Financial Market Update
IDR10 : 7,08% - 7,16% (cl: 7,15%)
IDR5 : 7,14% - 7,27% (cl: 7,20%)
UST10 : 4,47% - 4,51% (last: 4,49%)
IDR : 17.845 - 17.872 (cl: 17.845)
DXY : 100,95 - 101,43 (last: 101,43)
JCI : 5.993,04 - 6.121,78 (cl: 6.101,33)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +6bps to 7,20%
FR0108 (10yr) : +7bps to 7,15%
FR0106 (15yr) : +7bps to 7,25%
FR0107 (20yr) : +8bps to 7,23%
Point of Interest:
• Revisi UU P2SK memperbolehkan lembaga negara (Kemenkeu, BI, dan BPI Danantara) menjadi pemegang saham bursa/BEI. Ketentuan tsb menjadi sorotan pelaku pasar karena menimbulkan kekhawatiran atas intervensi politik terhadap independensi regulator keuangan yg dapat mengurangi netralitas bursa, meskipun UU P2SK eksplisit mewajibkan bursa tetap menjaga independensinya.
• Pasal lain yg juga menjadi sorotan adalah terkait perlindungan hukum instrumen Danantara yg memberikan jaminan perlindungan hukum khusus bagi para investor pembeli obligasi yg diterbitkan Danantara termasuk Patriot Bond dan Merah Putih Bond. Data transaksi investor di pasar primer pada instrumen ini tidak dapat dijadikan dasar pemeriksaan perpajakan maupun alat bukti hukum di pengadilan. Langkah ini menuai polemik di pasar karena dikhawatirkan memicu celah pencucian uang, meskipun tujuannya adalah menarik likuiditas besar masuk kembali ke Indonesia.
• Pelaku pasar melanjutkan sikap wait and see terhadap pengumuman tahunan Country Classification Review MSCI (24 Juni) yg memicu sentimen negatif dan aksi jual di pasar domestik. Pengumuman MSCI tsb akan menentukan status pasar modal Indonesia apakah masih bertahan pada kategori EM atau diturunkan menjadi Frontier Market.
• Hasil lelang SUN 23 Juni 2026 mengindikasikan permintaan investor relatif lemah, khususnya di tenor panjang sejalan dengan rendahnya jumlah penawaran masuk. Total incoming bids turun menjadi Rp46,58 triliun dgn total dimenangkan sebesar Rp9,25 triliun (bid-to-cover 1,55x). Tenor pendek-menengah FR0109 (2031) menyerap alokasi terbesar Rp14,45 triliun dari incoming bids Rp15,04 triliun (btc 1,63x) dan WAY 7,21%, disusul oleh FR0108 (2036) menyerap Rp8,25 triliun dari incoming bids Rp10,65 triliun (btc 1,29x) dan WAY 7,19%.
• Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee menyatakan masih mencermati risiko inflasi dan mempertanyakan apakah faktor-faktor pendorong kenaikan harga saat ini benar-benar bersifat sementara. Hal ini mendorong kembali menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
• Sentimen risk-off di sektor teknologi mendorong penguatan USD, dengan indeks DXY menembus level tertinggi dalam satu tahun di atas 101 pada sesi Asia. Penguatan dolar didorong oleh kombinasi meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven di tengah aksi jual saham teknologi global serta kembali menguatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
• Perundingan damai AS-Iran kembali menjadi sumber ketidakpastian pasar setelah muncul perbedaan pernyataan terkait inspeksi fasilitas nuklir Iran, meskipun pencairan dana Iran senilai $12 miliar dan pelonggaran sanksi AS menunjukkan kemajuan negosiasi. Di saat yang sama, arus minyak melalui Selat Hormuz mencapai rekor 19 juta barel per hari dan Iran mulai meningkatkan ekspor minyak.
• Harga SBN seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 6-8 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 7 bps ke level 7,15% (ytd: +110bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp39,1 triliun, naik dibandingkan Rp11,6 triliun pada hari sebelumnya.
• IHSG melemah 0,25% ke level 6.101,33 seiring sikap wait-and-see investor menjelang pengumuman klasifikasi pasar oleh MSCI serta adanya aksi sell-off pada sektor teknologi global. Tekanan jual pada IHSG terutama dari emiten BYAN dan ARKO yg menjadi kontributor utama penurunan hari ini. Pelemahan sektoral dipimpin oleh utilitas (-1,48), barang baku (-1,13%), dan teknologi (-1,12%).
• Rupiah melemah tipis 0,07% ke level 17.845 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.832.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP