Financial Market Update
IDR10 : 7,30% - 7,33% (cl: 7,30%) IDR5 : 7,32% - 7,35% (cl: 7,33%) UST10 : 4,61% - 4,63% (last: 4,62%)
IDR : 18.055 - 18.110 (cl: 18.055) DXY : 101,24 - 101,45 (last: 101,43) JCI : 6.029,32 - 6.174,41 (cl: 6.091,39)
Yield SUN FR0109 (5yr) : -2bps to 7,33% FR0108 (10yr) : -3bps to 7,30% FR0106 (15yr) : -2bps to 7,30% FR0107 (20yr) : -2bps to 7,27%
Point of Interest:
• Harga SBN seri benchmark bergerak menguat. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 3 bps ke level 7,30% (ytd: +125bps). Penguatan tersebut terutama didorong oleh mulai meningkatnya dukungan struktural terhadap pasar SBN, seiring penyempurnaan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) BI kepada perbankan yang aktif menjaga porsi/rasio kepemilikan surat berharga sesuai batas optimal yang ditentukan BI.
• IHSG melemah 0,64% ke level 6.091,39, melanjutkan pelemahan selama enam hari berturut-turut, dipicu oleh kombinasi sentimen negatif global dan tekanan domestik. Eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan harga minyak global, serta sikap wait and see investor menjelang hasil rapat FOMC, menjadi katalis utama yang menekan bursa regional. Di dalam negeri, ekspektasi pelemahan nilai tukar Rupiah akibat kekhawatiran terkait kepastian kebijakan moneter memicu aksi profit taking investor, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar seperti MPRO, BREN, UNTR, dan ISAT.
• Rupiah menguat tipis 0,07% ke level 18.055 dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.067. Penguatan tsb lebih dipandang sebagai stabilisasi Rupiah setelah melemah selama empat hari berturut-turut, yang terutama ditopang oleh intervensi simultan BI di pasar valas, bukan karena membaiknya sentimen pasar. Mayoritas mata uang EM di kawasan mencatat kinerja yang lebih baik dibandingkan Rupiah, mencerminkan bahwa pasar masih menerapkan discount thd aset Indonesia akibat faktor tata kelola domestik.
• Eskalasi konflik Timur Tengah menjaga harga minyak di level tinggi. Militer AS semalam menyatakan telah berhasil menggagalkan upaya serangan mendadak Iran terhadap pasukan AS dan membalas serangan tsb. Perkembangan tersebut mendorong harga minyak Brent kembali meningkat ke area $88-89/barel (sebelumnya sempat turun hingga $82-83/barel). Sentimen ini juga memicu pelemahan harga UST (yield naik) di seluruh tenor.
• Senat AS meloloskan mosi prosedural utama atas RUU sanksi terhadap Rusia dan Iran, yang memberikan kewenangan kepada Presiden Trump untuk mengenakan tarif hingga 100% terhadap negara-negara pembeli utama migas Rusia serta pihak yang membantu penghindaran sanksi melalui shadow fleet. RUU tersebut juga memperpanjang masa berlaku Iran Sanctions Act (ISA) hingga tahun 2031 guna memperketat pembatasan terhadap sektor energi dan pengembangan persenjataan Iran.
• Pemerintah berhasil menyerap Rp10,00 triliun sesuai target indikatif pada lelang Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) pada Rabu (28/7). Total incoming bid turun menjadi Rp24,88 triliun (prior: Rp32,5 triliun) dengan penawaran masuk tertinggi pada seri SPNS tenor 9 bulan sebesar Rp6,41 triliun dan jumlah dimenangkan sebesar Rp4,00 triliun. Rata-rata bid to cover (btc) keseluruhan membaik ke 5,3x dari sebelumnya 4,7x yg terutama ditopang oleh kuatnya permintaan pada seri PBS034 dengan btc 17,4x. Secara umum, hasil lelang SBSN menunjukkan permintaan investor yg masih tetap resilien, di tengah ketidakpastian kebijakan moneter akibat transisi kepemimpinan BI.
• Mirae Asset Sekuritas Indonesia: Pengunduran diri Gubernur BI meningkatkan ketidakpastian terhadap kesinambungan kebijakan, kredibilitas institusi, dan tata kelola kebijakan di Indonesia. Investor diperkirakan masih akan mengambil sikap wait-and-see hingga terdapat kejelasan mengenai penunjukan Gubernur BI yang baru serta respons kebijakan pemerintah. Dalam kondisi tersebut, permintaan terhadap obligasi pemerintah Indonesia diperkirakan akan tetap terkonsentrasi pada tenor pendek.
• Indonesia Investment Authority (INA) menempati peringkat kedua pengelola investasi negara di Asia versi Tempo, mencerminkan pengakuan terhadap kinerja investasi dan standar tata kelola INA di tengah sorotan yang masih tertuju pada Danantara. Pencapaian tsb memberikan sentimen positif yang menjadi penyeimbang atas kekhawatiran pasar mengenai kredibilitas institusi di lingkungan lembaga keuangan milik negara Indonesia.
• Perdebatan mengenai independensi BI semakin menguat. Sejumlah media internasional, termasuk The Wall Street Journal dan The Diplomat, menyoroti implikasi pengunduran diri Perry Warjiyo terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia dan daya tarik investasi di Asia Tenggara. Kekhawatiran investor turut meningkat seiring laporan The Jakarta Post mengenai memanasnya ketegangan kebijakan menjelang pengunduran diri tersebut, yang memunculkan persepsi potensi meningkatnya pengaruh pemerintah terhadap arah kebijakan moneter di bawah Plt. Gubernur BI Destry Damayanti.
• Investor asing membukukan net outflow sebesar $23,3 juta dari pasar obligasi Indonesia pada hari pengumuman pengunduran diri Gubernur BI. Meski demikian, sepanjang bulan Juli pasar obligasi Indonesia masih mencatatkan net inflow sebesar $282,9 juta, mengindikasikan bahwa tekanan pasar saat ini lebih bersifat jangka pendek dan belum mencerminkan tekanan yang sistemik.
• BI kembali menegaskan penguatan bauran kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi simultan di pasar spot, NDF, dan DNDF, yang didukung penerbitan SRBI serta fasilitas swap, sehingga memperkuat efektivitas stabilisasi di pasar keuangan. Respons kelembagaan BI menjadi faktor utama yang meredam tekanan pasar pada perdagangan hari ini.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP