Financial Market Update

IDR10 : 6,67% - 6,70% (cl: 6,68%)
IDR5 : 6,56% - 6,65% (cl: 6,58%)
UST10 : 4,45% - 4,50% (last: 4,47%)

IDR : 17.454 - 17.538 (cl: 17.465)
DXY : 98,26 - 98,60 (last: 98,52)
JCI : 6.705,43 - 6.787,35 (cl: 6.723,32)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : -7bps to 6,58%
FR0108 (10yr) : -1bps to 6,68%
FR0106 (15yr) : +1bps to 6,83%
FR0107 (20yr) : +1bps to 6,82%

Point of Interest:

Pengiriman minyak dari terminal ekspor utama Iran dilaporkan mengalami penghentian signifikan dalam beberapa hari terakhir berdasarkan citra satelit. Fars News Agency melaporkan bahwa Iran tidak akan berpartisipasi dalam putaran negosiasi berikutnya dengan AS kecuali lima prasyarat utk membangun kepercayaan dipenuhi, salah satunya membuka blokade thd Iran. Sementara itu, AS bersama sekutunya tengah mendorong rancangan resolusi Dewan Keamanan PBB yang berpotensi membuka jalan bagi penerapan sanksi hingga opsi aksi militer apabila Iran tidak melonggarkan kontrolnya atas Selat Hormuz.

Perang AS-Iran telah menelan biaya sekitar $29 miliar. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar $4 miliar dari perkiraan yang diberikan kepada Kongres pada akhir April 2026. Namun, beberapa anggota parlemen percaya bahwa biaya sebenarnya jauh lebih tinggi, dengan beberapa perkiraan mencapai hingga $1 triliun jika memperhitungkan dampak ekonomi jangka panjang, termasuk kenaikan harga minyak dan biaya konsumen yang lebih tinggi.

Presiden AS menyatakan akan memprioritaskan pembahasan perdagangan dalam pertemuan puncaknya dengan Presiden China, serta mengecilkan fokus pembahasan terkait perang Iran. Seiring perkembangan tersebut, pelaku pasar meningkatkan ekspektasi penguatan CNY dalam beberapa hari ke depan, dengan harapan pertemuan tersebut dapat mendukung kelanjutan gencatan perang dagang antara kedua negara.

World Gold Council (WGC) mencatat permintaan emas global naik 2% YoY menjadi 1.231 ton pada Q1-2026, didukung permintaan investasi dan pembelian bank sentral di tengah kenaikan harga emas yang signifikan. Pembelian emas oleh bank sentral naik 3% YoY menjadi 244 ton, termasuk tambahan cadangan Bank Indonesia sebesar 2 ton, sementara permintaan emas batangan dan koin global melonjak 42% YoY, dipimpin China, India, dan Indonesia. Di Indonesia, permintaan emas batangan dan koin naik 47% YoY menjadi 23,6 ton. Meski volume permintaan perhiasan menurun akibat tingginya harga emas, nilainya tetap meningkat. Dari sisi pasokan, produksi emas global naik 2% YoY, dengan produksi Indonesia meningkat 19% terutama ditopang tambang Batu Hijau. WGC juga mencatat permintaan emas sektor teknologi tetap tumbuh seiring ekspansi infrastruktur AI dan kebutuhan microchip.

Data CPI AS periode Apr-2026 semakin memperkuat kekhawatiran inflasi, dengan headline inflation naik menjadi 3,8% YoY yg melampaui ekspektasi 3,7% dan realisasi sebelumnya 3,3%, sekaligus menjadi level tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir. Core CPI juga meningkat lebih tinggi dari perkiraan menjadi 2,8% YoY dari sebelumnya 2,6%, mencerminkan tekanan harga yang semakin luas di luar komponen energi. Secara bulanan, headline dan core CPI masing-masing naik 0,6% dan 0,4%, masih relatif tinggi dibandingkan level yang konsisten dengan target inflasi The Fed. Pasar menilai data ini semakin memperkecil peluang pemangkasan suku bunga tahun ini, bahkan mulai meningkatkan ekspektasi terhadap potensi pengetatan tambahan pada 2026.

Rebalancing indeks MSCI menjadi katalis utama koreksi IHSG pada 13 Mei akibat aksi jual investor asing guna menyesuaikan portofolio mereka secara mekanis (passive outflow). Penghapusan sejumlah saham Indonesia dari MSCI Global Standard Index memicu aksi jual dana pasif dan menurunkan bobot Indonesia dalam indeks global, sehingga IHSG terkoreksi sekitar 1–2% dan turun ke kisaran level 6.700-an. Tekanan ini tercermin dari meningkatnya net foreign sell yang tercatat sebesar Rp1,53 triliun dengan akumulasi net jual asing sejak awal tahun sebesar Rp40,82 triliun, menandakan keluarnya modal asing dalam jumlah signifikan dari pasar saham domestik.

Permata Institute for Economic Research (PIER): Bank Indonesia berpotensi menaikkan BI-Rate sebesar 25bps menjadi 5% pada semester I-2026, kemungkinan pada Mei atau Juni, sebagai respons terhadap tekanan pelemahan rupiah dan meningkatnya risiko eksternal. Permata menilai ruang penurunan suku bunga semakin terbatas karena fokus utama BI saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar, di tengah depresiasi rupiah yang telah melebihi 4% YtD, kenaikan yield SRBI, potensi pelebaran defisit transaksi berjalan, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed.

Menkeu Purbaya menyatakan Kemenkeu akan mulai mendukung BI dalam menstabilkan Rupiah, termasuk melalui Bond Stabilization Fund (BSF) dan potensi buyback obligasi pemerintah di pasar sekunder untuk menahan kenaikan yield.

Hasil lelang SUN: Pemerintah menerbitkan SUN sebesar Rp30,3 triliun pada lelang Selasa, di bawah target indikatif Rp36,0 triliun, dengan total incoming bids sebesar Rp51,4 triliun turun dari Rp75,0 triliun pada lelang sebelumnya. Hal ini mencerminkan moderasi permintaan di tengah volatilitas pasar, ketidakpastian eksternal, serta pekan perdagangan yang lebih pendek. Permintaan investor terkonsentrasi pada seri FR0109 tenor 5 tahun sebesar Rp15,0 triliun, menunjukkan preferensi terhadap tenor menengah di tengah dinamika makro dan geopolitik global. Dengan hasil tersebut, total penerbitan SBN sejak awal tahun mencapai Rp629,5 triliun.

BI menyerap Rp22,0 triliun melalui lelang SRBI 13 Mei dari total penawaran yg masuk sebesar Rp58,5 triliun, lebih rendah dibandingkan penyerapan pd lelang sebelumnya sebesar Rp30 triliun. Weighted average yield SRBI tenor 6 bulan 6,21% (prev 6,12%), 9 bulan 6,31% (prev 6,22%), dan 12 bulan 6,45% (prev 6,40%).

Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak variatif dengan kisaran pergerakan yield sebesar 1-7bps. Harga SBN tenor pendek-menengah cenderung menguat sedangkan pada tenor panjang cenderung melemah terbatas. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 1 bps ke level 6,68% (ytd: +63bps). Volume transaksi outright mencapai Rp15,6 triliun, turun dari Rp20,8 triliun pada perdagangan hari sebelumnya.

IHSG ditutup melemah 1,98% ke level 6.723,32 akibat aksi jual investor pasca pengumuman rebalancing index oleh MSCI. Net jual investor asing mencapai Rp1,53 triliun kemarin yg menjadikan net jual asing secara YtD mencapai Rp40,82 triliun.

Rupiah ditutup menguat 0,20% ke level 17.465 dibandingkan penutupan sebelumnya 17.500.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP