Financial Market Update

IDR10 : 6,99% - 7,04% (cl: 7,04%)
IDR5 : 6,84% - 6,90% (cl: 6,90%)
UST10 : 4,76% - 4,79% (last: 4,78%)

IDR : 17.707 - 17.730 (cl: 17.726)
DXY : 99,35 - 99,63 (last: 99,63)
JCI : 6.535,80 - 6.608,18 (cl: 6.599,94)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +6bps to 6,90%
FR0108 (10yr) : +5bps to 7,04%
FR0106 (15yr) : +7bps to 7,15%
FR0107 (20yr) : +2bps to 7,13%

Point of Interest:

Harga SBN seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 2-7 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 5 bps ke level 7,04 % (ytd: +99 bps). Pelemahan SBN terutama disebabkan oleh sentimen pelemahan obligasi global dan regional akibat meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pasca pidato hawkish Fed Chairman di Jackson Hole. Selain itu, sentimen domestik akibat tambahan supply dari lelang SUN serta rilis data inflasi yang naik di atas ekspektasi turut menjadi faktor yang menyebabkan kenaikan yield SBN.

Rupiah ditutup melemah tipis 0,03% ke level 17.726 dari sebelumnya 17.720, yang sejalan dengan pelemahan mata uang di kawasan Asia, meskipun kinerja Rupiah secara relatif cenderung lebih baik di antara peers. Sentimen pelemahan disebabkan oleh penguatan USD (DXY) secara umum yang masih dipengaruhi oleh ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed pada FOMC meeting September di tengah harga minyak yang kembali naik di kisaran $91-$92/barel.

IHSG ditutup menguat 1,14% ke level 6.599,94, melanjutkan pemulihan dan mencapai level tertinggi sejak 13 Mei. Penguatan terutama dikontribusikan oleh kinerja saham BBRI (+4,0%) seiring berlanjutnya sentimen positif pasca rilis data laba bersih Semester I-2026 yang melampaui ekspektasi (+17% YoY) serta peningkatan guidance pertumbuhan kredit ke depan. PTBA (+7,8%) juga berkontribusi pada penguatan IHSG setelah membukukan kinerja pendapatan Semester I-2026 yang solid.

Kembali meningkatnya konflik AS-Iran menyebabkan harga minyak naik di atas $91/barel. Pasukan AS dilaporkan menyerang aset angkatan laut Iran sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi yang melalui Selat Hormuz dan mendorong harga minyak kembali naik.

Berlanjutnya penguatan USD seiring tingginya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada FOMC September. Kondisi tersebut memberikan tekanan pelemahan yang luas bagi mata uang di kawasan EM yang masih dipengaruhi oleh dampak lanjutan pernyataan Fed Chairman Kevin Warsh di Jackson Hole yang bernada hawkish.

Rilis data inflasi Indonesia periode Agustus 2026 tercatat naik 3,19% YoY, lebih tinggi dari konsensus sebesar 3,12% (Juli: 2,88%). Inflasi inti juga naik menjadi 2,92% YoY lebih tinggi dari konsensus 2,86% dan data Juli 2,76%. Kenaikan inflasi terutama disebabkan oleh peningkatan harga pangan (+3,86% YoY), volatile food (+4,06% YoY), perawatan pribadi, dan biaya transportasi.

Artikel Bloomberg menyoroti bahwa meski tekanan harga meningkat, inflasi masih berada dalam kisaran sasaran BI 1,5%–3,5%. Selain itu, respons Rupiah yang relatif datar mencerminkan pandangan pasar bahwa data tersebut belum cukup untuk mendorong BI mengambil langkah pengetatan lanjutan.

Data surplus perdagangan Indonesia periode Juli berbalik menjadi surplus tipis sebesar $0,12 miliar, sedikit di atas ekspektasi konsensus $0 sekaligus membalik kondisi defisit pada Mei dan Juni. Kembalinya surplus terutama didorong oleh pertumbuhan ekspor sebesar 6,05% YoY atau melampaui ekspektasi 3,10%. Meskipun terbatas, surplus tersebut sedikit mengurangi tekanan jangka pendek terhadap Rupiah sehingga menjaga pergerakannya relatif stabil di tengah pelemahan mata uang EM secara luas.

Data PMI Manufaktur Indonesia versi S&P Global kembali terkontraksi dengan data Agustus turun ke 49,8 dari 50,2 di Juli. Indeks output juga mengalami pelemahan menjadi 49,2 dari sebelumnya 50,4, meskipun pesanan baru meningkat dibanding bulan sebelumnya. Pelemahan ini sejalan dengan indikasi moderasi permintaan domestik dan mendukung BI untuk mempertahankan suku bunga.

Sidang paripurna DPR hari ini secara resmi mengukuhkan Destry Damayanti sebagai Gubernur BI periode 2026-2031 dan menjadi tahapan formal terakhir dalam proses pergantian kepemimpinan. Hal ini sekaligus mengakhiri sisa ketidakpastian terkait kepemimpinan BI dan mampu memberikan sentimen positif yang menopang pergerakan Rupiah hari ini. Fokus pelaku pasar selanjutnya pada kebijakan BI di bawah kepemimpinan Destry, khususnya di tengah perluasan mandat yang kini juga mencakup penciptaan lapangan kerja sesuai amandemen UU P2SK.

Pemerintah menyerap Rp34 triliun pada lelang SUN 1 September dari total penawaran masuk Rp65,97 triliun (bid-to-cover sekitar 1,94x). Minat investor terutama terkonsentrasi pada seri FR0110 (6 tahun) dan FR0111 (11 tahun), dengan penawaran masuk masing-masing Rp22,11 triliun dan Rp20,00 triliun. Adapun penyerapan pemerintah sebesar Rp12,3 triliun FR0110 pada yield rata-rata 6,979% (cut-off 6,99%) serta Rp12,0 triliun FR0111 pada yield rata-rata 7,070% (cut-off 7,10%). Sementara itu, penyerapan pada seri tenor lebih panjang relatif terbatas, yakni FR0106 Rp1,85 triliun, FR0107 Rp1,60 triliun, FR0102 Rp0,95 triliun, dan FR0105 Rp0,30 triliun, sedangkan tiga seri SPN menyumbang total Rp5 triliun dari nilai lelang yang dimenangkan.

Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) resmi meluncurkan platform pemantauan ekspor komoditas yang mencakup lebih dari $70 miliar arus perdagangan tahunan. Platform ini mewajibkan eksportir komoditas melakukan registrasi dan pelaporan transaksi melalui sistem DSI guna meningkatkan transparansi serta menekan kebocoran pajak dan praktik under-invoicing. Implementasinya berlangsung bersamaan dengan perubahan ketentuan retensi DHE SDA per 1 September, sehingga memperkuat kerangka pengawasan dan kepatuhan bagi eksportir komoditas.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP