Financial Market Update

IDR10 : 7,19% - 7,25% (cl: 7,21%)
IDR5 : 7,13% - 7,17% (cl: 7,15%)
UST10 : 4,52% - 4,55% (last: 4,55%)

IDR : 18.055 - 18.085 (cl: 18.055)
DXY : 100,60 - 100,95 (last: 100,93)
JCI : 5.892,02 – 5.944,30 (cl: 5.924,36)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -3bps to 7,15%
FR0108 (10yr) : -4bps to 7,21%
FR0106 (15yr) : -1bps to 7,24%
FR0107 (20yr) : +4bps to 7,25%

Point of Interest:

- FOMC secara bulat memutuskan pada pertemuan Juni untuk mempertahankan suku bunga acuan FFR di kisaran 3,5% hingga 3,75%, dalam pertemuan kebijakan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh. Menurut Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16–17 Juni, menunjukkan meningkatnya kekhawatiran para pembuat kebijakan terhadap inflasi, sementara kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja sedikit mereda. Para pejabat sepakat menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas harga. Proyeksi suku bunga terbaru pasca pertemuan menunjukkan sembilan pejabat memperkirakan setidaknya akan ada satu kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada tahun ini, dengan enam di antaranya memperkirakan sedikitnya dua kali kenaikan.

- Ketua Federal Reserve Kevin Warsh membentuk lima satuan tugas (task force) yang akan mengevaluasi kebijakan dan operasional bank sentral AS, mulai dari pengelolaan neraca senilai US$6,7 T, inflasi, data ekonomi, komunikasi kebijakan, hingga dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap produktivitas dan lapangan kerja. The Fed menunjuk 15 ekonom dan mantan bankir sentral dari berbagai latar belakang untuk memimpin kajian tersebut. Tim task force akan bekerja secara independen dan diharapkan menyampaikan rekomendasi kepada Federal Open Market Committee (FOMC) pada akhir tahun.

- Harga minyak Brent stabil di level US$76/barrel pada Jumat (10/7), setelah turun -2,2% ke level US$76,3/barrel pada penutupan perdagangan Kamis (9/7). Kestabilan harga minyak terjadi di tengah berlanjutnya perundingan antara AS dan Iran, meski eskalasi konflik yang memicu penurunan tajam lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

- Jumlah pengajuan klaim tunjangan pengangguran awal AS turun 2.000 menjadi 215.000 pada pekan yang berakhir 4 Juli, lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan menjadi 218.000.

- Inflasi (IHK/CPI) China periode Juni 2026 melambat ke 1%yoy, dibandingkan periode sebelumnya kenaikan sebesar 1,2%, sedikit di bawah estimasi nilai tengah dalam survei ekonom Bloomberg yang memproyeksikan angka 1,1%. Sementara itu, Inflasi di tingkat produsen (IHP/PPI) sedikit meningkat menjadi 4,1%yoy, dibandingkan setahun lalu, sesuai dengan perkiraan pasar. Tekanan inflasi China sebagai negara dengan sektor manufaktur terbesar di Dunia berpotensi memicu dampak inflasi ke berbagai negara.

- Menurut Strategis Valas Bloomberg, Chunyu Zhang, bahwa SVBI, SUVBI dan SRBI berpotensi mengalihkan sebagian aliran modal asing dari pasar obligasi pemerintah, dan diperkirakan sulit kembali ke level sebelum pandemi Covid-19 di kisaran 30%-40%. SRBI diperkirakan tetap menarik sebagai instrumen stabilisasi dengan yield tinggi, di tengah kepercayaan investor yang masih rapuh dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga acuan The Fed. Selain itu, dengan meningkatnya outstanding SRBI menjadi Rp980 triliun, mengindikasikan semakin kuatnya arus masuk modal asing sehingga mampu mengurangi tekanan crowding out terhadap instrumen keuangan lainnya.

- Data wholesales mobil nasional pada Juni 2026 mencapai 77.555 unit (+33% YoY, +12% MoM). Hasil ini membuat wholesales mobil nasional selama 1H26 mencapai 436.567 unit (+16% YoY), setara 51% target 2026 dari Gaikindo di level 850.000 unit (vs. 1H25: 47% realisasi 2025). Pertumbuhan wholesales yang solid secara tahunan pada Juni 2026 maupun selama 1H26 disebabkan oleh efek low–base seiring lemahnya penjualan mobil pada 1H25.

- Head of Public Investment Danantara, Rani Piputri, menyatakan bahwa Danantara bukanlah sebuah “kendaraan bailout” untuk memberikan suntikan dana jangka pendek untuk menyelamatkan pasar saham. Pernyataan tersebut muncul di tengah tren foreign outflow dan penurunan IHSG seiring pengumuman MSCI sejak awal 2026 yang menyoroti masalah transparansi dan mengancam akan mereklasifikasi status pasar saham Indonesia ke frontier market.

- BPI Danantara melalui PT Danantara Development Management Fund telah menjalin kerja sama dengan perusahaan teknologi AS, Latitude Energy, untuk mengembangkan gasifikasi batu bara menjadi gas sintetis (syngas). Langkah ini diperkirakan mampu memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menekan angka impor gas Indonesia dan akan memanfaatkan Transport Integrated Gasification (TRIG), teknologi konversi batu bara tingkat lanjut yang diklaim paling mutakhir di dunia. President & CEO Latitude Energy Holdings Inc, Jacob Thomas menyatakan komitmennya untuk menjadikan proyek di Indonesia ini sebagai batu loncatan di pasar Asia Tenggara.

- IHSG hari ini ditutup menguat 0,2% ke level 5.924,36. Kenaikan hanya didorong sektor energi +0,90%, sektor barang baku +0,83%, dan sektor properti +0,79%. Total volume perdagangan saham bursa hari ini mencapai 18,51 miliar saham, dengan total nilai Rp8,85 triliun.

- Rupiah hari ini ditutup menguat 0,16% ke level 18.055, dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.084. Penguatan rupiah dan beberapa mata uang Asia lainnya sejalan dengan meredanya ketagangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sehingga harga minyak mentah kembali terpangkas ke level US$76 per barel. Penguatan rupiah pada akhir pekan ini lebih didorong dengan membaiknya sentimen eksternal dibandingkan perubahan fundamental domestik, namun investor masih wait and see terhadap arah kebijakan moneter global dan kondisi perekonomian domestik.

Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP