Financial Market Update
IDR10 : 7,22% - 7,23% (cl: 7,23%)
IDR5 : 7,17% - 7,18% (cl: 7,18%)
UST10 : 4,51% - 4,56% (last: 4,55%)
IDR : 17.895 - 18.031 (cl: 17.895)
DXY : 100,65 - 100,87 (last: 100,77)
JCI : 6.079,32 - 6.192,66 (cl: 6.175,54)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +2bps to 7,18%
FR0108 (10yr) : +1bps to 7,23%
FR0106 (15yr) : +1bps to 7,24%
FR0107 (20yr) : +1bps to 7,24%
Point of Interest:
• Konflik AS-Iran memasuki hari keenam berturut-turut, ditandai dengan eskalasi saling balas serangan antara kedua pihak yang mencakup sejumlah lokasi strategis di Iran maupun pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan mengalami penurunan. Kondisi tersebut menyebabkan harga minyak Brent melonjak ke sekitar $85/barel dan merupakan kenaikan mingguan terbesar sejak April (±11%).
• Analis Bloomberg memperingatkan bahwa imbal hasil obligasi global berpotensi kembali meningkat apabila gangguan pasokan akibat perang mendorong The Fed mempertahankan sikap hawkish. Risiko yang perlu dicermati karena berpotensi memengaruhi pergerakan pasar SBN dalam beberapa pekan mendatang.
• Fed Chairman Kevin Warsh menyatakan bahwa tingkat inflasi saat ini masih "terlalu tinggi". Pernyataan tsb disampaikan dalam kesaksiannya di hadapan Kongres AS, dimana Warsh juga menekankan bahwa misi mengendalikan inflasi belum selesai dan The Fed memiliki toleransi nol (zero tolerance) terhadap inflasi tinggi.
• Data ekonomi AS menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja dan konsumsi yang masih solid. Klaim pengangguran awal turun 8.000 menjadi 208 ribu pada pekan yang berakhir 11 Juli 2026, terendah dalam lebih dari dua bulan dan di bawah ekspektasi pasar, sementara klaim berkelanjutan juga menurun menjadi 1,805 juta. Di sisi lain, penjualan ritel meningkat 0,2% MoM pada Juni 2026, sesuai konsensus, meskipun menjadi laju pertumbuhan paling lambat dalam lima bulan akibat penurunan harga BBM yang menekan penjualan di SPBU. Secara keseluruhan, data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja dan konsumsi rumah tangga AS masih tetap resilien.
• Hasil lelang SRBI kembali mencerminkan tingginya minat investor, dengan total penawaran meningkat menjadi Rp37,93 triliun dari Rp30,67 triliun pada lelang sebelumnya. BI juga meningkatkan penyerapan menjadi Rp17 triliun dari Rp15 triliun, mengindikasikan operasi moneter yang masih aktif dalam menyerap likuiditas Rupiah di tengah permintaan pasar yang tetap kuat. BI menyerap sebesar Rp16,6 triliun pada tenor 12 bulan dengan imbal hasil 7,644% dan rasio bid-to-cover (btc) 1,97x. Sementara itu, tenor 6 bulan dan 9 bulan masing-masing menyerap sebesar Rp200 miliar dan Rp220 miliar, dengan rasio btc sebesar 23,2x dan 3,19x, yang menunjukkan preferensi investor terhadap instrumen berdurasi pendek, sejalan dengan sikap hati-hati pelaku pasar menghadapi ketidakpastian prospek suku bunga.
• BI merilis data aktivitas dunia usaha pada Q2-2026 yang meningkat signifikan dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) mencapai 12,97%, didorong oleh sektor pertanian, konstruksi, pertambangan, serta akomodasi dan makan-minum. Tren positif ini diproyeksikan berlanjut ke Q3-2026 dengan estimasi SBT 11,75% yang ditopang oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, dan keberlanjutan proyek infrastruktur.
• Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menyatakan bahwa likuiditas perbankan masih memadai untuk mendukung target intermediasi. Hal tersebut tercermin dari penurunan suku bunga pasar uang antarbank (INDONIA) yang menunjukkan meredanya tekanan likuiditas. BI juga terus berkomunikasi dengan perbankan guna memastikan distribusi likuiditas di pasar uang antarbank tetap berjalan lancar.
• Penjualan mobil listrik di Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan pada Juni 2026. Berdasarkan data GAIKINDO, penjualan mobil listrik (wholesales) mencapai 12.653 unit, meningkat dari 9.290 unit pada Mei 2026. Tren ini mencerminkan semakin meningkatnya minat masyarakat terhadap kendaraan listrik dan mengindikasikan bahwa industri otomotif nasional, khususnya segmen kendaraan listrik, masih memiliki prospek pertumbuhan yang positif.
• Harga SBN seri benchmark bergerak melemah. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 1 bps ke level 7,23% (ytd: +118bps). Data Bloomberg menunjukkan bahwa yield SUN 2 tahun turun 6 bps ke level 7,05% seiring investor asing yang terpantau menambah eksposur pada durasi pendek untuk memanfaatkan tingkat imbal hasil yang menarik.
• IHSG menguat 1,10% ke level 6.175,54, di tengah pelemahan bursa saham regional Asia. Penguatan masih didorong oleh sentimen positif dari rilis data FDI kemarin yang meningkat di tengah rotasi pasar saham global akibat sell off tajam pada saham AI dan semikonduktor. Volume perdagangan mencapai 29,18 miliar lembar saham atau senilai Rp16,35 triliun. Mayoritas kinerja sektoral saham menguat, terutama didorong oleh sektor keuangan +2,34%, diikuti sektor barang konsumsi non primer +0,80%, dan kesehatan +0,67%.
• Rupiah menguat 0,50% ke level 17.895 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.985, seiring berlanjutnya sentimen positif pasca afirmasi credit rating Indonesia oleh S&P pada awal pekan, yang berhasil membawa Rupiah outperform terhadap mata uang lainnya di kawasan Asia pada perdagangan hari ini.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP