Financial Market Update
IDR10 : 7,11% - 7,17% (cl: 7,11%) IDR5 : 6,93% - 7,04% (cl: 6,95%) UST10 : 4,73% - 4,79% (last: 4,77%)
IDR : 17.660 - 17.750 (cl: 17.660) DXY : 99,66 - 99,86 (last: 99,00) JCI : 6.614,71 - 6.681,84 (cl: 6.667,89)
Yield SUN FR0109 (5yr) : -8bps to 6,95% FR0108 (10yr) : +6bps to 7,11% FR0106 (15yr) : -3bps to 7,19% FR0107 (20yr) : -1bps to 7,17%
Point of Interest:
• Harga SBN seri benchmark bergerak variatif dengan kisaran pergerakan yield sebesar 1-8 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 6 bps ke level 7,11% (ytd: +106 bps), seiring meningkatnya repricing risiko durasi akibat ekspektasi suku bunga global yang lebih tinggi di tengah rencana lelang SRBI dan Sukuk Valas pada hari Jumat yang mendorong pelaku pasar melakukan pre-positioning dan mengurangi eksposur durasi.
• Rupiah ditutup menguat 0,56% ke level 17.660 dari sebelumnya 17.760, seiring dengan pelemahan USD (DXY) secara global dipicu oleh meredanya sentimen risk-off akibat pernyataan Presiden Trump bahwa eskalasi ketegangan militer AS–Iran kemungkinan hanya berlangsung singkat, yang mendorong penurunan harga minyak.
• IHSG ditutup menguat 1,09% ke level 6.667,89, sejalan dengan penguatan bursa saham di kawasan Asia seiring sentimen global yang cenderung positif dan imbas penguatan saham sektor keuangan. Dari domestik, sentimen positif turut didukung oleh rilis data cadangan devisa yang meningkat serta sinyal positif dari pernyataan Menkeu Purbaya terkait perpanjangan periode penempatan SAL di bank BUMN.
• Presiden AS Trump menyatakan bahwa eskalasi ketegangan militer AS-Iran kemungkinan berlangsung singkat. Hal ini memicu harga minyak sempat turun di bawah $95/barel seiring meredanya premium risiko geopolitik serta risiko stagflasi untuk sementara waktu.
• Presiden Fed New York, John Williams, mengaitkan kenaikan yield UST baru-baru ini dengan prospek ekonomi AS yang kuat, didukung oleh investasi di bidang AI, data center, dan teknologi. Williams masih mempertahankan sikap wait-and-see terkait prospek kenaikan suku bunga lebih lanjut dalam waktu dekat.
• Data cadangan devisa Indonesia bulan Agustus naik menjadi $146 miliar (Juli: $145,34 miliar) yang terutama ditopang oleh inflows asing. Kenaikan tersebut memberikan sinyal positif dan mendukung narasi bahwa BI masih memiliki ruang yang cukup untuk melanjutkan kebijakan intervensi sebagai upaya menjaga stabilitas Rupiah.
• Menkeu Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan mempertahankan penempatan dana SAL sebesar Rp200 triliun di bank-bank BUMN hingga Juli 2027. Artikel Bloomberg menyoroti bahwa perpanjangan tersebut akan memberikan dukungan likuiditas berkelanjutan bagi BRI, Mandiri, BNI, dan BTN, sehingga mendukung kapasitas perbankan untuk memperluas penyaluran kredit sejalan dengan target pertumbuhan kredit sebesar 8%–12% oleh BI. Selain itu, pemerintah juga tengah membahas kemungkinan untuk kembali menurunkan anggaran MBG menjadi di bawah Rp200 triliun pada tahun ini.
• Menkeu juga menyatakan akan berkoordinasi erat dengan BI dalam hal penarikan SAL untuk membiayai kebutuhan Pemerintah agar tidak mengganggu uang primer dan likuiditas sistem keuangan. Purbaya menjelaskan sebagian SAL ditempatkan di BI dan sebagian di sistem perbankan sesuai kebutuhan cash flow pemerintah, serta memilih M0 sebagai indikator utama untuk memantau kondisi likuiditas dibandingkan rasio alat likuid terhadap DPK (AL/DPK).
• Ekonom Bank Mandiri menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 5,3%–5,4%, dari sebelumnya 5,2%, sekaligus mempertahankan pandangan bahwa BI akan menahan suku bunga kebijakan di level 5,75% hingga akhir tahun. Bank Mandiri menilai kebijakan moneter akan tetap fokus pada instrumen makroprudensial, termasuk berbagai insentif untuk menarik aliran dana masuk guna menjaga stabilitas Rupiah dan mendukung likuiditas perbankan.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP