Financial Market Update

IDR10 : 7,03% - 7,09% (cl: 7,05%)
IDR5 : 7,03% - 7,16% (cl: 7,09%)
UST10 : 4,45% - 4,45% (last: 4,45%)

IDR : 17.788 - 17.858 (cl: 17.790)
DXY : 100,70 - 101,13 (last: 100,85)
JCI : 6.117,31 - 6.215,06 (cl: 6.177,14)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +19bps to 7,09%
FR0108 (10yr) : +4bps to 7,05%
FR0106 (15yr) : +4bps to 7,17%
FR0107 (20yr) : +2bps to 7,15%

Point of Interest:

MSCI Global Market Accessibility Review: Penilaian terhadap aspek information flow Indonesia turun menjadi negatif. MSCI masih mempertahankan status Indonesia dalam kategori EM, namun konfirmasi final baru akan diperoleh pada pengumuman klasifikasi pasar tahunan MSCI pada 24 Juni 2026. Dari 18 indikator aksesibilitas pasar yang dinilai, hanya satu yang mengalami perubahan, indikator Information Flow diturunkan dari "+" menjadi "-" akibat kekhawatiran atas transparansi kepemilikan saham dan praktik perdagangan terkoordinasi berdasarkan dokumen resmi MSCI. Sentimen pasar sempat tertekan pada awal perdagangan, namun berangsur membaik setelah pelaku pasar menilai risiko penurunan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market masih relatif rendah.

Pemerintah berencana meluncurkan paket insentif ekonomi Q3-2026 pada 22 Juni 2026 yang mencakup dukungan fiskal, bantuan pangan, dan subsidi transportasi untuk menjaga daya beli masyarakat serta mendukung permintaan domestik. Paket tersebut diperkirakan akan diumumkan oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto pada 22 Juni 2026 dan diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi moneter yang lebih ketat.

Kejaksaan Agung memperluas penyelidikan dugaan korupsi terkait program MBG senilai $15 miliar. Otoritas menahan satu tersangka tambahan, sehingga total tersangka menjadi enam orang, terkait yayasan yang terlibat dalam pengelolaan dapur program tsb. Perkembangan ini berpotensi menambah risiko politik dan tata kelola di tengah sentimen investor yang masih rapuh, mengingat besarnya skala program dan perannya yang strategis dalam agenda ekonomi pemerintah.

Hasil lelang SRBI pada 19 Juni 2026 menunjukkan minat investor yang masih solid. SRBI tenor 12 bulan mencatat BTC ratio tertinggi sebesar 29,17x dengan WAY 7,74% (prev: 7,59%), dilanjutkan oleh SRBI tenor 9 bulan dengan BTC ratio 3,03x dan WAY 7,55% (prev: 7,33%), sementara tenor 6 bulan mencatat BTC ratio terendah 1,09x dan WAY 7,42% (prev: 7,12%). Tingginya permintaan pada tenor SRBI yang lebih panjang menunjukkan investor mulai mengunci imbal hasil tinggi pasca kenaikan suku bunga BI, namun masih cenderung berhati-hati terhadap risiko durasi obligasi sehingga preferensi terhadap instrument tenor pendek masih sangat tinggi.

Penyaluran kredit Indonesia tumbuh 11,51% YoY pada Mei 2026 (Apr: 9,98%), menjadi laju pertumbuhan terkuat sejak Juli 2024, yang didorong oleh pertumbuhan kredit investasi 21,95% YoY, kredit modal kerja 8,09% YoY, dan kredit konsumsi 5,89% YoY. Ketahanan sektor perbankan tetap terjaga dengan dukungan likuiditas yang memadai, permodalan yang kuat, dan risiko kredit yang rendah. BI mempertahankan proyeksi pertumbuhan kredit 2026 pada kisaran 8%–12% YoY. Sementara itu, rata-rata suku bunga kredit tercatat sebesar 8,72% dan suku bunga deposito tenor satu bulan sebesar 4,26% pada Mei 2026.

Harga minyak Brent sedikit naik ke $80-$81/barel akibat penundaan pembicaraan lanjutan AS-Iran yang semula dijadwalkan pada 19 Juni. Konfirmasi tsb terjadi pasca Israel diberitakan menolak untuk menarik pasukannya dari wilayah Lebanon, yang dinilai Iran melanggar poin awal MoU. Akibatnya pelaku pasar mulai meragukan stabilitas jangka panjang gencatan senjata AS-Iran sehingga menahan optimisme global.

Harga SBN seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 2-19 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 4 bps ke level 7,05% (ytd: +101bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp9,3 triliun, turun dibandingkan Rp12,5 triliun pada hari sebelumnya.

IHSG menguat tipis 0,08% ke level 6.177,14 dipicu relief rally yang terbatas merespon pengumuman MSCI yang mempertahankan status kategori EM untuk Indonesia, namun menurunkan kriteria arus informasi Indonesia menjadi negatif. Sektor yang menguat antara lain infrastruktur (+1,61%), kesehatan (1,52%), dan barang konsumen primer (1,09%).

Rupiah melemah 0,45% ke level 17.790 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.710. Sentimen negatif dari penurunan kriteria information flow Indonesia oleh MSCI menekan Rupiah seiring net sell investor asing pada pasar domestik. Sementara itu, dari sisi global ketidakpastian geopolitik kembali membayangi seiring evaluasi pelaku pasar terhadap MoU AS-Iran yg dinilai masih rawan hambatan, serta berlanjutnya penguatan DXY akibat ekspektasi higher-for-longer pasca stance The Fed yg lebih hawkish pada FOMC meeting 18 Juni.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP