Financial Market Update

Point of Interest:

 

·        Menkeu Purbaya: APBN hingga Februari 2026 mengalami defisit sebesar Rp135,7 triliun (-0,53% dari PDB atau naik 342,4% YoY). Defisit disebabkan oleh total pendapatan negara sebesar Rp358 triliun (+12,8% YoY) yang lebih kecil dibandingkan belanja negara yang mencapai Rp493,8 triliun (+41,9% YoY) dalam dua bulan pertama tahun ini. Meski terjadi defisit, pemerintah menegaskan penerimaan pajak masih tumbuh sekitar 30% YoY pada awal 2026 dan optimistis faktor pendukung pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

 

·        Profesor Universitas Airlangga: Strategi belanja front-loading dalam APBN dinilai memiliki efek multiplier yang terbatas terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. Prof. Rahma Gafmi menyoroti penggunaan anggaran negara untuk program MBG yg dinilai kurang tepat sasaran dan justru memicu dinamika harga yang tidak lazim pada sejumlah barang kebutuhan pokok. Kondisi tsb mendorong kenaikan harga pada beberapa komoditas dasar, di tengah penurunan tajam daya beli masyarakat yg juga menyebabkan deflasi. Jika tren defisit saat ini berlanjut secara linear, Rahma memperingatkan bahwa target defisit tahunan Indonesia berpotensi berada di bawah tekanan yg kemungkinan membuat pemerintah perlu meningkatkan pembiayaan melalui penerbitan obligasi pemerintah atau penarikan pinjaman eksternal.

 

·        Menkeu Purbaya menyatakan bahwa lonjakan harga minyak global masih dapat dikelola oleh APBN, dengan opsi peningkatan subsidi energi apabila diperlukan. Purbaya juga menambahkan bahwa pemerintah akan terus memantau perkembangan harga minyak dan dampaknya terhadap anggaran selama sekitar satu bulan ke depan sebelum mengambil langkah kebijakan lanjutan. Menurutnya jika diperlukan penyesuaian kebijakan fiskal, maka akan diarahkan agar tidak mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi domestik.  

 

·        Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Februari 2026 turun menjadi 125,2 (Jan: 127), namun masih bertahan di area optimis (indeks >100). IKK yg masih optimis tsb ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yg naik menjadi 115,9 (Jan: 115,1), meskipun Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) turun menjadi 134,4 (Jan: 138,8). Memburuknya ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi untuk 6 bulan ke depan disebabkan oleh penurunan pada seluruh komponen indeks,yaitu ekspektasi pendapatan, ketersediaan pekerjaan, dan aktivitas bisnis. BI juga menekankan pada penurunan proporsi pendapatan yg dibelanjakan utk konsumsi per Februari menjadi 71,6% dari 72,3% di Januari, seiring meningkatnya preferensi konsumen untuk berjaga-jaga dengan meningkatkan saving.

 

·        Bloomberg Intelligence: Rupiah berpotensi terus tertekan bahkan jika USD terkoreksi melemah, seiring fokus pelaku pasar yang akan kembali pada kondisi fiskal Indonesia. Bloomberg juga menilai bahwa tekanan outflow di pasar SBN domestik masih akan berlanjut dan berpotensi menekan Rupiah lebih melemah dengan level support teknikal terdekat di area 17.500-18.000.

 

·        INDEF: Rupiah masih akan terus di bawah tekanan seiring meningkatnya gejolak di Timur Tengah. Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, Abdul Manap, menilai bahwa tekanan Rupiah akan semakin berat di tengah struktur pasar keuangan domestik yg relatif dangkal. Ia menyoroti adanya beberapa bank yang sudah menjual rupiah di kisaran 17.243/USD.

 

·        INDEF: Pemerintah perlu melakukan restrukturisasi fiskal, khususnya dengan meninjau kembali besaran anggaran program MBG yang menjadi salah satu pos belanja terbesar dalam APBN 2026. INDEF menilai pengurangan sementara anggaran program tersebut dapat membuka ruang fiskal yang lebih besar untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak global, sehingga pemerintah tidak perlu langsung menaikkan harga BBM dan dapat mengalihkan sebagian anggaran ke subsidi energi. Menurut INDEF, kenaikan harga BBM berisiko menekan aktivitas ekonomi secara luas dan berpotensi menghambat pencapaian target pertumbuhan ekonomi sekitar 5,4% pada 2026.

 

·        BI menghentikan rilis data mingguan indikator stabilitas Rupiah, meliputi perkembangan nilai tukar dan yield/imbal hasil SBN. BI menyatakan kepada Tempo bahwa mulai minggu pertama Maret 2026, masyarakat bisa mengakses informasi perkembangan indikator stabilitas rupiah melalui platform lain yang menyediakan data tersebut.

 

·        Sentimen risk-off global menguat setelah harga minyak mentah melonjak melampaui $100/barel sehingga memicu kekhawatiran atas potensi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi global dan inflasi. Penguatan sentimen risk-off tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, yang juga mendorong penguatan USD seiring meningkatnya permintaan investor terhadap aset safe haven.

 

·        Pasar juga memantau perkembangan politik di Iran setelah Teheran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei. Perkembangan ini berpotensi semakin memperburuk hubungan dengan AS, mengingat Presiden Trump sebelumnya menyatakan bahwa figur tersebut “tidak dapat diterima.”

 

·        Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah tajam dengan kenaikan yield pada kisaran 10-15bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik signifikan 14 bps ke level 6,73% sejalan dengan sentimen risk-off global yang semakin meningkat. Volume transaksi outright SBN hari ini tercatat sebesar Rp30,6 triliun, naik dari Rp15,8 triliun pada perdagangan Jumat lalu.

 

·        IHSG ditutup melemah tajam sebesar 3,27% ke level 7.337,37 sejalan dengan penguatan sentimen risk-off global setelah harga minyak menembus $100/barel. Pelemahan saham terbesar dikontribusikan oleh sektor transportasi (-5,21%), barang baku (-4,59%) dan properti (-4,57%).

 

·        Rupiah ditutup melemah 0,23% ke level 16.945, dari penutupan sebelumnya 16.906.

 

 

Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP