Financial Market Update

IDR10 : 6,97% - 6,99% (cl: 6,99%)
IDR5 : 6,82% - 6,84% (cl: 6,84%)
UST10 : 4,70% - 4,75% (last: 4,75%)

IDR : 17.720 - 17.757 (cl: 17.720)
DXY : 99,47 - 99,71 (last: 99,57)
JCI : 6.476,18 - 6.528,10 (cl: 6.525,48)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +4bps to 6,84%
FR0108 (10yr) : +3bps to 6,99%
FR0106 (15yr) : +3bps to 7,08%
FR0107 (20yr) : +1bps to 7,11%

Point of Interest:

• Harga SBN seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 1-4 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 3 bps ke level 6,99% (ytd: +94 bps). Pelemahan SBN terutama disebabkan oleh faktor global dari pernyataan hawkish Fed Chairman Kevin Warsh di simposium Jackson Hole serta kenaikan harga minyak yang menyebabkan yield UST bergerak naik dan mendorong peningkatan risk premium Indonesia.

• Rupiah ditutup melemah 0,16% ke level 17.720 dari sebelumnya 17.692, akibat kembali menguatnya USD (DXY) dipicu oleh pernyataan hawkish Fed Chairman yang meningkatkan peluang kenaikan suku bunga acuan di FOMC September, serta sentimen negatif dari kenaikan harga minyak akibat konflik yang dilaporkan kembali meningkat di Selat Hormuz.

• IHSG ditutup menguat 0,11% ke level 6.525,48, ditengah tantangan sentimen global dari dampak pidato hawkish Fed Chairman di Jackson Hole. Penguatan IHSG terutama ditopang oleh emiten BBRI yang menguat 1,9% pasca rilis laporan keuangan periode Semester I-2026 menunjukkan kenaikan laba bersih 17,5% YoY menjadi Rp31,18 triliun, yang terutama dikontribusikan oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 9,9% YoY menjadi Rp80,53 triliun. Arus rebalancing portofolio akhir bulan juga dilaporkan turut memberi dukungan teknikal bagi IHSG pada sesi terakhir di bulan Agustus.

• Dampak lanjutan sikap hawkish Fed Chairman di Jackson Hole mendorong penguatan USD (DXY) secara global. Fed Chairman Kevin Warsh menyatakan bahwa “harga belum menunjukkan perlambatan yang berarti”, sehingga mendorong pelaku pasar kembali meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan September dan menopang penguatan USD.

• Kembali memanasnya konflik di Selat Hormuz mendorong harga minyak naik dan menambah tekanan terhadap mata uang emerging Asia, sejalan dengan kenaikan yield UST. Bloomberg menilai kombinasi tersebut menjadi faktor utama yang membebani pergerakan mata uang di kawasan. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berpotensi memperburuk neraca perdagangan sebagai negara pengimpor minyak, sehingga Rupiah relatif lebih sensitif terhadap eskalasi harga energi.

• Goldman Sachs menilai bahwa gangguan kilang global akibat konflik Timur Tengah dan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia akan memperketat pasar produk olahan, khususnya diesel. Goldman menaikkan lebih dari dua kali lipat proyeksi margin diesel 2027 menjadi sekitar $63/barel di AS dan $49/barel di Eropa, seiring tingkat gangguan kilang yang berada jauh di atas normal, penurunan persediaan, serta ekspor produk olahan Timur Tengah yang belum pulih sepenuhnya. Goldman menilai tekanan harga bahan bakar berpotensi bertahan lebih lama dibandingkan minyak mentah, dengan pemulihan penuh membutuhkan deeskalasi geopolitik global.

• Publikasi analisis di The Jakarta Post terkait pelebaran defisit transaksi berjalan Indonesia menambah kekhawatiran terkait kebutuhan pembiayaan eksternal yang lebih tinggi. Pelaku pasar mempersepsikan bahwa kondisi defisit tersebut meningkatkan kerentanan Rupiah dalam jangka menengah dan menambah premi risiko pada yield SUN yang menjadi faktor negatif bagi investor asing.

• Pelaku pasar mencermati efektifnya rebalancing indeks MSCI periode Agustus 2026 pada hari ini, seiring dikeluarkannya saham emiten GOTO dari MSCI Indonesia Investable Market Index (IMI) dan diturunkannya saham emiten CPIN ke MSCI Small Cap Index. Selain itu, pelaku pasar juga bersikap wait-and-see menjelang rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia yang akan dirilis besok.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP