Financial Market Update

IDR10 : 7,12% - 7,13% (cl: 7,12%)
IDR5 : 7,04% - 7,06% (cl: 7,05%)
UST10 : 4,36% - 4,39% (last: 4,37%)

IDR : 17.845 - 17.889 (cl: 17.848)
DXY : 101,07 - 101,39 (last: 101,10)
JCI : 5.800,29 - 5.942,77 (cl: 5.820,79)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -4bps to 7,05%
FR0108 (10yr) : 0bps to 7,12%
FR0106 (15yr) : 0bps to 7,23%
FR0107 (20yr) : -2bps to 7,20%

Point of Interest:

AS-Iran sepakat untuk menghentikan saling serang dan melanjutkan diskusi pasca MoU di Doha pada 30 Juni 2026. Kapal yang membawa muatan minyak diperbolehkan kembali melintasi Selat Hormuz setelah kesepakatan gencatan serangan tsb. Jumlah kapal yg melintas masih di bawah batas normal, hanya sekitar 22 kapal dan merupakan terendah sejak MoU disepakati. Sementara itu, pihak Iran menyatakan bahwa belum terdapat jadwal diskusi formal selanjutnya, bertentangan dengan pernyataan Presiden Trump melalui media sosialnya.

Ekspektasi inflasi AS untuk satu tahun ke depan versi University of Michigan turun menjadi 4,6% YoY pada Juni 2026 (Mei: 4,8% YoY). Penurunan ini mengindikasikan bahwa ekspektasi tekanan inflasi jangka pendek mulai mereda. Sementara itu, ekspektasi inflasi lima tahun ke depan tercatat sebesar 3,3% YoY pada Juni 2026 (Mei: 3,9% YoY), mengindikasikan bahwa ekspektasi inflasi jangka panjang semakin terkendali meskipun masih berada di atas level sebelum konflik Iran dimulai.

Hasil survey Bloomberg News memperlihatkan bahwa mayoritas ekonom melihat peluang kenaikan BI-Rate 25bps pada Q3-2026 menjadi 6,00%. Hal ini sejalan dengan pandangan ekonom bahwa Rupiah masih berpotensi tertekan ke depan sehingga memicu BI untuk bertindak menstabilkan nilai tukar. Survey juga menunjukkan ekspektasi kenaikan rata-rata inflasi headline 2026 menjadi 3,30% dari survey sebelumnya 3,25%. Adapun proyeksi GDP 2026 masih tetap sebesar 5,07% YoY.

MUFG: Penguatan terbatas Rupiah kemungkinan didukung oleh inflow SBN terbatas pasca kenaikan BI-Rate dan imbal hasil SRBI yang menarik. Namun demikian, risiko pelemahan Rupiah masih cenderung terbuka sejalan dengan ekspektasi higher-for-longer The Fed yang mendukung USD.

Oxford Economics: Pelemahan Rupiah diperkirakan berlanjut dan memberi ruang kenaikan BI-Rate pada Q3-2026. Analis Oxford Economics memperkirakan BI masih akan menaikkan suku bunga acuan seiring tekanan pelemahan Rupiah yg akan berlanjut didorong oleh ketidakpastian arah kebijakan fiskal Indonesia ke depan, meskipun harga minyak mengalami penurunan.

S&P Global Market Intelligence: BI akan cenderung memprioritaskan stabilitas Rupiah dibandingkan pertumbuhan ekonomi. Prinsipal ekonom di S&P GMI menilai bahwa kebijakan makroprudensial oleh BI akan mengimbangi sebagian dari perlambatan pertumbuhan ekonomi akibat kenaikan suku bunga. Sementara itu, dampak gencatan senjata AS-Iran yg berkelanjutan diperkirakan berdampak positif dalam meredakan tekanan eksternal bagi Indonesia.

Pimpinan DPR RI bersama Dewan Ekonomi Nasional, Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan Kementerian ESDM menggelar rapat koordinasi darurat. Agenda utama rapat difokuskan pada mitigasi risiko fiskal, penyelarasan kebijakan sektor riil (seperti pasokan gas industri), dan evaluasi pengetatan moneter pasca-kenaikan BI Rate ke 5,75%.

Wakil Ketua DEN Mari Elka Pangestu: Prioritas kebijakan jangka pendek pada pengendalian inflasi dan menjaga daya beli masyarakat. Kesepakatan bulat antara seluruh otoritas fiskal, moneter, dan parlemen mengenai prioritas kebijakan tsb memberikan sinyal positif kepada investor bahwa pemerintah tidak membiarkan pelemahan konsumsi domestik berlarut-larut.

Pemerintah membentuk Satgas Mitigasi PHK Nasional yang dipimpin Mensesneg Prastyo Hadi, sebagai respon darurat pemerintah terhadap lonjakan kasus PHK yg menembus 43ribu hingga Juni 2026, terutama di sektor manufaktur, tekstil, dan industri keramik. Satgas berfokus mempercepat persetujuan RKAB komoditas yg sempat tersendat dan berpotensi memicu PHK berantai pada hampir 150ribu pekerja di sektor terkait. Satgas juga bertugas menyelesaikan krisis pasokan gas industri dalam 1–2 hari ke depan guna menghentikan penutupan pabrik yg terdampak kenaikan harga dan penurunan pasokan gas industri.

Harga SBN seri benchmark bergerak menguat terbatas dengan kisaran penurunan yield sebesar 0-4 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup stabil di level 7,12% (ytd: +107bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp15,5 triliun, turun dibandingkan Rp17,3 triliun pada hari Jumat pekan lalu. Realisasi penempatan dana SAL pemerintah ke bank-bank Himbara sebesar Rp400 triliun pekan lalu mulai direspons aktif oleh pasar SBN, menandakan likuiditas perbankan domestik yg melonggar sehingga mendukung permintaan terhadap obligasi pemerintah.

IHSG melemah 1,28% ke level 5.820,79 sejalan dengan tekanan net jual asing serta antisipasi pelaku pasar terhadap rilis data inflasi dan neraca perdagangan Indonesia pada awal Juli mendatang. Hampir seluruh indeks sektoral bergerak melemah yang dipimpin oleh sektor infrastruktur (-1,58%), barang baku (-1,42%), dan keuangan (-1,14%).

Rupiah menguat 0,39% ke level 17.848 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.918, seiring dengan sentimen positif dari de-eskalasi ketegangan AS-Iran pasca kesepakatan kedua belah pihak untuk menghentikan serangan.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP