Financial Market Update
Point of Interest:
·
Harga
minyak jenis Brent terkoreksi turun menjadi $89/barel setelah kemarin sempat mencapai $120/barel. Penurunan
tsb terjadi setelah Presiden AS menyatakan bahwa perang dengan Iran akan segera
berakhir, sehingga mendorong relief rally secara terbatas pada hampir
seluruh aset berisiko. Presiden Trump menegaskan bahwa operasi militer di Iran
berjalan lebih cepat dari jadwal meskipun konflik tersebut kemungkinan belum
akan selesai pada minggu ini. Trump juga mempertimbangkan mencabut beberapa sanksi
minyak Rusia untuk menurunkan harga energi.
·
Menteri
Keuangan G7 menyatakan kesiapannya untuk mengambil langkah-langkah yang
diperlukan untuk mendukung pasokan energi global. Pernyataan diambil pasca telekonferensi untuk membahas
tanggapan terhadap lonjakan harga minyak yang signifikan akibat perang
AS-Israel di Iran. Meskipun saat ini pejabat G7 sepakat untuk tidak melepaskan
cadangan minyak strategis, namun mereka siap untuk mendukung pasokan energi
global.
·
Inflasi headline
China naik ke level 1,3% YoY pada Feb-2026 (Jan: 0,2%; surv: 0,8%), yang merupakan tingkat inflasi
tertingginya sejak Jan-2023. Sementara itu, inflasi inti China tercatat sebesar
1,8% YoY pada Feb-2026, merupakan level tertinggi sejak Mar-2019.
·
Ekspektasi
inflasi median 1 tahun ke depan di AS turun ke 3% pada Feb-2026 (Jan: 3,09%). Terdapat ekspektasi kenaikan harga setahun
ke depan untuk bensin 4,09%, harga makanan 5,27%, biaya kesehatan 9,72%, biaya kuliah 9,14%, serta harga sewa 5,88%.
Lebih lanjut, ekspektasi inflasi untuk 3 tahun dan 5 tahun ke depan stabil di
3%. Ekspektasi pertumbuhan pendapatan median 1 tahun ke depan turun 0,2ppt
menjadi 2,5%.
·
Investor
asing mencatat net outflow sebesar Rp1,0 triliun dari pasar obligasi
pemerintah pada 9 Maret 2026. Secara
kumulatif, net outflow mencapai Rp2,9 triliun MTD dan Rp6,2 triliun
secara YTD. Dengan perkembangan tersebut, total kepemilikan asing tercatat
sebesar Rp872,5 triliun atau sekitar 12,88% dari total outstanding.
·
Menkeu
Purbaya menyatakan pemerintah telah menarik sebagian surplus BI untuk kebutuhan
APBN. Hal ini sejalan dengan
ketentuan perundang-undangan yang mengatur bahwa surplus BI dapat disetorkan
kepada pemerintah sebagai bagian dari penerimaan negara. Melalui PMK No.115
tahun 2025, Menkeu diberikan kewenangan untuk meminta BI menyetorkan sebagian
sisa surplus secara sementara, sepanjang terdapat kondisi tertentu, yang
meliputi pertimbangan
capaian penerimaan negara dan/atau adanya kebutuhan mendesak untuk memenuhi
pendanaan APBN.
·
Presiden
Prabowo memanggil Gubernur BI dan sejumlah menteri ke istana untuk membahas
stabilitas ekonomi nasional akibat ketegangan geopolitik global. Fokus pertemuan mencakup strategi penguatan Rupiah,
ketahanan energi, stabilitas harga pangan menjelang Ramadan, dan kesehatan
fiskal APBN.
·
Indeks
Penjualan Riil (IPR) tumbuh 5,7% YoY pada Januari 2026 (Des 2025: 3,5%), didorong oleh peningkatan penjualan
pada kelompok barang budaya dan rekreasi, makanan, minuman, dan tembakau, serta
subkelompok sandang. Berdasarkan Survei Penjualan Eceran terbaru, para peritel
memperkirakan penjualan akan tetap kuat, dengan IPR diproyeksikan tumbuh 6,9%
YoY pada Februari 2026.
·
Penjualan
sepeda motor di Indonesia per Februari 2026 naik sebesar 1,0% YoY menjadi
587.354 unit, mencatatkan pertumbuhan
penjualan selama tujuh bulan berturut-turut. Secara bulanan, penjualan tumbuh
sebesar 1,7% MoM, turun signifikan dari pertumbuhan 25,1% MoM pada Januari
2026.
·
MUFG Bank
Ltd.: BI berpotensi mempertahankan level nilai tukar secara kuat untuk tidak
menembus level psikologis Rp17.000/USD, guna menjaga sentimen pasar dan mencegah memburuknya
posisi neraca eksternal.
·
Nomura
Singapore Ltd.: Intervensi lanjutan oleh BI dinilai berpotensi terbatas
mengingat bantalan cadev yang relatif tipis. Nomura memperkirakan rupiah berpotensi melemah hingga ke
level Rp17.200/USD pada akhir bulan ini.
·
Barclays
Bank Plc.: Jika tekanan global
kembali meningkat, BI kemungkinan akan lebih berhati-hati agar ruang
intervensi tetap terjaga dalam jangka lebih panjang.
·
Harga obligasi
domestik pemerintah seri benchmark bergerak menguat terbatas dengan penurunan yield pada kisaran 0-4bps. Yield
SUN 10 tahun ditutup turun 4 bps ke level 6,69% sejalan dengan relief rally
global secara terbatas setelah Presiden Trump menyatakan bahwa perang dengan
Iran akan segera berakhir. Volume transaksi outright SBN hari ini
tercatat sebesar Rp32,3 triliun, naik dari Rp30,6 triliun pada perdagangan hari
sebelumnya.
·
IHSG
ditutup menguat sebesar 1,41% ke level 7.440,91 sejalan dengan meredanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap
potensi konflik berkepanjangan di Timur Tengah yang didorong oleh pernyataan
Presiden Trump bahwa perang dengan Iran akan segera berakhir. Penguatan IHSG
terutama dikontribusikan oleh kenaikan pada sektor bahan baku (+4,42%), industri
(+2,86%) dan barang konsumen non primer (+2,58%).
·
Rupiah ditutup
menguat 0,50% ke level 16.861, dari
penutupan sebelumnya 16.945.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP