Financial Market Update
IDR10 : 7,20% - 7,22% (cl: 7,20%) IDR5 : 7,17% - 7,20% (cl: 7,17%) UST10 : 4,66% - 4,69% (last: 4,67%)
IDR : 17.847 - 17.885 (cl: 17.875) DXY : 99,71 - 99,90 (last: 99,86) JCI : 6.272,30 - 6.373,85 (cl: 6.373,85)
Yield SUN FR0109 (5yr) : 0bps to 7,17% FR0108 (10yr) : -1bps to 7,20% FR0106 (15yr) : 0bps to 7,24% FR0107 (20yr) : +1bps to 7,23%
Point of Interest:
• Harga SBN seri benchmark bergerak sideways dengan kisaran pergerakan yield yang sangat terbatas sebesar 0-1 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 1 bps ke level 7,20% (ytd: +115 bps). Pergerakan pasar yang terbatas terutama mencerminkan sikap wait-and-see investor menjelang rilis CPI AS malam ini, sehingga pelaku pasar cenderung menahan diri dari pengambilan posisi yang lebih agresif.
• IHSG ditutup menguat 1,69% ke level 6.373,85 dan ditutup pada level tertinggi intrahari, terutama ditopang oleh sentimen risk-on di pasar saham Asia seiring penguatan saham teknologi serta membaiknya sentimen global terhadap sektor AI. Penguatan juga didukung saham berbasis komoditas di tengah kenaikan harga energi, sehingga IHSG tetap menguat meskipun Rupiah melemah.
• Rupiah melemah 0,20% ke level 17.875 dari penutupan sebelumnya di 17.840, terutama dipengaruhi kenaikan harga minyak yang kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap twin deficit dan prospek inflasi domestik. Tekanan juga dipengaruhi sikap wait-and-see pelaku pasar menjelang rilis data inflasi AS malam ini.
• Optimisme tercapainya kesepakatan normalisasi arus energi melalui Selat Hormuz terus menurun. AS dan Iran dilaporkan saling mengajukan tuntutan yang ketat sehingga negosiasi mengalami kebuntuan. Menteri Energi AS Chris Wright semalam menyatakan arus minyak melalui Hormuz telah melampaui level sebelum perang, yang menurutnya didukung koordinasi militer AS dan negara-negara sekutu di Teluk. Namun, Iran terus membantah klaim tersebut melalui serangan sporadis terhadap kapal yang melintas, sehingga sentimen risiko terkait Selat Hormuz tetap rapuh.
• International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa stagnasi negosiasi terkait Selat Hormuz semakin memperketat pasokan minyak global, meskipun pada saat yang sama turut mempercepat penurunan struktural permintaan, terutama di China seiring substitusi kendaraan listrik (EV) yang telah mencapai lebih dari 1,5 juta barel per hari pada Tw II-2026. Meski pelemahan permintaan dapat meredam sebagian tekanan harga, sentimen pasar tetap didominasi kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak global.
• Harga minyak Brent naik ke kisaran $89–90/barel, yang meningkatkan potensi semakin memburuknya neraca perdagangan dan transaksi berjalan Indonesia sebagai negara pengimpor minyak.
• Lelang UST tenor 3 tahun senilai $58 miliar mencatat permintaan solid, dengan yield lelang 4,291% sedikit di bawah when-issued yield 4,296%, namun tetap menjadi level tertinggi sejak Februari 2025. Pasar selanjutnya mencermati lelang UST 10 tahun dan 30 tahun masing-masing senilai $42 miliar dan $25 miliar, serta rilis CPI Juli yang berpotensi mendorong penguatan obligasi apabila inflasi lebih rendah dari ekspektasi.
• Bloomberg Economics menyoroti dampak penguatan JPY dan CNY yang turut memberikan tekanan terhadap mata uang EM, termasuk Rupiah. Intervensi valas AS–Jepang pada akhir Juli mendorong apresiasi JPY yang turut merambat ke CNY/CNH, sehingga mengurangi daya tarik relatif mata uang berimbal hasil lebih tinggi seperti Rupiah dalam strategi cross-currency carry trade dan membatasi potensi penguatannya.
• Kemenkeu mengkaji pembatasan subsidi Pertalite agar lebih tepat sasaran sebagai upaya meningkatkan efisiensi subsidi energi dan mengurangi tekanan fiskal, mengingat manfaatnya selama ini turut dinikmati kelompok berpendapatan menengah-atas. Namun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan harga BBM bersubsidi belum akan berubah guna menjaga daya beli masyarakat. Perbedaan pernyataan tsb menyebabkan pelaku pasar menilai bahwa penyesuaian kebijakan subsidi diperkirakan belum dilakukan dalam waktu dekat.
• Danantara menyatakan ketertarikan untuk menjadi pemegang saham bursa, sejalan dengan rencana demutualisasi BEI. Proses awal penjualan saham BEI berpotensi dilakukan melalui private placement, mengingat IPO dalam waktu dekat dinilai belum realistis, sementara ketentuan pelaksanaannya masih disiapkan OJK. Perkembangan ini sejalan dengan perubahan regulasi yang membuka peluang kepemilikan BEI oleh Danantara dan institusi negara lainnya (Kemenkeu, BI).
• GoTo (GOTO) berisiko dikeluarkan dari MSCI Indonesia Index setelah sahamnya bertahan di level Rp50 selama sekitar tiga bulan yg merupakan batas harga minimum, sehingga memunculkan kekhawatiran terkait likuiditas dan kemudahan transaksi. Dengan bobot sekitar 4% dalam indeks, potensi penghapusan GOTO dapat memicu arus keluar pasif dan menambah tekanan terhadap pasar saham Indonesia menjelang evaluasi MSCI pada November. Di sisi lain, BEI terus memperkuat transparansi pasar, termasuk melalui penambahan informasi afiliasi kepemilikan emiten, sebagai respons terhadap concern MSCI.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP