Financial Market Update
Point of Interest:
·
Ketegangan
meningkat setelah kepemimpinan baru Iran menegaskan akan melanjutkan serangan
terhadap AS dan sekutunya, serta
menyatakan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup sebagai alat tekanan
geopolitik. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap
potensi gangguan suplai energi global dan lonjakan harga minyak, sehingga
mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke
posisi risk-off.
·
AS
memberikan otorisasi tambahan bagi sejumlah negara untuk membeli minyak Rusia yang telah berada dalam perjalanan guna meredam
potensi lonjakan harga energi global. Kebijakan ini memperluas pengecualian
sebelumnya, namun terbatas pada kargo yang sudah dikirim sehingga dampaknya
terhadap pendapatan Rusia diperkirakan relatif terbatas.
·
Perang
Iran meningkatkan kekhawatiran pasar thd potensi lonjakan belanja fiskal dan
pelebaran defisit anggaran secara global, yg memicu aksi jual pd obligasi pemerintah tenor
panjang. Yield UST 30yr terpantau naik mendekati 4,90% di tengah
kekhawatiran inflasi energi dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah.
Imbal hasil obligasi jg meningkat di berbagai negara mulai dari UK, Jerman,
Australia, hingga Jepang.
·
Presiden
Trump kembali mendesak The Fed untuk menurunkan suku bunga guna mendukung
pertumbuhan ekonomi. Namun, pasar
justru memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter akan lebih terbatas
setelah konflik antara AS-Iran mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan
risiko inflasi. Kondisi tersebut membuat investor menilai The Fed kemungkinan
akan lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga, sehingga ekspektasi
pasar kini hanya mengarah pada satu kali pemangkasan sebesar 25 bps pada tahun 2026.
·
Beban
operasional pemerintah AS terus membengkak. Departemen Keuangan AS melaporkan bahwa defisit anggaran
telah menembus $1 triliun (sekitar Rp16.900 triliun), hanya dalam kurun waktu
lima bulan pertama tahun fiskal berjalan hingga Feb-2026.
·
Rilis
data AS: Initial Jobless Claims tercatat sebesar 213,000 (prior: 214,000), defisit
Trade Balance Jan-2026 menyempit menjadi
-$54.50 miliar (prior: -$72.90 miliar), indeks sentimen Mar-2026 Univ.
Michigan turun ke 55,5 (Feb: 56,6) akibat memburuknya ekspektasi konsumen
ke depan pasca meletusnya konflik di Timur Tengah (AS-Israel vs Iran). Konsumen
mengkhawatirkan dampak perang Iran thd harga bahan bakar, dengan ekspektasi
kenaikan harga sebesar 3,4% selama setahun ke depan dan 3,2% selama 5-10 tahun
ke depan, yg akan semakin membebani masyarakat AS di tengah biaya hidup yg
sudah tinggi dan kondisi pasar tenaga kerja yang lemah.
·
Beban
bunga utang Indonesia mulai membatasi fleksibilitas APBN untuk stimulus
ekonomi. Hingga Feb-2026,
pembayaran bunga utang mencapai Rp99,8 triliun atau 28,8% dari total belanja pemerintah
Rp346,1 triliun, lebih besar dibanding realisasi anggaran program prioritas
pemerintah yaitu MBG sekitar Rp44 triliun. Kondisi keseimbangan primer yang
masih negatif membuat sebagian pembiayaan negara digunakan untuk membayar
bunga utang sehingga ruang fiskal menjadi lebih terbatas.
·
Menkeu
Purbaya menyatakan siap menjalankan jika Presiden dan parlemen menyetujui
adanya perubahan threshold defisit fiskal. Namun demikian, Purbaya menegaskan bahwa hingga saat ini
ia belum mengetahui adanya diskusi terkait potensi menaikkan threshold
defisit dimaksud dan sejauh ini pemerintah tetap menjalankan kebijakan fiskal
secara prudent.
·
Pemerintah
telah mensimulasikan tiga skenario yg melibatkan fluktuasi harga minyak dan
nilai tukar dgn hasil yg menunjukkan bahwa kondisi defisit fiskal 3% akan sulit
dipenuhi tanpa pengurangan belanja
yg berisiko memperlambat pertumbuhan ekonomi. Menko Perekonomian jg
mengemukakan kemungkinan menerbitkan peraturan darurat utk menaikkan deficit
cap secara temporer sebagaimana pernah dilakukan pd masa pandemi Covid-19. Namun,
timing-nya akan sangat tergantung pd keputusan politik Presiden.
·
Menko
Perekonomian Airlangga: Dalam skenario terburuk, defisit fiskal Indonesia
berpotensi melebar hingga 4,06% jika
konflik Iran meningkatkan acuan harga minyak mentah Indonesia ke level
$115/barel dan Rupiah melemah hingga ke 17.500/USD.
·
Bloomberg:
RDG BI 16-17 Maret diperkirakan akan hold suku bunga acuan di level
4,75% untuk mendukung Rupiah
dengan mempertahankan interest rate differential. Kinerja Rupiah selama
sebulan terakhir relatif tidak seburuk peers di kawasan Asia dan EM
seiring dukungan intervensi yg kuat dari BI. Namun demikian, Rupiah belum lepas
dari tekanan lanjutan seiring risiko dari oil shock dan potensi downgrade
oleh Moody's, Fitch, dan MSCI. Semua ini terjadi di tengah kondisi inflasi
Feb-2026 yg naik melampaui target BI, sehingga mempersempit ruang bagi
penurunan BI-Rate ke depan, setidaknya hingga keputusan MSCI di bulan Mei.
·
Harga obligasi
domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah dengan kenaikan yield pada kisaran 1-14bps. Yield
SUN 10 tahun ditutup naik 7 bps ke level 6,78%. Volume transaksi outright
SBN hari ini tercatat sebesar Rp23,7 triliun, turun dari Rp29,5 triliun pada perdagangan
hari sebelumnya.
·
IHSG
ditutup melemah tajam sebesar 3,05% ke level 7.137,21 sejalan dengan sentimen risk-off global akibat meningkatnya
ketegangan geopolitik di Timur Tengah yg membuat harga minyak naik dan bertahan
di level tinggi. Pelemahan IHSG terutama dikontribusikan oleh penurunan pada sektor
transportasi & logistik (-3,82%), barang konsumen non-primer (-3,60%),
bahan baku (-3,38%), industrial (-3,35%), dan infrastruktur (-3,25%).
·
Rupiah ditutup
melemah 0,30% ke level 16.944, dari
penutupan sebelumnya 16.893.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP