Financial Market Update

IDR10 : 6,58% - 6,60% (cl: 6,58%)
IDR5 : 6,44% - 6,51% (cl: 6,47%)
UST10 : 4,36% - 4,39% (last: 4,37%)

IDR : 17.353 - 17.385 (cl: 17.373)
DXY : 97,89 - 98,28 (last: 97,97)
JCI : 6.969,40 - 7.186,83 (cl: 6.969,40)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : 0bps to 6,47%
FR0108 (10yr) : 0bps to 6,58%
FR0106 (15yr) : -2bps to 6,74%
FR0107 (20yr) : -1bps to 6,71%

Point of Interest:

Ketegangan di Selat Hormuz kembali meningkat. Iran meluncurkan rudal ke Angkatan Laut AS di Selat Hormuz setelah tentara AS menargetkan sebuah kapal tanker minyak di wilayah perairan Iran. Sementara itu, militer AS melakukan serangan terhadap daerah sipil, termasuk Pulau Qeshm dan Bandar Abbas. Pada saat yang sama, Uni Emirat Arab (UEA) melakukan serangan terhadap Iran, seperti Dermaga Bahman di Qeshm dalam operasi gabungan dengan militer AS.

Harga minyak Brent naik sekitar 2% kembali ke atas level $100/barel, seiring Iran yang masih meninjau memorandum yang dikirim oleh AS untuk mengakhiri perang. Kementerian Luar Negeri Iran mengkonfirmasi bahwa pembahasan sedang berlangsung, Iran mungkin akan menyampaikan tanggapan resminya berupa penerimaan, penolakan, atau proposal balasan terhadap proposal AS melalui perantara Pakistan dalam waktu 24 jam ke depan.

Median ekspektasi inflasi AS untuk jangka waktu satu tahun ke depan naik menjadi 3,6% YoY pada Apr-2026 (Mar: 3,4%), dan merupakan level tertingginya dalam setahun terakhir. Sementara itu, ekspektasi inflasi AS utk jangka waktu tiga tahun dan lima tahun tetap stabil di level 3,1% dan di 3,0% YoY. Ketidakpastian inflasi meningkat di tengah konflik berkepanjangan antara AS dan Iran.

Initial jobless claim AS per minggu yg berakhir 25 Apr 2026 turun menjadi 1,77 juta, merupakan level terendah sejak Jan-2024 dan di bawah perkiraan konsensus sebesar 1,80 juta. Sementara itu, perusahaan-perusahaan di AS mengumumkan PHK sebesar 83.387 pada Apr-2026, lebih tinggi dari 60.620 pada Mar-2026, dan terutama dilakukan oleh perusahaan-perusahaan teknologi yg berlanjut mengumumkan PHK dalam skala besar beberapa bulan terakhir.

Laporan kuartalan Institute of International Finance (IIF) menyoroti utang global yg telah mencapai $353 triliun atau sekitar Rp6.125 kuadriliun per akhir Mar-2026. Di tengah peningkatan tsb, investor global terlihat mulai melakukan diversifikasi dari obligasi pemerintah AS dan beralih ke obligasi pemerintah Jepang dan Eropa yang terlihat dari peningkatan permintaan lebih tinggi.

BI melaporkan bahwa cadangan devisa periode Apr-2026 turun sebesar $1,95 miliar menjadi $146,2 miliar, yg merupakan level terendah sejak Juli 2024. Penurunan ini dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah stabilisasi Rupiah, meskipun masih ditopang oleh penerimaan pajak dan sektor jasa serta penerbitan global bond pemerintah.

Kementerian ESDM menggelar uji publik terkait skema baru tarif royalti progresif yg bertujuan untuk meningkatkan penerimaan negara. Pelaku pasar mengkhawatirkan rencana kenaikan tsb akan berisiko menekan profitabilitas perusahaan tambang logam dalam jangka menengah sehingga memicu aksi jual masif pada saham-saham tambang logam pd perdagangan 8 Mei.

DirJen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kemenkeu melaporkan total utang pemerintah per 31 Maret 2026 mencapai Rp 9.920,42 triliun, yang sebagian besar masih didominasi oleh instrumen Surat Berharga Negara (SBN). Meski secara nominal meningkat, rasio utang terhadap PDB saat ini berada di level 40,75%. Angka tersebut diklaim masih aman karena berada di bawah ambang batas maksimal 60% yang ditetapkan dalam Undang-Undang Keuangan Negara.

Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak sideways cenderung menguat dengan kisaran penurunan yield sebesar 0-2bps. Yield SUN 10 tahun ditutup stabil di level 6,58% (ytd: +54bps). Volume transaksi outright mencapai Rp14,6 triliun, turun dari Rp30,1 triliun pada perdagangan hari sebelumnya.

IHSG ditutup melemah 2,86% ke level 6.969,40 seiring eskalasi konflik AS-Iran akibat baku tembak yg terjadi dan membuat harga minyak jenis Brent bertahan di atas level $100/barel, serta sentimen negatif dari rilis data cadev yg menurun. Harga saham emiten sektor material dasar, seperti nikel, timah, dan tembaga, juga mengalami penurunan hingga 7,80% akibat rencana skema baru tarif royalty progresif. Emiten DSSA, BREN, dan AMMN menjadi penyebab utama koreksi tajam pada IHSG.

Rupiah ditutup melemah 0,18% ke level 17.373 dibandingkan penutupan sebelumnya 17.342.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP