Financial Market Update

IDR10 : 6,85% - 7,24% (cl: 7,24%)
IDR5 : 6,90% - 7,30% (cl: 7,29%)
UST10 : 4,54% - 4,58% (last: 4,56%)

IDR : 18.090 - 18.190 (cl: 18.178)
DXY : 99,97 - 100,21 (last: 100,14)
JCI : 5.317,91 - 5.523,94 (cl: 5.342,14)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +38bps to 7,29%
FR0108 (10yr) : +39bps to 7,24%
FR0106 (15yr) : +25bps to 7,23%
FR0107 (20yr) : +22bps to 7,20%

Point of Interest:

Data ketenagakerjaan AS periode Mei 2026 diumumkan sebesar 172 ribu, jauh lebih kuat dari ekspektasi 88 ribu, dan merupakan kinerja tiga bulanan terkuat selama lebih dari dua tahun. Angka NFP bulan Apr dan Mar masing-masing direvisi naik menjadi 179 ribu dan 214 ribu. Tingkat pengangguran cenderung stabil di 4,3% sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Penambahan pekerjaan terjadi di sektor rekreasi dan perhotelan, pemerintah daerah, kesehatan, dan manufaktur. Data NFP mencerminkan kondisi pasar tenaga kerja yang kuat di AS sehingga mendorong pasar kembali memperhitungkan kemungkinan sikap The Fed yang lebih hawkish, sehingga berpotensi mempersempit selisih suku bunga yg akan mendorong akselerasi arus keluar modal dari aset berdenominasi rupiah. DXY dan yield UST bergerak naik merespon data ketenagakerjaan AS tsb.

Goldman Sachs tidak lagi memperkirakan penurunan suku bunga The Fed pada tahun 2026 dan memundurkan proyeksi dua kali pemangkasan suku bunga ke Juni dan Desember 2027. Perubahan proyeksi tersebut mencerminkan kuatnya kondisi pasar tenaga kerja AS serta meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi yang dipicu konflik Iran. Di sisi lain, Fed Chairman, Kevin Warsh, menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan ketahanan ekonomi dan pasar tenaga kerja dengan tekanan inflasi yang berpotensi tetap tinggi akibat kenaikan harga minyak.

BI menegaskan komitmen untuk tetap berada di pasar melalui strategi triple intervention guna mengendalikan volatilitas nilai tukar Rupiah agar tidak bergerak berlebihan. BI menegaskan bahwa depresiasi Rupiah sejalan dengan pelemahan mayoritas mata uang negara emerging markets akibat penguatan indeks Dolar AS (DXY). Fokus bank sentral saat ini adalah memitigasi fluktuasi harian yang terlalu ekstrem, bukan menahan level angka kurs tertentu.

Pemerintah, DPR, dan BI pada akhir pekan lalu (6 Juni) sepakat merumuskan langkah taktis meningkatkan daya tarik imbal hasil (yield) investasi di instrumen domestik guna menarik aliran modal masuk. Narasi tsb diterjemahkan oleh pelaku pasar sebagai sinyal bahwa Bank Indonesia atau Pemerintah akan membiarkan yield SBN naik lebih tinggi agar kembali diminati oleh investor asing. Akibatnya, terjadi aksi jual preemptif yang cukup masif di pasar obligasi pemerintah domestik pada perdagangan hari ini.

Investor melakukan repositioning menjelang lelang SUN yang akan dilaksanakan besok (9 Juni), dengan menjual kepemilikan di pasar sekunder untuk memperoleh yield yang lebih tinggi melalui lelang. Lonjakan yield juga mengindikasikan adanya arus keluar investor asing, seiring investor yg menuntut tingkat imbal hasil lebih tinggi sebelum kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia.

Tekanan jual di pasar SBN semakin meningkat seiring absennya Bank Indonesia dari pasar sekunder pada perdagangan hari ini. Menurut pelaku pasar, BI yang pada pekan lalu aktif melakukan pembelian SBN di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas yield tidak terlihat melakukan intervensi pada hari ini. Kondisi tersebut memperdalam koreksi harga SBN di tengah tingginya tekanan jual oleh pelaku pasar. Di sisi lain, BI menegaskan tidak terdapat perubahan jadwal RDG BI, dengan keputusan suku bunga berikutnya tetap dijadwalkan pada 17–18 Juni 2026 (tidak ada indikasi penyelenggaraan RDG darurat di luar jadwal).

Spekulasi kemungkinan reshuffle kabinet sempat mengemuka hari ini seiring agenda pelantikan sejumlah pejabat baru oleh Presiden Prabowo, termasuk Kepala Badan Gizi Nasional. Namun, pemerintah meredam spekulasi tsb dengan menegaskan bahwa tidak terdapat rencana pergantian Menkeu Purbaya. Di sisi lain, pemerintah juga memastikan tidak akan menerapkan skema bagi hasil gross split untuk sektor pertambangan serta mengumumkan penghentian sementara pembentukan dapur baru program makan bergizi gratis dengan pertimbangan efisiensi anggaran.

BNY memperkirakan yield SUN 10 tahun berpotensi meningkat hingga 7,50% seiring normalisasi kurva imbal hasil domestik. Menurut BNY, kenaikan yield saat ini merupakan penyesuaian terhadap kondisi kurva sebelumnya, di mana yield SUN tenor 1 tahun telah berada di atas 7% sementara yield 10 tahun masih sekitar 6,72%. Pelemahan Rupiah dan IHSG juga mengurangi efektivitas sentimen positif dari ekspektasi program stabilisasi pasar obligasi. Dari sisi valuasi, yield SUN 10 tahun dinilai masih berpotensi naik menuju 7,50% untuk mengembalikan spread terhadap US Treasury ke kisaran 300bps.

Danantara memulai rangkaian roadshow penerbitan obligasi global berdenominasi USD di AS pada pekan ini. Pertemuan investor dijadwalkan di Boston pada 9 Juni dan New York pada 10 Juni, sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menarik kembali aliran modal asing. Di sisi lain, unit komoditas yang baru dibentuk, Danantara Sumberdaya Indonesia, dilaporkan tengah membahas kemungkinan pemberian pengecualian terhadap kebijakan pengendalian ekspor komoditas bagi sejumlah pelaku usaha besar, sebagai imbal balik atas komitmen investasi dan pembentukan usaha patungan (joint venture) di Indonesia.

Data cadangan devisa Indonesia per akhir Mei 2026 turun $1,3 miliar menjadi $144,9 miliar (Apr: $146,2 miliar). Data tsb melanjutkan tren kontraksi cadev selama lima bulan berturut-turut yang terjadi sejak awal tahun 2026. Menurut BI, penurunan cadev ini disebabkan oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta intensifnya langkah intervensi pasar valas oleh BI untuk menstabilkan Rupiah dari tekanan eksternal. Namun demikian, level cadev diyakini masih aman karena setara dengan 5,6 bulan impor, jauh di atas standar kecukupan internasional minimal 3 bulan impor.

Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah tajam dgn kisaran kenaikan yield sebesar 22-39bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 39bps ke level 7,24% (ytd: +119bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp15,6 triliun, naik dibandingkan Rp13,8 triliun pada hari sebelumnya.

IHSG melemah tajam sebesar 4,52% dan ditutup pada level 5.342,14 yang merupakan level terendah sejak November 2020 dipengaruhi oleh tekanan pelemahan Rupiah yang kembali mencapai level terendah secara historis, di tengah sentimen negatif yg juga terjadi pada bursa saham regional akibat pelemahan saham-saham sektor teknologi dan AI. Seluruh sektor IHSG bergerak melemah, dengan pelemahan terbesar terutama dikontribusikan oleh sektor perindustrian (-6,39%), infrastruktur (-6,29%), dan transportasi dan logistik (-5,58%).

Rupiah ditutup melemah 0,88% ke level 18.178 sekaligus mencatat level terlemah sepanjang sejarah, dibandingkan penutupan sebelumnya di 18.020. Pelemahan tersebut dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik, termasuk tingginya ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, berlanjutnya sentimen risk-off global, serta kekhawatiran investor terhadap prospek perekonomian dan arah kebijakan domestik. Tekanan terhadap Rupiah tetap berlanjut meskipun pemerintah dan Bank Indonesia telah mengumumkan sejumlah langkah stabilisasi pasar.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP