negara. Langkah tersebut melanjutkan agenda perluasan penggunaan mata uang lokal dan integrasi sistem pembayaran regional, setelah BI–MAS mengoperasionalkan kerangka LCT Rupiah–Dolar Singapura pada akhir Agustus.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP