Financial Market Update

IDR10 : 7,08% - 7,10% (cl: 7,10%)
IDR5 : 7,02% - 7,05% (cl: 7,05%)
UST10 : 4,45% - 4,48% (last: 4,46%)

IDR : 17.985 - 18.006 (cl: 17.995)
DXY : 100,85 - 101,14 (last: 101,10)
JCI : 5.858,84 - 5.934,43 (cl: 5.916,07)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -1bps to 7,05%
FR0108 (10yr) : 0bps to 7,10%
FR0106 (15yr) : +1bps to 7,18%
FR0107 (20yr) : 0bps to 7,17%

Point of Interest:

Fokus investor global pekan ini diperkirakan tertuju pada rilis data US ISM Services PMI pasca ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed tahun ini mereda. Investor global juga masih wait and see dan cenderung berhati-hati menjelang rilis risalah rapat FOMC bulan Juni, untuk melihat perbedaan pandangan di antara para pembuat kebijakan, sekaligus memperoleh gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter di bawah kepemimpinan Warsh. Selain itu, investor global masih mencermati keputusan OPEC+ yang kembali meningkatkan produksi minyak.

• Melanjutkan pelonggaran bertahap atas kebijakan pemangkasan produksi sukarela, OPEC+ menyetujui kenaikan kuota produksi minyak sebesar 188.000 barel/ hari. Keputusan tersebut diambil oleh tujuh negara anggota yang sebelumnya menerapkan pengurangan produksi sukarela dan merupakan bagian dari upaya mengembalikan pasokan ke pasar secara bertahap.

Harga minyak mentah Brent sedikit melemah ke level US$72 pb, menyusul langkah OPEC+ yang sepakat untuk meningkatkan kuota produksi dan pulihnya kelancaran jalur kapal di Selat Hormuz.

Harga emas global melanjutkan penguatannya ke kisaran US$4.187/ons troi, akibat meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan tensi geopolitik di Timur Tengah.

Dari domestik, fokus pelaku pasar tertuju pada pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). PFII dinilai perlu ditujukan untuk memperkuat ketahanan sektor keuangan domestik dengan menjaga devisa hasil ekspor, tabungan residen dan dana investasi agar tidak terus mengalir ke pusar keuangan luar negeri. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa dana investasi yang dihimpun melalui PFII dapat digunakan untuk membiayai proyek-proyek domestik, termasuk Danantara, pembelian SBN, insentif pajak, guna meningkatkan daya saing PFII sebagai pusat keuangan internasional.

Pelaku pasar pekan ini wait and see terhadap rilis data BI a.l. Cadangan Devisa Juni 2026 (Selasa 7/7/26) – bulan lalu turun ke US$144,9 miliar akibar pembayaran ULN pemerintah dan intervensi stabilisasi rupiah; Indeks Keyakinan Konsumen Juni 2026 (Rabu 8/7/26) – sebelumnya di level 120,9 pada Mei 2026; Penjualan Ritel (Kamis 9/7/26) – sebelumnya di level 225 yang mencerminkan aktivitas belanja yang masih terjaga.

IHSG hari ini ditutup menguat 0,69% ke level 5.916,07, sikap investor masih wait and see tercermin dari volumen transaksi yang tercatat masih relatif rendah di kisaran Rp9,5 triliun. Kenaikan didorong oleh sektor barang konsumen siklikal +1,26%, sektor teknologi +0,92%, dan sektor energi +0,92%.

Rupiah hari ini ditutup melemah 0,18% ke level 17.995, dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.954. Pelemahan dipicu oleh penguatan indeks dolar AS, ketegangan geopolitik global, dan penantian pasar terhadap data cadangan devisa domestik.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP