Financial Market Update

IDR10 : 7,09% - 7,15% (cl: 7,13%)
IDR5 : 6,90% - 6,97% (cl: 6,97%)
UST10 : 4,93% - 4,98% (last: 4,95%)

IDR : 17.570 - 17.619 (cl: 17.600)
DXY : 99,01 - 99,19 (last: 99,16)
JCI : 6.462,96 - 6.552,79 (cl: 6.541,38)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +7bps to 6,97%
FR0108 (10yr) : +4bps to 7,13%
FR0106 (15yr) : +4bps to 7,18%
FR0107 (20yr) : +4ps to 7,17%

Point of Interest:

Harga SBN seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 4-7 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 4 bps ke level 7,13% (ytd: +109 bps). Tekanan pada SBN sejalan dengan pelemahan obligasi global, dipicu lonjakan harga minyak Brent mendekati $110/barel, PPI AS yang lebih tinggi dari ekspektasi, serta kenaikan suku bunga ECB sebesar 25 bps yang memperkuat narasi pengetatan moneter global. Kombinasi faktor tersebut mendorong kenaikan yield SBN, terutama pada tenor pendek-menengah yang lebih sensitif terhadap risiko inflasi dan ekspektasi suku bunga. Spread yield UST 10 tahun terhadap SBN 10 tahun dilaporkan menyempit ke kisaran 222 bps dibandingkan awal pekan 236 bps akibat kenaikan tajam pada yield UST.

Rupiah ditutup melemah 0,35% ke 17.600 dari sebelumnya 17.539, yang disebabkan oleh kenaikan harga minyak hingga mendekati $110/barel dan meningkatnya ekspektasi kenaikan FFR pada FOMC meeting September pasca rilis data PPI AS menunjukkan detil data yang mendukung narasi hawkish.

IHSG ditutup melemah 0,73% ke level 6.541,38 sejalan dengan sentimen risk-off global dari eskalasi konflik AS-Iran, kenaikan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi, serta meningkatnya probabilitas kenaikan FFR pada FOMC September.

Operasi buyback UST tenor 10-20 tahun oleh Departemen Keuangan AS hanya menyerap sebesar $5,2 miliar dari plafon $6 miliar dibandingkan penawaran masuk lebih dari $10 miliar. Hasil tersebut mengecewakan pelaku pasar yang telah memperkirakan penyerapan buyback sebesar maksimal plafon $6 miliar. TD Securities menilai bahwa hal ini mencerminkan sikap lebih selektif dari Depkeu dalam melaksanakan operasi buyback, sehingga direspon pelaku pasar dengan melakukan aksi jual UST dan menyebabkan yield UST naik sekitar 8-13 bps di sepanjang tenor.

Inflasi produsen (PPI) AS meningkat menjadi 5,4% YoY pada Agustus 2026 (Juli: 4,8% YoY), di atas perkiraan konsensus sebesar 5,3% YoY. Secara bulanan, PPI naik 0,4% MoM pada Agustus, menyusul kenaikan 0,1% MoM pada Juli dan sejalan dengan perkiraan konsensus. Tekanan terutama berasal dari kenaikan harga barang akibat lonjakan harga energi. Sejumlah komponen yang menjadi input PCE (indikator inflasi yang menjadi acuan The Fed) juga mengalami kenaikan, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih persisten. Pasca-rilis, probabilitas kenaikan Fed Funds Rate/FFR 25 bps pada FOMC September meningkat menjadi sekitar 70% dari 62%, yang turut mendorong kenaikan yield UST dan penguatan USD.

ECB menaikkan suku bunga sebesar 25 bps masing-masing menjadi 2,50% deposit facility, 2,65% main refi rate, dan 2,90% marginal lending facility pada pertemuan 10 September 2026. Keputusan tsb merupakan kenaikan kedua kalinya sejak konflik AS-Iran menyebabkan lonjakan harga energi. Langkah tersebut memperkuat ekspektasi pengetatan moneter global yang memberikan tekanan lebih lanjut pada pasar SBN domestik.

Brent melanjutkan kenaikan hingga mendekati $110/barel pada awal perdagangan Asia hari ini, dipicu meningkatnya gangguan pasokan di Timur Tengah setelah Houthi merebut pelabuhan strategis Mocha dan pertempuran di Yaman meningkat, di tengah berlanjutnya serangan AS–Iran terhadap kapal di sekitar Selat Hormuz. Lonjakan harga minyak meningkatkan tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi di Asia, termasuk Indonesia, melalui risiko kenaikan inflasi dan beban impor energi.

Pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi untuk menjaga daya beli di tengah lonjakan harga minyak. Menteri ESDM Bahlil menegaskan bahwa harga BBM subsidi tidak dinaikkan, meskipun harga minyak global telah meningkat ke kisaran $106–108/barel. Bahlil mengatakan rata-rata ICP Januari–September sekitar $85–90/barel, sehingga secara keseluruhan kondisi dinilai masih terkendali. Kebijakan tersebut berpotensi menambah beban subsidi energi, namun pemerintah memprioritaskan perlindungan daya beli masyarakat.

Kementerian Keuangan menegaskan APBN tetap difungsikan sebagai shock absorber untuk meredam dampak kenaikan energi, dengan outlook defisit APBN 2026 sebesar 2,85% PDB dinilai masih menyediakan ruang untuk menyerap tekanan saat ini.

Lelang SRBI mengindikasikan permintaan yang masih solid pada tenor pendek, dengan total penawaran masuk sebesar Rp30,5 triliun vs penyerapan sebesar Rp10 triliun. SRBI tenor 6 bulan paling diminati dengan bid-to-cover (btc) tertinggi sebesar 30,7x dan weighted average yield (WAY) 6,80%, tenor 9 bulan btc 3,35x, WAY 6,86%, dan tenor 12 bulan btc 2,91x, WAY 6,94%. WAY SRBI terus menurun sejalan dengan policy guidance yang disampaikan oleh Gubernur BI Destry.

Penjualan ritel Indonesia tumbuh sebesar 1,1% YoY pada Juli 2026, mengakhiri tren penurunan selama tiga bulan berturut-turut, seiring penerapan kebijakan pemerintah yang mendukung daya beli rumah tangga dari tekanan inflasi yang terus berlanjut. Aktivitas ritel diperkirakan akan semakin menguat pada Agustus 2026 seiring berlanjutnya dukungan pemerintah, meskipun tekanan inflasi yang tinggi kemungkinan akan membatasi laju pemulihan tersebut.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP