Financial Market Update
Point of Interest:
• Fitch merevisi
outlook peringkat kredit Indonesia menjadi negatif dari sebelumnya stabil, dengan peringkat utang jangka panjang tetap
dipertahankan di level BBB. Revisi outlook tersebut mencerminkan meningkatnya
ketidakpastian kebijakan serta terkikisnya konsistensi dan kredibilitas bauran
kebijakan Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi otoritas pengambilan
kebijakan. Hal ini berpotensi melemahkan prospek fiskal jangka menengah,
merusak sentimen investor, dan memberikan tekanan pada penyangga eksternal.
• Fitch
menilai fokus Pemerintah untuk mendorong target pertumbuhan ekonomi hingga 8%
dan peningkatan belanja sosial dapat menimbulkan risiko pada sisi fiskal dan
moneter. Risiko ini juga dikaitkan dengan rencana peninjauan kembali UU
Keuangan Negara, yang berpotensi melemahkan kredibilitas kerangka fiskal,
khususnya jika batas defisit 3% PDB dilonggarkan.
• Dari sisi
fiskal, Fitch memperkirakan defisit APBN 2026 sekitar 2,9% terhadap PDB,
sedikit di atas target pemerintah 2,7%. Penerimaan negara juga dinilai
masih rendah dengan rasio sekitar 13,3% terhadap PDB, di bawah median
negara-negara dengan rating BBB (25,5% terhadap PDB). Risiko tambahan juga
muncul dari investasi off-budget melalui Danantara yang berpotensi meningkatkan
contingent liabilities pemerintah.
• Analis Bank
Mandiri: Revisi outlook menjadi negative oleh Fitch berpotensi meningkatkan
risk premium pada SBN, sehingga dapat mendorong kenaikan yield dalam jangka
pendek. Sentimen tersebut juga dapat memberi tekanan tambahan pada rupiah,
terutama jika diiringi tensi geoolitik dan capital outflows. Namun karena
rating tetap berada pada level investment grade, dampak pasar kemungkinan lebih
bersifat repricing risiko jangka pendek.
• Pasca
penutupan pasar domestik, Gubernur BI menyatakan bahwa penurunan outlook oleh
Fitch tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi Indonesia. Gubernur BI Perry Warjiyo menyebut afirmasi rating
Indonesia pada BBB merefleksikan kepercayaan global terhadap fundamental
ekonomi Indonesia yang tetap kuat. Otoritas moneter juga disebut akan terus
berkoordinasi dengan Pemerintah untuk memperkuat komunikasi kebijakan dalam
rangka memelihara kepercayaan pasar.
• Kenaikan
harga minyak global turut menekan sentimen di pasar obligasi domestik,
seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi meningkatnya
tekanan inflasi. Harga minyak Brent naik ke kisaran USD80–85/bbl di tengah
gangguan terhadap jalur pasokan energi di kawasan Timur Tengah, khususnya di
sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur krusial bagi sekitar 20% pengiriman
minyak dunia. Pelaku pasar mulai memprediksi kemungkinan harga minyak menembus
$100/barel jika perang bertahan dalam waktu yg cukup lama.
• Bank
Indonesia menegaskan akan tetap aktif melakukan langkah stabilisasi di pasar
guna menjaga pergerakan Rupiah serta memitigasi spillover risks dari meluasnya
konflik di Timur Tengah. Langkah tersebut mencakup intervensi melalui transaksi
NDF di pasar offshore, transaksi spot dan DNDF di pasar domestik, serta
pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
• Lelang SUN
kemarin menunjukkan permintaan investor yang masih turun, terlihat dari bid to
cover ratio yang hanya mencapai 1,54x. Meskipun pemerintah memenangkan
total Rp34,1 triliun lebih tinggi dari target indikatif Rp33 triliun, rasio btc
yang terus menurun telah terjadi selama empat lelang berturut-turut.
• AS
menegaskan komitmen menjaga kelancaran pasokan minyak dari Timur Tengah di
tengah eskalasi konflik Iran–Israel yang terus memicu ketidakpastian geopolitik
dan volatilitas pasar energi. Dengan intensitas konflik yang belum mereda dan
korban yang terus bertambah, risiko gangguan pasokan energi tetap menjadi
faktor utama yang berpotensi mempertahankan premi risiko pada pasar komoditas
dan aset global.
• Harga obligasi
domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 5-10bps. Yield SUN
10 tahun ditutup naik 8 bps ke level 6,60%. Volume transaksi SBN secara
outright tercatat sebesar Rp32,4 triliun, naik dari Rp27,5 triliun pada hari
sebelumnya.
• IHSG
ditutup melemah sebesar 4,57% ke level 7.577,06 dengan pelemahan terbesar
pada sektor transportasi dan logistik (-7,23%), teknologi (-4,26%), dan
properti & real estate (-3,87%).
• Rupiah
ditutup melemah 0,17% ke level 16.885, dari penutupan sebelumnya 16.857.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP