Financial Market Update
IDR10 : 7,23% - 7,47% (cl: 7,37%)
IDR5 : 7,29% - 7,45% (cl: 7,32%)
UST10 : 4,54% - 4,58% (last: 4,55%)
IDR : 18.040 - 18.186 (cl: 18.060)
DXY : 99,71 - 100,06 (last: 99,73)
JCI : 5.318,15 - 5.746,65 (cl: 5.746,65)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +3bps to 7,32%
FR0108 (10yr) : +13bps to 7,37%
FR0106 (15yr) : +17bps to 7,40%
FR0107 (20yr) : +21bps to 7,41%
Point of Interest:
• Bank Indonesia di luar ekspektasi menaikkan BI-Rate sebesar 25bps menjadi 5,50% melalui keputusan di luar jadwal RDG reguler, sebagai langkah untuk menstabilkan Rupiah yang mengalami tekanan serta memperkuat daya tarik aset domestik di tengah aksi jual pada pasar keuangan Indonesia. Suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility juga naik masing-masing menjadi 4,50% dan 6,25%. BI menyatakan bahwa kenaikan suku bunga ditujukan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar, menjaga ketahanan eksternal perekonomian, dan memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran pada 2026–2027.
• Keputusan BI diambil setelah cadangan devisa Indonesia mencatat penurunan selama lima bulan berturut-turut hingga Mei 2026 dan sehari setelah yield SUN tenor 10 tahun melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Kenaikan suku bunga ini merupakan off-cycle rate hike kedua yang dilakukan Gubernur Perry sejak menjabat, setelah langkah serupa pada Mei 2018 untuk meredam gejolak pasar negara berkembang akibat kenaikan suku bunga AS.
• Keputusan BI memicu aksi short-covering di pasar valas, yang tercermin dari penguatan Rupiah dengan penurunan USD/IDR sekitar 0,4%–0,7% hanya dalam beberapa menit setelah pengumuman. Head of Asia Macro Strategy Sumitomo Mitsui Banking Corp. (SMBC), Jeff Ng, menilai level Rp18.200 per dolar AS berpotensi menjadi area support jangka pendek bagi Rupiah. Meski demikian, ia menekankan bahwa langkah BI lebih berperan sebagai upaya stabilisasi jangka pendek dan belum cukup untuk mengindikasikan pembalikan tren pelemahan Rupiah secara struktural.
• Analis menilai kenaikan BI-Rate belum cukup untuk membalikkan tren pelemahan Rupiah. BNY menilai bahwa kenaikan suku bunga kumulatif sebesar 75bps oleh BI belum tentu cukup untuk menghentikan depresiasi Rupiah. Credit Agricole CIB juga menilai bahwa langkah pengetatan moneter BI belum mampu membalikkan tren pelemahan Rupiah, namun dapat membantu meredam volatilitas dan menstabilkan Rupiah dalam jangka pendek. Hal ini dikarenakan berbagai tekanan fundamental yang masih membebani Rupiah, antara lain tingginya harga minyak, kekhawatiran terhadap prospek peringkat kredit Indonesia, dan ketidakpastian arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo.
• Tekanan jual di pasar SBN semakin meningkat pasca kenaikan suku bunga BI. Hal ini didorong oleh tiga faktor utama, yaitu i) pasar melakukan repricing terhadap ekspektasi suku bunga karena langkah off-cycle BI dipandang membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan pada RDG Juni; ii) tekanan jual investor asing masih berlanjut karena kekhawatiran terhadap prospek fiskal dan arah kebijakan ekonomi pemerintah belum mereda; dan iii) sentimen negatif di pasar obligasi emerging Asia akibat tingginya risiko inflasi dan fiskal turut mendorong kenaikan yield SBN.
• Menkeu Purbaya menyatakan inversi yield curve SBN saat ini tidak mencerminkan risiko resesi, namun merupakan bagian dari strategi pemerintah dan BI untuk menjaga daya tarik aset domestik. Purbaya juga menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan perekonomian masih berada dalam fase ekspansi.
• Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco mengusulkan agar bank-bank BUMN mempertimbangkan aksi buyback saham guna mendukung pasar modal di tengah pelemahan IHSG. Pembahasan tsb dilakukan dalam pertemuan yang turut dihadiri oleh perwakilan pemerintah (Mensesneg), Danantara, Himbara, dan Perbanas. Ketua Himbara sekaligus Dirut BNI, Putrama Wahju, menegaskan bahwa fundamental perbankan BUMN tetap solid, tercermin dari pertumbuhan kredit rata-rata sekitar 20% dan rasio kredit bermasalah (NPL) yang terjaga di bawah 2%.
• Lelang SUN 9 Juni 2026 mencatat total penawaran masuk sebesar Rp46,70 triliun dan total dimenangkan Rp26,35 triliun (btc 1,77x). Total permintaan lelang turun dibandingkan lelang SUN sebelumnya Rp57,30 triliun (26 Mei). Minat investor terutama pada tenor pendek dan menengah, yaitu seri FR0109 (Rp15,29 triliun, btc 2,20x) dan FR0108 (Rp8,45 triliun, btc 4,69x). Minat pada tenor panjang/ultra-long masih terbatas yg mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar mengambil risiko durasi di tengah ketidakpastian arah fiskal domestik dan suku bunga global. Cut off yield dan weighted avg yield yg dimenangkan pada seluruh tenor mengalami kenaikan dibandingkan lelang sebelumnya.
• Tekanan dari sentimen global sedikit mereda setelah indeks USD melemah, yang disebabkan oleh prospek de-eskalasi konflik militer langsung antara Iran-Israel dan penurunan harga minyak. Presiden Trump juga secara terbuka memperingatkan bahwa Israel berisiko ditinggalkan sendirian melawan Iran jika terjadi eskalasi serangan lebih lanjut.
• Harga SBN seri benchmark melanjutkan pelemahan dengan kenaikan yield sebesar 3-21bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 13bps ke level 7,37% (ytd: +132bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp31,8 triliun, naik dibandingkan Rp15,6 triliun pada hari sebelumnya.
• IHSG menguat tajam sebesar 7,57% ke level 5.746,65 didorong oleh meningkatnya kepercayaan investor terhadap komitmen BI dalam menjaga stabilitas pasar keuangan melalui kenaikan suku bunga off-cycle, aksi oversold rebound setelah koreksi yang dalam pada sesi sebelumnya, wacana buyback saham oleh bank-bank BUMN sebagai dukungan terhadap pasar modal, serta meningkatnya kepastian kebijakan di sektor pertambangan setelah pemerintah menegaskan tidak akan menerapkan skema baru gross split. Seluruh sektor IHSG bergerak menguat, dengan penguatan terbesar terutama pada sektor barang baku (+9,97%), energi (+9,20%), dan industri (+8,55%).
• Rupiah menguat 0,65% ke level 18.060 dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.178, sejalan dengan off-cycle rate hike oleh BI serta meredanya tensi geopolitik global.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP