Financial Market Update
IDR10 : 6,58% - 6,69% (cl: 6,69%)
IDR5 : 6,50% - 6,66% (cl: 6,65%)
UST10 : 4,41% - 4,47% (last: 4,46%)
IDR : 17.483 - 17.525 (cl: 17.500)
DXY : 97,95 - 98,46 (last: 98,30)
JCI : 6.762,88 - 6.977,29 (cl: 6.858,90)
Yield SUN
FR0109 (5yr) : +14bps to 6,65%
FR0108 (10yr) : +10bps to 6,69%
FR0106 (15yr) : +8bps to 6,82%
FR0107 (20yr) : +9bps to 6,81%
Point of Interest:
• Sentimen risk off kembali mendominasi pasar keuangan setelah Presiden Trump menyebut gencatan senjata AS–Iran berada dalam kondisi “on life support” (kritis) dan menolak proposal perdamaian terbaru dari Iran dan menyebutnya sebagai “piece of garbage”. Di sisi lain, Iran masih membatasi lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, sehingga harga minyak Brent tetap bertahan tinggi di kisaran $107/barel. Di sisi lain, Iran menyerukan penghentian perang di seluruh lini, termasuk di Lebanon. Teheran juga menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang, serta meminta penghentian blokade laut oleh AS, di antara tuntutan lainnya.
• Publikasi risalah rapat BOJ bulan April: Sejumlah pejabat BOJ mengindikasikan perlunya kenaikan suku bunga dalam waktu dekat, dengan beberapa anggota bahkan menyebutkan kenaikan suku bunga dapat terjadi secepatnya pada pertemuan Juni 2026 mendatang. BOJ mempertahankan suku bunga acuan di level 0,75%, namun meningkatnya tekanan inflasi akibat kenaikan harga minyak dan konflik Iran memperkuat pandangan hawkish di antara pejabat BoJ.
• Pada zona waktu perdagangan AS (13 Mei dini hari waktu Indonesia), MSCI resmi mengumumkan hasil rebalancing pada 12 Mei-26 dengan 13 saham Indonesia keluar dari MSCI Global Small Cap Indexes, yaitu ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, SIDO, MIDI, MIKA, MSIN, TKIM, APIC, SSMS, dan TAPG. Dalam review kali ini, hanya AMRT yang masuk ke MSCI Small Cap Index setelah turun dari MSCI Global Standard Index. Keputusan ini menunjukkan MSCI masih menyoroti isu free float, transparansi kepemilikan saham, dan High Shareholding Concentration (HSC) di pasar modal Indonesia.
• MSCI juga masih membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS) untuk saham Indonesia, sehingga tidak ada tambahan saham baru maupun upgrade ke Standard Index. Pasar memperkirakan rebalancing ini berpotensi memicu passive outflow asing sekitar $1,6–$1,8 miliar atau sekitar Rp30–31 triliun, sehingga tetap memberi tekanan pada IHSG dan Rupiah menjelang implementasi efektif pada 29 Mei 2026.
• Bank Mandiri: Risiko capital outflow ke depan masih tinggi. Tekanan terhadap Rupiah masih perlu diwaspadai seiring tingginya ketidakpastian global dan meningkatnya sensitivitas investor asing terhadap aset domestik. Risiko capital outflow berpotensi tetap tinggi apabila tensi geopolitik terus meningkat, yield UST bertahan tinggi, serta sentimen terhadap pasar Indonesia memburuk pasca rebalancing MSCI. Rupiah masih berisiko mengalami volatilitas tinggi dan pelemahan lanjutan, terutama jika aliran dana asing di pasar saham dan obligasi terus mencatat outflow dalam beberapa waktu ke depan.
• Data penjualan ritel Indonesia Mar-2026 naik sebesar 3,4% YoY, lebih rendah dari kenaikan sebesar 6,5% YoY pada Feb-2026 dan merupakan pertumbuhan terlemah sejak Jun-2025, seiring normalisasi pasca-liburan dan tekanan biaya yang berlanjut membebani belanja konsumen. Secara bulanan, penjualan ritel naik sebesar 10,3% MoM pada Mar-2026, meningkat signifikan dari pertumbuhan sebesar 4,1% MoM pada Feb-2026.
• Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 8-14bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 10 bps ke level 6,69% (ytd: +64bps). Volume transaksi outright mencapai Rp20,8 triliun, naik dari Rp19,5 triliun pada perdagangan hari sebelumnya.
• IHSG ditutup melemah 0,68% ke level 6.858,90 seiring pernyataan Presiden Trump bahwa gencatan senjata AS-Iran semakin rapuh pasca penolakan AS thd proposal balasan dari Iran dan pelaku pasar menilai bahwa gencatan senjata bisa sewaktu-waktu berubah kembali menjadi konflik terbuka. Pelemahan IHSG disebabkan oleh net jual investor asing yg mencapai Rp931,9 miliar kemarin yg menjadikan net jual asing secara YtD mencapai Rp39,3 triliun.
• Rupiah ditutup melemah 0,51% ke level all time low sebesar 17.500 dibandingkan penutupan sebelumnya 17.412. Tekanan utama thd Rupiah berasal dari eskalasi konflik AS–Iran yang kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global akibat pembatasan di Selat Hormuz. Lonjakan harga minyak mendorong penguatan USD sebagai safe haven dan memicu capital outflow dari pasar EM, termasuk Indonesia.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP