Financial Market Update
IDR10 : 6,65% - 6,68% (cl: 6,68%)
IDR5 : 6,66% - 6,70% (cl: 6,70%)
UST10 : 4,44% - 4,50% (last: 4,50%)
IDR : 17.864 - 17.957 (cl: 17.950)
DXY : 99,19 - 99,52 (last: 99,45)
JCI : 5.842,00 - 6.213,80 (cl: 5.941,07)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +3bps to 6,70%
FR0108 (10yr) : +2bps to 6,68%
FR0106 (15yr) : +1bps to 6,84%
FR0107 (20yr) : +1bps to 6,86%
Point of Interest:
• U.S. Trade Representative (USTR) pada 2 Juni 2026 memasukkan Indonesia dalam hasil investigasi Section 301 terkait efektivitas penegakan larangan impor barang yang diproduksi dengan kerja paksa dan mengusulkan pengenaan tarif tambahan sebesar 10%–12,5% terhadap impor dari 60 negara yang menjadi objek investigasi (termasuk Indonesia). Meski masih dalam tahap konsultasi publik dan belum menjadi kebijakan final, perkembangan ini berpotensi menambah ketidakpastian hubungan dagang Indonesia-AS serta menjadi risiko bagi prospek ekspor Indonesia ke depan.
• Risiko geopolitik global masih tetap tinggi di tengah berlanjutnya proses negosiasi antara AS dan Iran. Ketegangan kembali meningkat setelah Iran meluncurkan rudal balistik dan AS merespons dengan serangan balasan, meskipun Presiden Trump menegaskan bahwa jalur diplomasi masih berlangsung. Ketidakpastian tersebut terus mendorong kenaikan harga minyak dunia dan membatasi ruang penguatan Rupiah di tengah meningkatnya preferensi investor terhadap aset safe haven.
• Rilis data AS JOLTS Apr-2026 menunjukkan jumlah lowongan kerja melonjak menjadi 7,62 juta (Mar: 6,89 juta) dan merupakan level tertinggi dalam lebih dari satu tahun. Data tenaga kerja yang lebih kuat dari perkiraan tersebut memperkuat pandangan bahwa kondisi ekonomi AS masih resilien dan mengurangi ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat.
• Inflasi headline Eropa tercatat sebesar 3,2% YoY pada Mei-2026 (Apr: 3,0%) yang sejalan dengan ekspektasi konsensus. Tingkat inflasi tsb merupakan yang tertinggi sejak September 2023 dan masih berada jauh di atas target ECB sebesar 2,0%. Komponen harga energi naik 10,9% YoY, kenaikan paling signifikan sejak Februari 2023 yang dipicu oleh kendala pasokan minyak akibat konflik di Timur Tengah.
• Moody's menetapkan rating perdana Baa2 dengan outlook negatif kepada PT Danantara Investment Management (DIM), yang setara dengan sovereign rating Indonesia. Rating tersebut didukung oleh kuatnya keterkaitan DIM dengan Pemerintah Indonesia melalui struktur BPI Danantara, tingginya pengawasan pemerintah, serta ekspektasi adanya dukungan luar biasa (extraordinary support) pemerintah apabila diperlukan. Moody's juga menilai likuiditas DIM sangat kuat, didukung oleh suntikan modal dari BPI Danantara dan akses pendanaan eksternal. Outlook negatif mengikuti outlook sovereign Indonesia, sehingga pergerakan rating DIM ke depan kemungkinan akan sejalan dengan rating Indonesia.
• Pelaku pasar juga merespons negatif isu tata kelola terkait pencopotan kepala Badan Gizi Nasional (BGN) dan penahanan oleh Kejaksaan Agung. Dinamika perombakan birokrasi nasional secara mendadak tsb meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap isu penegakan hukum di Indonesia sehingga memicu kepanikan terkait kredibilitas kebijakan makroekonomi dan fiskal ke depan.
• Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah dgn kisaran kenaikan yield sebesar 1-3bps sejalan dengan sentimen negatif dari pelemahan Rupiah. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 2bps ke level 6,68% (ytd: +63bps). Volume transaksi SBN outright mencapai Rp17,7 triliun, turun dibandingkan Rp23,9 triliun pada hari sebelumnya. Stabilitas Rupiah akan menjadi salah satu faktor paling penting dalam menentukan arah pasar obligasi domestik ke depan. Investor akan berlanjut memantau apakah langkah-langkah kebijakan saat ini efektif dalam menekan volatilitas Rupiah dan mengurangi tekanan arus keluar modal dari investor asing.
• IHSG ditutup melemah 4,11% ke level 5.941,07, dipicu oleh aksi jual bersih investor asing secara masif melanjutkan tren pasca-rebalancing indeks MSCI akhir Mei. Seluruh sektor bergerak melemah, dengan pelemahan terbesar terutama dikontribusikan oleh sektor barang baku (-9,31%), energi (-5,23%), dan infrastruktur (-5,01%). Pelaku pasar juga mengkhawatirkan dampak potensi penerapan tambahan tarif sebesar 10%-12,5% oleh AS atas barang-barang Indonesia terhadap daya saing produk ekspor. Selain itu, kekhawatiran terkait tata kelola dan koordinasi kebijakan domestik Indonesia semakin meningkat, sehingga berpotensi akan membatasi ruang pemulihan aset domestik dalam jangka pendek.
• Rupiah ditutup melemah 0,63% ke level 17.950 dibandingkan penutupan sehari sebelumnya 17.838.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP