Financial Market Update

IDR10 : 6,53% - 6,58% (cl: 6,58%)
IDR5 : 6,22% - 6,30% (cl: 6,29%)
UST10 : 4,30% - 4,36% (last: 4,30%)

IDR : 17.103 - 17.138 (cl: 17.103)
DXY : 98,60 - 99,18 (last: 98,60)
JCI : 7.351,36 - 7.527,87 (cl: 7.500,19)

Yield SUN
FR0109 (5yr) : +5bps to 6,29%
FR0108 (10yr) : +3bps to 6,58%
FR0106 (15yr) : -1bps to 6,72%
FR0107 (20yr) : -1bps to 6,66%

Point of Interest:

Tensi geopolitik kembali meningkat sejalan dengan kegagalan perundingan AS-Iran pd akhir pekan di Islamabad. Kebuntuan terkait program pengembangan nuklir Iran dan kendali atas Selat Hormuz memupuskan harapan bahwa AS dan Iran dapat menyepakati perjanjian perdamaian secara permanen dalam waktu dekat.

Presiden Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz dan menargetkan kapal-kapal yg masuk dan keluar dari selat tsb, khususnya di area pelabuhan Iran. Ancaman tsb menyusul kegagalan negosiasi dgn Iran yg nampaknya menjadi upaya lanjutan AS utk menunjukkan kekuatannya dalam mengendalikan Selat Hormuz. Iran dikabarkan berencana menerapkan tarif sebesar $1juta bagi kapal yg melintasi Selat Hormuz.

Harga minyak kembali melonjak, dengan Brent naik ke level $101-$103/barel seiring tensi geopolitik yg kembali meningkat. Gangguan yang berkepanjangan dapat memicu kenaikan harga lebih lanjut, yang akan memberi tekanan pada inflasi global dan memperkuat ekspektasi akan kebijakan moneter yang lebih ketat, termasuk kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed.

Analis Bloomberg Economics menilai bahwa blokade oleh AS memiliki konsekuensi biaya dan risiko yg sangat besar. Posisi kapal-kapal perang AS yg mendekati jangkauan rudal dan drone Iran berpotensi memicu eskalasi konflik yang fatal. Selain itu, kelompok Houthi juga diperkirakan akan mencoba mengganggu aliran minyak dan gas di Laut Merah. Besarnya risiko tsb, hingga adanya kemungkinan intervensi China melalui kontrol mineral kritis untuk menekan AS, membuat kebijakan blokade Trump diragukan keberlanjutannya. Namun, ancaman blokade tetap memperkeruh situasi diplomatik dan memicu ketidakpastian tinggi pada pasar minyak global.

Bloomberg: Harga minyak yg bertahan di atas $80/barel akan mendorong inflasi di atas target BI pada Q2-2026 dan membuat potensi cut rate tidak mungkin terjadi. Inflasi berpotensi menembus batas atas 3.5% di Q2-2026 sebelum naik lebih lanjut hingga di atas 5% pada Q3-2026. Meskipun demikian, potensi BI utk beralih ke rate hike cenderung rendah utk saat ini, di tengah kekhawatiran thd lemahnya pertumbuhan ekonomi yg kemungkinan semakin tertekan akibat dampak lonjakan harga minyak thd kemampuan belanja rumah tangga.

Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark cenderung melemah dengan kisaran pergerakan yield sebesar 1-5bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 3 bps ke level 6,58%. Volume transaksi outright SBN tercatat sebesar Rp17,6 triliun, lebih tinggi dibandingkan Rp11,1 triliun pada perdagangan hari Jumat lalu.

IHSG ditutup menguat 0,56% ke level 7.500,19 sejalan dengan penguatan saham-saham berbasis komoditas akibat kenaikan harga minyak pasca kegagalan negosiasi AS-Iran dan ancaman blokade Selat Hormuz oleh Presiden Trump. Penguatan IHSG terutama dikontribusikan oleh sektor energi (+2,64%) dan barang baku (+2,36%).

Rupiah ditutup melemah 0,03% ke level 17.103, dari penutupan sebelumnya 17.098, terutama disebabkan oleh sentimen negatif dari tensi geopolitik yg meningkat, serta peningkatan demand USD akibat dampak musiman repatriasi dividen dan permintaan importir yg biasanya terjadi pada periode akhir bulan/akhir kuartal I menjelang kuartal II.


Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP