Financial Market Update

IDR10 : 6,68% - 6,78% (cl: 6,78%)
IDR5 : 6,70% - 6,79% (cl: 6,78%)
UST10 : 4,45% - 4,49% (last: 4,46%)

IDR : 17.960 - 18.049 (cl: 18.033)
DXY : 99,18 - 99,53 (last: 99,35)
JCI : 5.644,23 - 5.924,51 (cl: 5.839,79)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +8bps to 6,78%
FR0108 (10yr) : +10bps to 6,78%
FR0106 (15yr) : +8bps to 6,92%
FR0107 (20yr) : +5bps to 6,91%

Point of Interest:

DPR mengesahkan revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang memperluas mandat BI untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Revisi juga memberikan kewenangan lebih besar kepada DPR untuk melakukan evaluasi dan memberikan rekomendasi yang mengikat kepada BI, OJK, dan LPS, serta memperkenalkan mekanisme baru terkait pemberhentian anggota Dewan Gubernur BI. Perubahan tersebut memunculkan kekhawatiran investor terhadap independensi bank sentral dan kredibilitas kebijakan ekonomi, yang turut memperbesar tekanan pada Rupiah, SBN, dan pasar saham domestik di tengah tingginya ketidakpastian global.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menyatakan bahwa BI meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas Rupiah di tengah tekanan dari eskalasi konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, arus keluar modal dari pasar negara berkembang, serta tingginya permintaan USD dari domestik. Untuk meredam tekanan tersebut, BI terus melakukan intervensi di pasar valas dan SBN, memperkuat daya tarik instrumen moneter, serta meningkatkan koordinasi dengan pelaku pasar. Meski demikian, BI menilai pelemahan Rupiah secara year-to-date masih sejalan dengan tren mata uang regional.

Pelaku pasar mulai mengantisipasi kemungkinan pengetatan BI lebih lanjut. Meskipun BI telah menaikkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25% pada Mei 2026, berlanjutnya pelemahan Rupiah menembus level psikologis 18.000 per USD meningkatkan spekulasi bahwa BI akan mempertahankan stance kebijakan ketat lebih lama dan fokus pada stabilisasi nilai tukar Rupiah. Kondisi tersebut mendorong investor meminta premi risiko yang lebih tinggi terhadap aset domestik, sehingga memberikan tekanan terutama pada pasar obligasi pemerintah.

Kepala baru Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang, menargetkan efisiensi anggaran program makan bergizi gratis dari alokasi Rp268 triliun pada tahun ini. Efisiensi akan dilakukan melalui pengetatan seleksi pengajuan dapur umum baru, optimalisasi pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia seperti kantin sekolah, serta fokus pada distribusi makanan di wilayah terpencil dan peningkatan kualitas program. Selain itu, BGN juga akan menjajaki sumber pendanaan alternatif, termasuk dana CSR dan hibah dari negara lain, guna mengurangi tekanan terhadap anggaran pemerintah.

AS-Iran terlibat dalam aksi serangan udara secara terbuka, yang memperburuk ketegangan di Timur Tengah dan menimbulkan keraguan atas ketahanan gencatan senjata kedua negara. Eskalasi konflik juga ditandai oleh meluasnya serangan ke wilayah Kuwait dan Bahrain yg menjadi target serangan Iran sbg bentuk retaliasi.

AS dan Israel menunjukkan perbedaan pandangan terkait perang di Lebanon. Dalam perbincangan telpon yang penuh ketegangan, Presiden Trump mendesak PM Israel Netanyahu untuk membatalkan rencana pengeboman terhadap Beirut pada awal pekan. Penghentian perang di Lebanon menjadi salah satu tuntutan Iran sbg bagian dari kesepakatan perdamaian. Namun demikian, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa militer Israel menolak menarik diri dan akan terus melanjutkan operasi militer di Lebanon.

Data ekonomi AS terbaru menunjukkan aktivitas ekonomi dan pasar tenaga kerja masih tetap solid. PMI sektor jasa ISM bulan Mei-2026 meningkat ke level 54,5 (Apr: 53,6), melampaui ekspektasi pasar 53,8 dan menandakan akselerasi aktivitas bisnis di sektor jasa. Sementara itu, penambahan tenaga kerja sektor swasta (ADP Employment Change) Mei-2026 mencapai 122 ribu (Apr: 105 ribu, surv: 120 ribu ), mencerminkan pasar tenaga kerja yang masih resilien meskipun sejumlah perusahaan dilaporkan mulai menahan laju perekrutan. Kombinasi data tersebut memperkuat indikasi bahwa ekonomi AS masih tumbuh cukup kuat, sehingga berpotensi menjaga ekspektasi suku bunga The Fed tetap tinggi dalam jangka pendek.

Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah dgn kisaran kenaikan yield sebesar 5-10bps sejalan dengan sentimen negatif dari pelemahan Rupiah yang menembus 18.000 per USD. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 10 bps ke level 6,78% (ytd: +73bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp20,3 triliun, naik dibandingkan Rp17,7 triliun pada hari sebelumnya.

IHSG ditutup melemah 1,70% ke level 5.839,79 sejalan dengan memburuknya sentimen negatif global dan domestik. Seluruh sektor bergerak melemah, dengan pelemahan terbesar terutama dikontribusikan oleh sektor industri (-4,07%), properti (-3,28%), dan barang konsumsi primer (-2,36%).

Rupiah ditutup melemah 0,46% ke level 18.033, menembus level psikologis 18.000, dibandingkan penutupan sehari sebelumnya 17.950.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP