Financial Market Update

IDR10 : 6,94% - 7,03% (cl: 6,99%)
IDR5 : 6,90% - 7,21% (cl: 6,90%)
UST10 : 4,42% - 4,46% (last: 4,45%)

IDR : 17.680 - 17.848 (cl: 17.703)
DXY : 99,38 - 99,60 (last: 99,53)
JCI : 6.118,08 - 6.345,80 (cl: 6.254,97)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -29bps to 6,90%
FR0108 (10yr) : -24bps to 6,99%
FR0106 (15yr) : -6bps to 7,32%
FR0107 (20yr) : -32bps to 7,07%

Point of Interest:

AS-Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan interim untuk membuka kembali Selat Hormuz, yang membuka jalan bagi pembicaraan lanjutan terkait program nuklir Tehran dan pengakhiran konflik. Presiden Trump menyatakan jalur maritim akan dibuka segera setelah perjanjian/MoU ditandatangani pada 19 Juni 2026 di Swiss. Namun, Trump menegaskan jika Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir final dengan AS, maka militer AS dapat kembali menyerang Iran atau mengambil peran sebagai "guardian of the Middle East", sehingga masih terdapat aspek ketidakpastian meskipun saat ini pasar cenderung merespon positif pemberitaan terkait rencana penandatanganan perjanjian AS-Iran di Swiss pekan ini.

Harga minyak Brent turun ke level $82-$83/barel (turun sekitar 30% dari level puncaknya sejak perang terjadi) yang memicu global risk-on rally di seluruh kelas aset. DXY melemah, yield global turun, dan pasar saham menguat merespon pemberitaan kesepakatan AS-Iran. Volatilitas jangka pendek di pasar valuta asing menurun tajam seiring meredanya premi risiko geopolitik, meskipun pelaku pasar masih bersikap hati-hati sambil menunggu rincian resmi dari perjanjian yang disepakati. Para pemilik kapal minyak juga menegaskan perlunya kejelasan informasi lebih lanjut terkait detil kesepakatan MoU sebelum mereka berkomitmen melanjutkan aktivitas transit.

Presiden ECB Christine Lagarde memperingatkan bahwa tingginya harga energi mulai memicu tekanan inflasi putaran kedua, terutama melalui kenaikan upah. Kondisi ini menunjukkan bahwa bank sentral utama masih berpotensi mempertahankan kebijakan moneter yang ketat, sehingga prospek suku bunga global dan arus modal masih mungkin berfluktuasi serta tetap perlu dicermati.

BOJ diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25bps menjadi 1,00% pada pertemuan besok. Ekspektasi tsb didorong oleh meningkatnya risiko inflasi, terutama akibat tingginya harga energi di tengah konflik berkepanjangan di Timur Tengah, serta pelemahan JPY yang bertahan di sekitar level 160 per USD. BOJ juga menghadapi tekanan untuk menjaga kredibilitas kebijakan moneternya agar tidak dinilai tertinggal dalam merespons risiko inflasi yang meningkat.

Rilis data Producer Price Index (PPI) AS Mei 2026 naik 6,5% YoY dan 1,1% MoM, mencatat kenaikan tercepat sejak November 2022. Lonjakan tsb didorong dampak perang Iran yang meningkatkan tekanan inflasi, terutama melalui kenaikan harga energi sebesar 10,7% pada Mei. Sementara itu, inflasi inti produsen yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi meningkat 4,9% YoY. Data ini berpotensi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga pada 2026 guna menekan inflasi yang kembali meningkat.

Pelaku pasar menantikan hasil RDG Bulanan BI yang akan berlangsung 17-18 Juni 2026. Konsensus pasar memperkirakan BI akan meningkatkan suku bunga acuan 25 bps ke level 5,75%, setelah sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 25 bps ke 5,50% pada 9 Juni lalu (off-cycle).

Barclays mempertahankan proyeksi kenaikan 25 bps pada RDG BI 17-18 Juni, namun stabilisasi Rupiah yang lebih kuat berpotensi mengurangi kebutuhan BI untuk melanjutkan kenaikan suku bunga ke depan. Menurut Barclays, meredanya tekanan pada USD/IDR akan mengurangi urgensi pengetatan moneter lanjutan mengingat fokus utama siklus kenaikan suku bunga saat ini adalah stabilisasi nilai tukar. BI berpotensi berbalik dan kembali menurunkan suku bunga tahun depan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Danantara menjajaki penerbitan obligasi tenor 30 tahun pasca keberhasilan penerbitan global bond denominasi USD pertama kali pada pekan lalu. CEO Danantara Rosan Roeslani menyatakan bahwa investor internasional menunjukkan minat thd obligasi tenor hingga 30 tahun selama roadshow yang menjangkau 122 investor di London, New York, dan Hong Kong. Rosan menegaskan bahwa investor tetap percaya thd prospek ekonomi Indonesia, meskipun pasar keuangan domestik sempat mengalami tekanan beberapa waktu terakhir.

Fitch Ratings merevisi prospek PLN menjadi Negatif dari sebelumnya Stabil. Langkah ini mengikuti revisi prospek sovereign rating Indonesia yang juga diubah menjadi negatif akibat ketidakpastian bauran kebijakan fiskal. Meski demikian, peringkat utang pokoknya dipertahankan pada level BBB karena jaminan dukungan pemerintah yang sangat kuat.

Posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia meningkat menjadi $439,8 miliar pada April 2026 (Mar: $433,9 miliar). Dari total tersebut, ULN pemerintah tercatat sebesar $216,4 miliar, sementara ULN swasta mencapai $193,2 miliar.

Harga SBN seri benchmark bergerak menguat dengan kisaran penurunan yield sebesar 6-32 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 24 bps ke level 6,99% (ytd: +94bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp25,1 triliun, naik dibandingkan Rp17,7 triliun pada hari Jumat lalu. Penurunan yield turut ditopang oleh spekulasi bahwa BI mungkin tidak perlu menaikkan suku bunga acuan kembali serta penurunan harga minyak dunia yang membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan eksternal Indonesia.

IHSG menguat 4,12% ke level 6.254,97 ditopang oleh sentimen positif global terkait kesepakatan interim AS-Iran. Hampir seluruh sektor IHSG bergerak menguat, dengan penguatan dipimpin oleh sektor barang baku (+7,26%), keuangan (+5,23%), dan industri (+4,51%).

Rupiah menguat 0,93% ke level 17.703 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.870. Global risk-on akibat kesepakatan AS-Iran menyebabkan IDR, PHP, dan INR menjadi mata uang Asia terkuat hari ini terhadap USD. JPMorgan merevisi rekomendasi menjadi Overweight thd eksposur EM currencies, sementara Bloomberg melaporkan bahwa trader dan hedge funds mulai melepas eksposur long USD dan mulai membuka posisi untuk menambah eksposur long pada mata uang Asia, termasuk JPY.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP