Financial Market Update

IDR10 : 7,31% - 7,35% (cl: 7,33%)
IDR5 : 7,28% - 7,34% (cl: 7,29%)
UST10 : 4,68% - 4,71% (last: 4,68%)

IDR : 17.943 - 17.978 (cl: 17.943)
DXY : 101,25 - 101,46 (last: 101,38)
JCI : 6.159,15 - 6.268,53 (cl: 6.196,43)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : 0bps to 7,29%
FR0108 (10yr) : +1bps to 7,33%
FR0106 (15yr) : +2bps to 7,35%
FR0107 (20yr) : +2bps to 7,31%

Point of Interest:

Harga minyak mentah Brent sempat menembus $100/barel pada pembukaan pasar Asia, dipicu oleh serangan kelompok Houthi terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Serangan ini membuka titik tekanan baru (two chokepoint problem) dalam konflik Timur Tengah dan menjadi katalis utama yang kembali meningkatkan kekhawatiran inflasi global secara serentak.

Presiden AS Trump menyatakan "hampir mengambil keputusan" untuk melancarkan "serangan besar-besaran" terhadap Iran. Trump juga mengatakan bahwa Iran "belum merasakan tekanan yang cukup" dan belum siap mencapai kesepakatan. Pernyataan tsb meningkatkan risiko kembali terjadinya eskalasi konflik berskala penuh serta potensi kenaikan harga energi ke level seperti pada masa perang.

HSBC memperingatkan bahwa pasar komoditas menghadapi "substantial squeeze" seiring eskalasi konflik yang berkepanjangan dan menipisnya cadangan stok minyak. Secara terpisah, Kazakhstan dilaporkan mengurangi produksi minyak setelah serangan drone Ukraina terhadap jalur pelayaran di Laut Hitam shg mendorong pembeli mencari alternatif sumber minyak. Sejumlah kilang minyak di Asia, Eropa, termasuk Eneos di Jepang, dilaporkan meningkatkan pembelian minyak mentah alternatif dari AS. Kilang milik negara India memperbesar pembelian di pasar spot, sedangkan China mempercepat pembelian minyak dari Rusia.

Ekonom utama Allianz, Mohamed El-Erian, memperingatkan bahwa lonjakan harga energi dan indikasi kuat penerbitan surat utang negara secara masif ke depan sebagai pemicu utama kenaikan yield obligasi di negara-negara maju. Pernyataan tsb menambah spekulasi bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan minggu depan.

Hasil survei Bloomberg: Median proyeksi memperkirakan The Fed akan mempertahankan FFR hingga Q3-2026 (responden sekitar 80 ekonom pada 17–22 Juli), dengan potensi langkah selanjutnya adalah penurunan suku bunga yang diperkirakan terjadi pada Q3-2027. Proyeksi tersebut berbeda dengan ekspektasi pasar yang mulai mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga. Lonjakan harga minyak meningkatkan ekspektasi pasar bahwa The Fed akan mempertahankan sikap hawkish, bahkan berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan 29 Juli mendatang.

ECB mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan 23 Juli 2026, dengan deposit facility rate tetap di 2,25%, main refinancing rate di 2,40%, dan marginal lending facility di 2,65%. ECB juga mengindikasikan pendekatan wait-and-see di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi akibat volatilitas harga energi yang masih berlanjut.

AS resmi berlakukan tarif tambahan 10% untuk produk ekspor Indonesia. Penerapan tarif tambahan tsb mengacu kepada hasil investigasi AS terkait Section 301 dan mulai berlaku 24 Juli 2026 untuk dikenakan kepada sejumlah produk asal Indonesia. Selain Indonesia, kebijakan tarif baru AS sekitar 10%–12,5% tsb akan berlaku pada 60 mitra dagang AS Hasil investigasi menilai Indonesia belum memenuhi standar pencegahan produk hasil kerja paksa (forced labor), meskipun terdapat keringanan untuk komoditas tekstil dan pakaian jika memakai bahan baku kapas asal AS.

China mereformasi mekanisme penyaluran kredit. Tiga bank terbesar di China mulai menguji penyaluran kredit berbasis suku bunga pasar uang antarbank, menggantikan acuan Loan Prime Rate (LPR). Jika diterapkan secara luas, kebijakan ini akan memperkuat mekanisme transmisi kebijakan moneter sehingga penetapan suku bunga kredit lebih mencerminkan kondisi pasar, meskipun berpotensi meningkatkan volatilitas.

Kemnaker mencatat sebanyak 32.389 buruh terkena PHK sepanjang H1-2026. Data ini memicu diskusi hangat di kalangan investor karena terjadi di tengah optimisme pemerintah bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia H1-2026 masih mampu tumbuh di kisaran 5,4%.

Harga SBN seri benchmark bergerak melemah. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 1 bps ke level 7,33% (ytd: +128bps) seiring kembali meningkatnya kekhawatiran terkait inflasi global setelah harga minyak naik dan sempat menembus $100/barel. Indonesia tertekan dari sisi defisit neraca berjalan yang berpotensi melebar sebagai net importir minyak, serta inflasi yg berpotensi meningkat seiring kenaikan harga minyak.

IHSG melemah 1,88% ke level 6.196,43, melanjutkan pelemahan selama tiga hari berturut-turut. Penurunan dipicu oleh sentimen eksternal berupa gelombang risk-off EM akibat koreksi tajam indeks saham Korea Selatan dan lonjakan harga minyak, serta koreksi saham BMRI setelah revisi panduan NIM yang mengecewakan pasar.

Rupiah melemah 0,16% ke level 17.943 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.915. Pelemahan rupiah dipicu oleh faktor eksternal, yakni lonjakan harga minyak yang menekan prospek neraca berjalan Indonesia sbg net importir minyak, serta penguatan USD secara umum seiring meningkatnya spekulasi kenaikan suku bunga oleh The Fed.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP