Financial Market Update
IDR10 : 7,27% - 7,32% (cl: 7,32%)
IDR5 : 7,22% - 7,30% (cl: 7,29%)
UST10 : 4,65% - 4,68% (last: 4,67%)
IDR : 17.891 - 17.930 (cl: 17.915)
DXY : 100,94 - 101,21 (last: 101,20)
JCI : 6.306,65 - 6.454,31 (cl: 6.315,31)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +7bps to 7,29%
FR0108 (10yr) : +5bps to 7,32%
FR0106 (15yr) : +3bps to 7,33%
FR0107 (20yr) : +1bps to 7,29%
Point of Interest:
• Harga minyak Brent mendekati $99/barel, tertinggi sejak awal Juni, sementara WTI menembus $90/barel untuk pertama kalinya sejak 11 Juni, melanjutkan reli selama lima hari berturut-turut. Kenaikan tersebut dipicu oleh klaim kelompok Houthi yang didukung Iran atas serangan terhadap kapal-kapal komersial di Laut Merah untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, sehingga kembali memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dan eskalasi konflik di Timur Tengah.
• Bank Indonesia melaporkan perlambatan pertumbuhan uang beredar (M2) per Juni 2026 menjadi 8,7% YoY (Mei: 10,8% YoY), yang mengonfirmasi bahwa transmisi kebijakan pengetatan moneter agresif pada siklus sebelumnya mulai meredam excess likuiditas domestik. Kondisi likuiditas yang termoderasi ini menjadi sentimen mild negative bagi saham, namun memperkuat basis argumen bagi BI untuk mempertahankan suku bunga acuan dan tetap menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
• Badan Pengelola Investasi Danantara resmi mengakuisisi PNM Investment Management senilai Rp345 miliar dan mengambil alih BNI Asset Management. Langkah ini merupakan bagian dari konsolidasi 4 asset management BUMN di bawah kendali Danantara untuk mengelola dana raksasa investasi senilai Rp170 triliun.
• Direktorat Jenderal Pajak mengumumkan realisasi penerimaan pajak dari sektor ekonomi digital sebesar Rp8,68 triliun hingga akhir Juni 2026. Laporan ini mencatat lonjakan bulanan yang masif sebesar Rp1,87 triliun dibandingkan data Mei dan mengonfirmasi bahwa aktivitas konsumsi digital masyarakat masih tumbuh solid.
• Pemerintah mengumumkan bahwa eksportir dari AS, China, Australia, dan Kanada termasuk pihak yang memperoleh relaksasi ketentuan penempatan devisa hasil ekspor (DHE). Berdasarkan ketentuan yang berlaku, eksportir sumber daya alam yang tercakup dalam perjanjian bilateral atau kerja sama perdagangan lainnya hanya diwajibkan menempatkan 30% DHE di dalam negeri selama minimal tiga bulan. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan daya tarik investasi asing dan mengurangi tekanan terhadap sektor eksternal.
• Pemerintah menawarkan proyek investasi data center senilai $1,8 miliar kepada investor China, dengan memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi digital Indonesia sbg yg tercepat di ASEAN. Pemerintah menyediakan berbagai insentif menarik, termasuk tax holiday, tax allowance, hingga pembebasan bea masuk bagi peralatan mesin teknologi tinggi guna menarik investor. Terdapat juga tawaran kemitraan proyek pembangkit listrik tenaga surya ramah lingkungan (green data center) utk mendukung kebutuhan konsumsi listrik yg sangat tinggi.
• PT Bank Mandiri (Persero) Tbk membukukan kinerja positif pada Semester I-2026, dengan laba bersih konsolidasi Rp30,4 triliun (+24% YoY) dan pendapatan bunga bersih Rp47,84 triliun (+8% YoY), sejalan dengan ekspansi aset dan Dana Pihak Ketiga (DPK). Meskipun laba per saham (EPS) naik ke Rp326,11, Margin Bunga Bersih (NIM) menyusut menjadi 4,56%. Manajemen menurunkan target NIM tahunan menjadi 4,3%–4,5% (dari semula 4,5%–4,7%) dengan target pertumbuhan kredit 7%–9%, sebagai dampak dekonsolidasi Bank Syariah Indonesia (BSI). Bank Mandiri menekankan akan tetap memantau ketat pergerakan variabel makroekonomi seperti suku bunga dan nilai tukar.
• Harga SBN seri benchmark bergerak melemah. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 5 bps ke level 7,32% (ytd: +127bps) seiring konflik Timur Tengah yang meluas dan menyebabkan harga minyak dunia kembali meningkat sehingga risk premium obligasi pemerintah Indonesia juga meningkat.
• IHSG melemah 0,30% ke level 6.315,31, tertekan aksi profit taking investor asing yang mencatatkan net sell hingga Rp1,22 triliun. Total volume perdagangan hari ini mencapai 63,32 miliar lembar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp23,94 triliun. Penurunan indeks utamanya dipicu oleh koreksi di sektor industri sebesar -1,32% dan sektor konsumen non-primer sebesar -1,16%. Secara umum, kombinasi sentimen risk-off global, lonjakan harga minyak dunia, serta sikap antisipatif pelaku pasar dalam mencermati dampak keputusan BI-Rate yang dipertahankan kemarin, turut menekan harga aset keuangan domestik akibat berkurangnya daya tarik carry trade Indonesia.
• Rupiah melemah 0,20% ke level 17.915 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.880. Pelemahan rupiah dipicu oleh kekhawatiran pasar atas dampak kenaikan harga minyak terhadap ketahanan Indonesia sebagai net importir minyak, khususnya terkait kecukupan cadev dan stabilitas fiskal. Di sisi lain, pelaku pasar juga masih mencermati dampak dari keputusan hold suku bunga BI terhadap daya tarik carry trade aset domestik.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP