Financial Market Update

IDR10 : 7,22% - 7,31% (cl: 7,31%)
IDR5 : 7,25% - 7,41% (cl: 7,41%)
UST10 : 4,51% - 4,55% (last: 4,53%)

IDR : 17.903 - 17.998 (cl: 17.953)
DXY : 99,72 - 100,03 (last: 99,96)
JCI : 5.677,97 - 5.942,94 (cl: 5.902,38)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +9bps to 7,41%
FR0108 (10yr) : -6bps to 7,31%
FR0106 (15yr) : +1bps to 7,41%
FR0107 (20yr) : -1bps to 7,40%

Point of Interest:

Gubernur BI menyelenggarakan investor call pada Selasa malam pasca menaikkan BI-Rate 25bps ke 5,50%. Diskusi tersebut berlangsung setelah penutupan pasar setempat dimana Gubernur BI mensinyalkan ruang bagi kenaikan yield SBN lebih lanjut dan terbukanya peluang untuk kembali menaikkan suku bunga acuan. Komunikasi intensif dengan investor offshore tersebut membantu memulihkan kredibilitas kebijakan dan memperkuat keyakinan investor terhadap komitmen stabilisasi sehingga memicu rebound terbatas pada pergerakan aset Rupiah hari ini (10/6).

Kejaksaan Agung memeriksa sejumlah bankir di Maybank Indonesia sebagai bagian dari penyelidikan terhadap dugaan praktik under-invoicing ekspor yang melibatkan Grup Salim. Perusahaan diduga melakukan pencatatan nilai barang di bawah harga pasar untuk menyamarkan keuntungan dan mengurangi kewajiban pajak. Pemeriksaan terhadap pihak perbankan mengindikasikan bahwa cakupan investigasi kini diperluas, tidak hanya menyasar eksportir tetapi juga lembaga keuangan yang memfasilitasi transaksi terkait perdagangan komoditas tersebut.

Pelaku pasar menilai bahwa rally pada hari ini (10/6) belum sepenuhnya mengatasi persoalan kepercayaan investor terhadap Indonesia. Citigroup dan ANZ menyatakan bahwa investor masih menunggu kejelasan mengenai arah kebijakan fiskal Presiden Prabowo sebelum meningkatkan eksposur secara lebih berkelanjutan. Gama Asset Management juga menilai bahwa tantangan utama BI saat ini tidak hanya terkait kebijakan moneter, melainkan juga menyangkut kredibilitas dan konsistensi kebijakan secara keseluruhan. Kekhawatiran terhadap kredibilitas kebijakan juga dipengaruhi oleh rencana perluasan mandat BI dan peningkatan pengawasan DPR terhadap bank sentral. Sinarmas Sekuritas mengingatkan bahwa penguatan aset domestik (terutama saham) hari ini bukan disebabkan oleh perubahan signifikan pada outlook fundamental perbankan, melainkan akibat kebijakan BI yg memicu penguatan Rupiah.

BMKG memperkirakan puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus–September 2026, dengan fenomena El Niño berpotensi berkembang dan bertahan hingga awal 2027 pada intensitas moderat hingga kuat. Kondisi yang lebih kering dari normal diperkirakan terjadi di sekitar separuh wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, dan Sulawesi. BMKG mengimbau penyesuaian pola tanam serta peningkatan kesiapsiagaan terhadap risiko kekeringan dan kebakaran hutan. Hal ini meningkatkan risiko inflasi pangan ke depan dan menjadi tantangan bagi upaya BI dalam mengendalikan inflasi untuk tetap dalam sasaran target.

Ketegangan geopolitik global kembali meningkat setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran. Presiden Trump bahkan menyatakan bahwa Iran harus membayar harga atas lambatnya kemajuan negosiasi damai antara kedua negara. Di sisi lain, Menlu Iran Ismail Baghaei menyatakan bahwa upaya diplomatik dengan AS sulit untuk maju seiring pelanggaran gencatan senjata berulang yang dilakukan pihak AS-Israel.

Harga SBN seri benchmark bergerak mixed dimana tenor 5 tahun mencatat kenaikan yield sebesar 9bps, tenor 10 tahun mencatat penurunan yield 6 bps, dan tenor 15 tahun ke atas cenderung sideways pada kisaran 1bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun ke level 7,31% (ytd: +126bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp21,8 triliun, turun dibandingkan Rp31,8 triliun pada hari sebelumnya. Penguatan obligasi masih ditopang oleh berlanjutnya sentimen positif dari keputusan off-cycle BI yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25bps kemarin, meskipun tenor pendek cenderung melemah akibat ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh BI. Di sisi lain, SBN tenor panjang masih tertekan mengindikasikan bahwa investor enggan menambah eksposur durasi seiring masih tingginya ketidakpastian fiskal di bawah pemerintahan Presiden Prabowo.

IHSG menguat 2,71% ke level 5.902,38 di tengah pelemahan bursa saham MSCI EM yang terutama disebabkan oleh faktor idiosyncratic dari membaiknya sentimen terhadap kredibilitas kebijakan domestik pasca keputusan off-cycle rate hike oleh BI kemarin. Penguatan saham BBCA merupakan kontributor utama dari kinerja IHSG hari ini. Seluruh sektor IHSG bergerak menguat, dengan penguatan terbesar terutama pada sektor transportasi dan logistik (+4,51%), teknologi (+4,37%), dan properti (+3,39%).

Rupiah menguat 0,59% ke level 17.953 dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.060.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP