Financial Market Update
IDR10 : 7,36% - 7,40% (cl: 7,36%)
IDR5 : 7,19% - 7,43% (cl: 7,19%)
UST10 : 4,43% - 4,50% (last: 4,48%)
IDR : 17.855 - 17.958 (cl: 17.870)
DXY : 99,64 - 99,91 (last: 99,77)
JCI : 5.952,85 - 6.074,07 (cl: 6.007,66)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : -23bps to 7,19%
FR0108 (10yr) : -4bps to 7,36%
FR0106 (15yr) : -13bps to 7,38%
FR0107 (20yr) : -2bps to 7,39%
Point of Interest:
• Sentimen investor membaik seiring munculnya indikasi bahwa AS-Iran semakin mendekati penyelesaian diplomatik. Presiden Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan militer dan menyatakan bahwa proses negosiasi dengan Iran menunjukkan perkembangan yang konstruktif. Optimisme pasar semakin menguat setelah beredar laporan bahwa rancangan kesepakatan AS-Iran mencakup pencabutan sanksi minyak AS terhadap Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz. Meskipun sejumlah isu penting masih dalam tahap negosiasi, perkembangan tersebut meningkatkan ekspektasi meredanya risiko geopolitik dan membaiknya stabilitas pasar keuangan global.
• Sentimen pasar global turut didukung oleh debut perdana saham SpaceX di Nasdaq yang mencatat kenaikan 19% pada hari pertama perdagangan setelah IPO (record breaking). Investor menjadikan kinerja kuat tersebut sebagai indikator risk appetite pasar dan semakin memperkuat reli pasar saham yang sebelumnya didorong oleh optimisme terhadap kemajuan negosiasi AS-Iran. Sementara investor di pasar EM mencermati IPO SpaceX sebagai sinyal bahwa minat terhadap aset berisiko global masih tetap terjaga menjelang akhir pekan.
• Data CFTC menunjukkan posisi net long USD mencapai $27,8 miliar per 9 Juni 2026, tertinggi sejak Februari 2025, didorong oleh meningkatnya permintaan USD sbg safe haven di tengah berlanjutnya konflik di Timur Tengah. Bagi pasar Indonesia, penguatan USD yang berkelanjutan berpotensi memberikan tekanan terhadap Rupiah serta meningkatkan biaya pembayaran kewajiban utang valas. Oleh karena itu, meskipun Rupiah mencatat penguatan mingguan terbaik sejak Oktober setelah kenaikan suku bunga BI, tingginya posisi bullish terhadap USD mengindikasikan risiko volatilitas nilai tukar yang masih perlu diwaspadai ke depan.
• Harga minyak Brent turun ke kisaran $85-$86/barel sejalan dengan perkembangan terkini AS-Iran yang cukup konstruktif. Hal ini turut memberikan sentimen positif bagi aset Indonesia antara lain dari meredanya ekspektasi tekanan inflasi mengingat posisi Indonesia sebagai net importir minyak.
• Bloomberg: Penguatan Rupiah pasca kenaikan suku bunga BI berpotensi bersifat sementara. Menurut Bloomberg, faktor-faktor struktural yang mendorong arus keluar modal asing, termasuk kekhawatiran terhadap arah kebijakan ekonomi yang lebih intervensif di bawah pemerintahan Presiden Prabowo masih belum teratasi. Oleh karena itu, tekanan terhadap Rupiah diperkirakan tetap berlanjut dan level Rp18.000 per USD masih berisiko kembali ditembus dalam waktu dekat.
• BI melaporkan peningkatan inflow ke instrumen SRBI serta ke SBN tenor pendek yang mengindikasikan investor asing merespons positif kebijakan off-cycle rate hike. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti juga menyatakan keyakinannya bahwa Rupiah akan terus menguat menuju level fundamentalnya, dengan dukungan optimalisasi seluruh instrumen kebijakan secara konsisten dan terukur. Peningkatan yield SRBI dan SBN dinilai berhasil menarik aliran modal portofolio asing, sehingga mendorong permintaan Rupiah dan memperkuat pasar obligasi domestik.
• Danantara berhasil menerbitkan obligasi global berdenominasi USD senilai $1,5 miliar, terbagi menjadi $750 juta tenor 5 tahun (yield 5,35%) dan $750 juta tenor 10 tahun (yield 5,95%). Total order book mencapai $4,6 miliar atau lebih dari tiga kali nilai penerbitan, dengan final pricing turun sebesar 35bps dari indikasi awal. Bloomberg menilai keberhasilan tsb positif bagi pemerintahan Presiden Prabowo di tengah tekanan yang melanda pasar keuangan domestik, sekaligus sbg indikasi masih terjaganya minat investor institusi global dan kepercayaan terhadap kualitas kredit Indonesia.
• BI dilaporkan memperketat pengawasan transaksi valas perbankan guna memastikan pembelian USD dilakukan untuk kebutuhan komersial dan bukan spekulatif. BI disebut memantau sejumlah bank dengan volume transaksi valas yang tinggi serta mendorong masuknya likuiditas USD ke pasar domestik. Langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pelemahan Rupiah, sementara sejumlah bank internasional dilaporkan semakin berhati-hati menempatkan likuiditas USD di Indonesia di tengah ketidakpastian kebijakan dan tekanan pasar keuangan domestik.
• Fitch Ratings menilai eksportir komoditas Indonesia menghadapi peningkatan risiko kredit seiring penerapan kebijakan ekspor satu pintu. Menurut Fitch, kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan risiko terhadap kinerja sektor ekspor dan penerimaan negara dalam jangka panjang, sementara implikasi risikonya dinilai belum sepenuhnya tercermin dalam harga instrumen pasar obligasi domestik.
• Harga SBN seri benchmark bergerak menguat dengan kisaran penurunan yield sebesar 2-23 bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 4 bps ke level 7,36% (ytd: +132bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp17,7 triliun, turun dibandingkan Rp21,3 triliun pada hari sebelumnya.
• IHSG menguat 2,07% ke level 6.007,66 seiring membaiknya sentimen global setelah pernyataan Presiden Trump bahwa AS-Iran semakin mendekati kesepakatan dan berpotensi menandatangani kesepakatan dalam waktu dekat di Eropa. Hampir seluruh sektor IHSG bergerak menguat, dengan penguatan dipimpin oleh sektor barang baku (+4,85%), energi (+4,66%), dan transportasi (+4,46%).
• Rupiah menguat 0,68% ke level 17.870 dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.993 seiring sentimen global yang membaik.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP