Financial Market Update
IDR10 : 7,33% - 7,36% (cl: 7,33%) IDR5 : 7,35% - 7,35% (cl: 7,35%) UST10 : 4,61% - 4,64% (last: 4,62%)
IDR : 18.054 - 18.094 (cl: 18.067) DXY : 101,43 - 101,64 (last: 101,58) JCI : 6.130,59 - 6.199,44 (cl: 6.130,59)
Yield SUN FR0109 (5yr) : +8bps to 7,35% FR0108 (10yr) : -1bps to 7,33% FR0106 (15yr) : -2bps to 7,32% FR0107 (20yr) : -1bps to 7,29%
Point of Interest:
•Harga SBN seri benchmark mayoritas bergerak menguat terbatas, kecuali tenor 5 tahun bergerak melemah. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 1 bps ke level 7,33% (ytd: +128bps). Penguatan SBN terjadi seiring meningkatnya optimisme investor yang didorong oleh ekspektasi bahwa konflik di Timur Tengah akan segera mereda. Hal ini memicu penurunan harga minyak dan mengurangi kekhawatiran akan kembali terjadinya kenaikan inflasi global. Namun, pelaku pasar masih mencermati perkembangan pasca pengunduran diri mendadak Gubernur BI terhadap arah kebijakan domestik, sehingga cenderung membatasi penguatan SBN.
•IHSG melemah 0,89% ke level 6.130,59, melanjutkan pelemahan selama lima hari berturut-turut, yang terutama dipengaruhi oleh sentimen negatif dari tekanan jual masif pada sektor teknologi global di kawasan. Kinerja IHSG masih lebih baik dibandingkan beberapa bursa regional, seperti KOSPI (-10,8%), TWSE (-4,7%), dan MSCI Emerging Markets (-3,6%), terutama didukung oleh struktur pasar saham Indonesia yang didominasi sektor keuangan, barang konsumsi, dan komoditas sehingga relatif minim eksposur terhadap sektor semikonduktor dan kecerdasan buatan.
•Rupiah melemah 0,34% ke level 18.067 dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.005. Pelemahan ini lebih dalam dibandingkan mayoritas mata uang Asia meskipun DXY relatif stabil, mengindikasikan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih didorong oleh faktor domestik, terutama ketidakpastian kepemimpinan BI yang mengurangi keyakinan pasar terhadap arah kebijakan moneter di tengah meningkatnya sentimen risk-off global.
•Pengunduran diri mendadak Gubernur BI yang diumumkan kemarin, masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan pasar domestik hari ini. Perry Warjiyo selama ini dipandang sebagai pilar utama kredibilitas BI, terutama setelah memutuskan kenaikan suku bunga darurat sebesar 100 bps sepanjang Mei–Juni 2026 untuk mempertahankan stabilitas rupiah. Pengunduran dirinya memunculkan pertanyaan mengenai arah kebijakan moneter ke depan serta independensi BI di bawah pemerintahan Presiden Prabowo.
•Pandangan pelaku pasar terhadap Indonesia masih beragam. Strategist Citi menilai pelemahan rupiah bersifat sementara dan berpotensi pulih ke kisaran Rp17.700–17.800 per USD, sementara Commerzbank memperkirakan tekanan masih berlanjut seiring proses transisi kepemimpinan BI. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI menegaskan komitmennya melakukan intervensi di pasar spot, NDF, DNDF, serta melalui lelang SRBI/SVBI.
•Presiden Prabowo memberikan arahan strategis untuk melibatkan Danantara dalam setiap pengambilan keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Kehadiran institusi ini memunculkan istilah baru yaitu "KSSK Plus". Keterlibatan Danantara di forum KSSK (bersama Kemenkeu, BI, OJK, dan LPS) ditujukan agar kebijakan ekonomi nasional mencakup ekosistem riil dan dunia usaha, bukan sekadar dari sisi fiskal dan moneter makro saja. Berdasarkan keterangan Ketua LPS, keterlibatan Danantara bersifat koordinasi dan memberikan masukan, sehingga tidak membutuhkan revisi UU P2SK.
•Menteri Keuangan selaku Ketua KSSK mengklarifikasi bahwa kehadiran Danantara di rapat KSSK hanya berstatus sebagai undangan dan tidak memiliki hak suara ataupun hak mengambil keputusan. Di sisi lain, para ekonom dan analis pasar mengingatkan pemerintah untuk membatasi keterlibatan rutin Danantara guna menghindari risiko konflik kepentingan, mengingat posisi Danantara sebagai pengelola aset serta superholding investasi negara yang memiliki kepentingan bisnis.
•PT Danantara Asset Management (DAM) menandatangani perjanjian definitif untuk mengakuisisi empat perusahaan manajer investasi BUMN, sehingga membentuk perusahaan pengelola aset terbesar di Indonesia. Konsolidasi ini bertujuan memperkuat skala operasional di tingkat regional sekaligus mendukung pendalaman pasar modal domestik.
•Sentimen global dipengaruhi sikap hati-hati investor menjelang pertemuan FOMC pada 28–29 Juli (waktu AS). Konsensus masih memperkirakan FFR dipertahankan, namun sebagian pelaku pasar memperhitungkan peluang kenaikan 25 bps seiring tingginya inflasi dan kenaikan harga minyak. Kondisi ini berpotensi mempersempit selisih suku bunga Indonesia-AS, sehingga meningkatkan risiko arus keluar modal dan tekanan terhadap rupiah, terutama di tengah ketidakpastian arah kebijakan BI.
•AS-Iran memperpanjang penghentian sementara konflik bersenjata. Presiden Trump menyatakan terdapat "peluang besar" untuk mencapai perkembangan positif dan mengonfirmasi bahwa pembicaraan intensif sedang berlangsung. Namun, juru bicara pemerintah Iran menegaskan bahwa tidak ada perundingan langsung dengan AS.
Divisi Pengelolaan Investasi DAPENBI IP