Financial Market Update

IDR10 : 7,36% - 7,43% (cl: 7,40%)
IDR5 : 7,41% - 7,50% (cl: 7,42%)
UST10 : 4,51% - 4,57% (last: 4,52%)

IDR : 17.938 - 18.000 (cl: 17.993)
DXY : 99,88 - 100,25 (last: 100,22)
JCI : 5.784,51 - 6.010,49 (cl: 5.886,03)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +1bps to 7,42%
FR0108 (10yr) : +9bps to 7,40%
FR0106 (15yr) : +10bps to 7,51%
FR0107 (20yr) : +1bps to 7,41%

Point of Interest:

OECD memproyeksikan defisit anggaran Indonesia pada 2026 berisiko melebar hingga menyentuh batas aturan fiskal maksimal 3% dari PDB. Angka ini di atas asumsi makro pemerintah yang menargetkan defisit 2,68% dari PDB. Sentimen negatif terkait fiskal ini memicu aksi jual di pasar obligasi dan menekan Rupiah pada hari ini.

Dampak kenaikan suku bunga off-cycle oleh BI mulai memudar, mengindikasikan kepercayaan pelaku pasar yang belum kembali, khususnya terhadap isu struktural fiskal Indonesia yang belum terselesaikan. Tekanan jual di pasar SBN kembali meningkat sejalan dengan Rupiah yang kembali tertekan. Citigroup dan ANZ kembali menekankan bahwa investor menginginkan kejelasan terkait kebijakan fiskal dan bukan hanya kenaikan suku bunga acuan. Analis Robeco bahkan mengatakan Indonesia baru berada di fase awal dari turnaround story, mensinyalkan bahwa tekanan masih akan terus berlanjut.

Bloomberg: Pelaku pasar menilai BI masih berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada RDG 17–18 Juni mendatang. Ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan tersebut dinilai sebagai indikasi bahwa tekanan di pasar keuangan masih berlangsung, dan bukan sebagai sinyal pulihnya kepercayaan investor terhadap Indonesia.

Perhatian investor kembali tertuju pada prospek belanja pemerintah dan kredibilitas fiskal. Pemerintah dilaporkan telah mengoperasikan 27.877 dapur program MBG, sekitar 25% di atas target awal 21.000 dapur, yang menimbulkan tambahan kebutuhan anggaran sekitar Rp1 triliun per bulan.

Pemerintah juga merilis kerangka fiskal 2027 dengan target defisit 1,8%–2,4% PDB, pertumbuhan ekonomi hingga 6,5%, serta asumsi nilai tukar Rupiah di kisaran Rp16.800–17.500 per dolar AS. Namun demikian, pelaku pasar cenderung pesimis terhadap kredibilitas narasi konsolidasi fiskal, yang diperparah oleh asumsi nilai tukar yang dinilai terlalu optimis dan lebih merupakan aspirasi dibandingkan jangkar kebijakan yang kredibel. Informasi terkait jumlah penerbitan utang baru pemerintah selama Mei yang mencapai Rp386 triliun turut memicu tekanan lebih lanjut di pasar SBN.

Danantara meluncurkan penerbitan obligasi global perdana berdenominasi USD tenor 5 dan 10 tahun, dengan target penghimpunan dana sekitar $1 miliar. Transaksi ini dipandang sebagai katalis penting bagi sentimen pasar Indonesia karena akan menjadi indikator minat investor global terhadap aset Indonesia di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi. Di saat yang sama, pemerintah dikabarkan mempertimbangkan pengurangan sentralisasi ekspor komoditas dan peningkatan pengawasan, yang berpotensi sedikit meredakan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi.

Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia turun ke level 120,9 pada Mei 2026 dari level 123,0 (Apr). Penurunan tersebut didorong oleh persepsi yang lebih lemah terhadap kondisi ekonomi saat ini. Meskipun terjadi penurunan, sentimen konsumen secara keseluruhan tetap berada di teritori optimis, menunjukkan kepercayaan konsumen yang berkelanjutan terhadap prospek ekonomi.

Pelaku pasar merespons isu rencana aksi demonstrasi besar besok yang meningkatkan sikap berhati-hati dalam jangka pendek. Pelaku pasar menilai bahwa berbagai langkah yang ditempuh pemerintah dan otoritas untuk menjaga stabilitas Rupiah belum cukup kuat untuk mengembalikan kepercayaan pasar secara penuh. Hal ini tercermin dari pelemahan Rupiah yang kembali mendekati level 18.000 pada hari ini, disertai peningkatan yield SBN dan pelemahan IHSG.

Sentimen risk-off global kembali terjadi setelah AS mengancam akan menyerang Iran dengan sangat keras dan mengambil alih Pulau Kharg. Presiden Trump menegaskan bahwa AS dalam waktu dekat akan memegang kendali total atas pasar minyak dan gas Iran yang berada di Pulau Kharg. Iran merespons dengan mengumumkan penutupan total Selat Hormuz bagi seluruh kapal komersial dan tanker minyak. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga langsung meluncurkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait.

Rilis data CPI AS Mei 2026 melonjak ke 4,2% YoY sesuai ekspektasi (Apr: 3,8%), meskipun Core CPI sedikit melemah ke 0,2% MoM (surv: 0,3%). Lonjakan inflasi tahunan ke level tertinggi sejak 2023 tsb terutama disebabkan oleh kenaikan harga energi akibat perang Iran. Sementara itu, inflasi headline China stabil di 1,2% YoY pada Mei 2026 (surv: 1,3%), sedangkan inflasi inti tercatat sebesar 1,1% YoY (Apr: 1,2%). Peningkatan ini utamanya didorong oleh biaya transportasi dan energi yang lebih tinggi di tengah gangguan rantai pasokan yang terus berlanjut dan harga minyak yang tinggi yang disebabkan oleh tensi geopolitik di Timur Tengah.

Harga SBN seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 1-10bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 9 bps ke level 7,40% (ytd: +135bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp21,3 triliun, turun dibandingkan Rp21,8 triliun pada hari sebelumnya.

IHSG melemah terbatas 0,28% ke level 5.886,03 di tengah sentimen global dan domestik yang masih fragile dan aksi profit taking terbatas. Mayoritas sektor IHSG bergerak melemah, dengan pelemahan terbesar terutama pada sektor barang baku (-4,27%), energi (-2,12%), dan transportasi dan logistik (-1,41%).

Rupiah melemah 0,22% ke level 17.993 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.953.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP