Financial Market Update

IDR10 : 6,88% - 7,01% (cl: 7,01%)
IDR5 : 6,86% - 6,90% (cl: 6,90%)
UST10 : 4,43% - 4,48% (last: 4,44%)

IDR : 17.710 - 17.862 (cl: 17.710)
DXY : 100,21 - 100,81 (last: 100,70)
JCI : 6.073,72 - 6.197,17 (cl: 6.172,34)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +3bps to 6,90%
FR0108 (10yr) : +13bps to 7,01%
FR0106 (15yr) : +11bps to 7,13%
FR0107 (20yr) : +10bps to 7,13%

Point of Interest:

The Fed mempertahankan FFR di kisaran 3,50%–3,75% sesuai ekspektasi pasar, menandai empat pertemuan berturut-turut tanpa perubahan suku bunga. Keputusan tersebut diambil secara bulat/unanimous (12-0). Meskipun keputusan suku bunga tidak mengejutkan, pasar menilai pernyataan kebijakan, proyeksi ekonomi, dan komentar Fed Chairman Kevin Warsh secara keseluruhan lebih hawkish dibandingkan ekspektasi.

Proyeksi suku bunga The Fed (dot plot) menunjukkan pergeseran yang lebih hawkish. Dalam SEP Juni, sebanyak 9 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini, termasuk 6 pejabat yang memperkirakan dua kali atau lebih kenaikan suku bunga. Sebaliknya, hanya satu pejabat yang masih memperkirakan penurunan suku bunga, sementara satu pejabat tidak menyampaikan proyeksinya. Pergeseran ini mencerminkan perubahan signifikan dibandingkan ekspektasi sebelumnya yg mengarah pada pelonggaran kebijakan moneter di 2026.

Summary of Economic Projection (SEP): Revisi naik proyeksi inflasi sedangkan proyeksi pertumbuhan ekonomi turun. The Fed merevisi naik proyeksi inflasi secara signifikan di tengah tingginya harga energi dan ketidakpastian geopolitik. Proyeksi inflasi PCE 2026 dinaikkan menjadi 3,6% (prev: 2,7%), sementara inflasi inti (Core PCE) direvisi menjadi 3,3% (prev: 2,7%). The Fed menegaskan bahwa inflasi masih berada di atas target 2% dan diperkirakan akan kembali ke level yang lebih stabil secara bertahap. Di sisi lain, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2026 diturunkan menjadi 2,2% (prev: 2,4%), meskipun kondisi pasar tenaga kerja dinilai tetap kuat dan masih mendukung aktivitas ekonomi.

Fed Chairman Kevin Warsh memberikan sinyal perubahan pendekatan komunikasi kebijakan moneter. Dalam pertemuan FOMC perdananya, Warsh tidak menyampaikan proyeksi suku bunga (dot plot) pribadi, menekankan pengurangan penggunaan forward guidance, serta menegaskan bahwa keputusan kebijakan ke depan akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi. Hilangnya sejumlah petunjuk terkait arah kebijakan ke depan dan keengganan Warsh untuk memberikan komitmen terhadap jalur suku bunga tertentu memperkuat persepsi pasar bahwa The Fed kini cenderung lebih hawkish dan kurang dapat diprediksi dibandingkan sebelumnya.

Presiden AS Trump menandatangani kesepakatan damai sementara dengan Iran yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz dan rencana pelonggaran sanksi terhadap minyak Iran. Langkah ini diharapkan dapat meredakan gangguan pasokan energi global dan menekan harga minyak. Namun, kesepakatan tsb mendapat kritik dari sejumlah tokoh Partai Republik karena dinilai memberikan konsesi berlebihan tanpa kejelasan mengenai program nuklir Iran. Sementara itu, isu nuklir dan rudal Iran masih akan dibahas dalam negosiasi lanjutan selama 60 hari ke depan, sehingga ketidakpastian terkait implementasi kesepakatan masih tetap tinggi.

Pelaku pasar mulai meningkatkan posisi yang mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed secepatnya bulan Juli. Vice Chairman Goldman Sachs, Rob Kaplan, menilai The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada September jika inflasi tidak melambat secara memadai. Founder dan Presiden Yardeni Research, Inc., Ed Yardeni, menilai kenaikan suku bunga menjadi opsi yang realistis untuk memastikan inflasi kembali ke target 2% The Fed. Merespon hal tsb DXY index menguat signifikan hingga di atas 100, seiring kembali dominannya ekspektasi kebijakan The Fed yang hawkish dibandingkan optimisme atas kesepakatan Iran. Bloomberg juga menilai sikap hawkish The Fed berpotensi mendorong penguatan USD lebih lanjut.

BI menaikkan BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75% pada RDG 17-18 Juni 2026 sesuai dengan ekspektasi mayoritas analis, merupakan kenaikan ketiga kali dalam sebulan terakhir. Suku bunga deposit dan lending facility juga mengalami kenaikan 25 bps masing-masing menjadi 4,75% dan 6,50%. Langkah ini diambil sebagai tindakan pre-emptive untuk menjaga stabilitas Rupiah dan mengendalikan inflasi serta menarik inflows. Kenaikan ini menandai pengetatan kebijakan moneter yg agresif dengan total 100 bps kenaikan BI-Rate sepanjang tahun 2026 (setelah kenaikan pada Mei dan 9 Juni).

Gubernur BI menegaskan bahwa kenaikan suku bunga merupakan bagian dari upaya maksimal untuk menjaga stabilitas Rupiah di tengah tingginya volatilitas global. BI juga mengumumkan pengetatan aturan pembelian valas tunai yg berlaku mulai 1 Juli, dimana pembelian tanpa dokumen pendukung dibatasi maksimal $10.000 per bulan per nasabah (sebelumnya $25.000). BI juga kembali membuka lelang repo tenor 3, 6, 9, dan 12 bulan guna memastikan likuiditas perbankan tetap memadai.

OJK resmi menetapkan Jeffrey Hendrik sebagai Direktur Utama baru PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2026–2030. Penunjukan tersebut, bersama enam eksekutif baru lainnya, masih menunggu persetujuan dalam RUPS 29 Juni. Langkah ini dipandang sebagai upaya memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia yang tengah mengalami tekanan kinerja.

CreditSights menilai obligasi USD perdana Danantara belum menawarkan kompensasi yang memadai terhadap risiko kredit, baik dari kondisi makroekonomi Indonesia maupun risiko spesifik entitas Danantara. Meski penerbitan obligasi senilai $1,5 miliar tersebut mendapat respons positif dari pasar, CreditSights tetap memperingatkan potensi volatilitas akibat sentimen negatif dan ketidakpastian makro yang masih berlangsung.

Harga SBN seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 3-13 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 13 bps ke level 7,01% (ytd: +96bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp12,5 triliun, turun dibandingkan Rp21,4 triliun pada hari sebelumnya.

IHSG melemah 0,78% ke level 6.172,34 dipicu faktor domestik dari kenaikan suku bunga BI dan dampaknya thd ekspektasi kinerja sektor perbankan. Tekanan jual terkonsentrasi pd sektor keuangan yg memiliki bobot besar dalam pergerakan indeks, terutama penurunan pada BBRI, BBCA, dan BMRI. Mayoritas sektor IHSG bergerak melemah, dengan pelemahan dipimpin oleh sektor infrastruktur (-1,96%), keuangan (-1,32%), dan kesehatan (-1,07%).

Rupiah menguat 0,16% ke level 17.710 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.738. Keputusan BI menaikkan suku bunga acuan dan kebijakan untuk memperketat aturan pembelian valas tunai, mampu membalik pelemahan Rupiah sejak awal pembukaan pasar hari ini hingga akhirnya ditutup menguat.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP