Financial Market Update
Point of Interest:
·
Mandiri
Sekuritas (Mansek): Level harga minyak jenis Brent sebesar $92,4/barel dan kurs
Rupiah 17.100/USD diidentifikasi sebagai ambang sensitif bagi arus dana asing
di pasar obligasi domestik.
Pergerakan berkelanjutan di atas level tersebut berpotensi memicu perubahan positioning
investor asing secara signifikan dan menambah tekanan pada pasar SBN domestik.
·
Mansek
memperkirakan bahwa kenaikan harga minyak mentah sebesar 10% berpotensi
memperlebar defisit fiskal sekitar 0,1% terhadap PDB. Dari sisi inflasi, kenaikan 10% harga minyak mentah
diperkirakan menambah sekitar 0,1 poin persentase (ppt) pada inflasi headline.
Namun, kenaikan 10% pada harga BBM bersubsidi dapat mendorong inflasi hingga
0,5 ppt dan bahkan mencapai 0,7-1,8 ppt apabila memperhitungkan second-round
effects.
·
Pemerintah
akan menyalurkan bonus hari raya kepada lebih dari 10 juta aparatur sipil
negara sebagai bagian dari paket stimulus pemerintah senilai Rp55 triliun. Paket stimulus juga mencakup pekerja di sektor ekonomi
platform, dengan perusahaan ride-hailing GoTo dan Grab menyalurkan total
Rp220 miliar dalam bentuk bonus hari raya kepada sekitar 850.000 pengemudi.
Sejumlah ekonom menilai langkah ini berpotensi memperkuat daya beli rumah
tangga dan mendorong konsumsi, meski tetap mengingatkan adanya potensi dampak
kenaikan inflasi yang perlu dicermati.
·
Perang
udara AS-Israel terhadap Iran semakin meluas tanpa tanda-tanda akan segera
berakhir. Israel menyerang Lebanon
sebagai respons atas serangan Hizbullah, sementara Teheran terus melancarkan
serangan rudal dan drone ke negara-negara Teluk yang menjadi tuan rumah
pangkalan militer AS. Presiden Trump mengatakan operasi tersebut dapat
berlangsung selama beberapa minggu dan belum jelas siapa yang kini memimpin
Iran, menyusul tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
·
Wilayah
Kurdistan Irak telah menghentikan aktivitas ekspor minyak mentah dengan
kapasitas 200.000 barel per hari ke pelabuhan Ceyhan di Turki. Hal ini menyusul beberapa produsen minyak termasuk DNO,
Gulf Keystone Petroleum, Dana Gas, dan HKN Energy yang menghentikan produksi
minyaknya sebagai tindakan pencegahan, tanpa adanya laporan kerusakan di ladang
minyak mereka.
·
Harga
minyak jenis Brent kembali meningkat menjadi $85/barel yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2024, seiring
eskalasi perang di Timur Tengah.
·
China
mengajak seluruh pihak yang terlibat konflik untuk menjamin keamanan pelayaran
kapal melalui Selat Hormuz.
Sementara itu, Indonesia menyatakan akan mengalihkan sebagian pasokan minyak
mentahnya dari AS sebagai alternatif terhadap pengiriman dari kawasan Timur
Tengah.
·
Presiden
Trump menyatakan bahwa AS akan melakukan “whatever it takes” untuk mencapai tujuannya, sementara Menteri Luar Negeri
Marco Rubio menyampaikan bahwa kampanye militer akan semakin ditingkatkan. Hal
ini mengindikasikan kesiapan AS untuk durasi perang yang panjang sehingga
berpotensi menjaga premi risiko pada pasar global tetap tinggi dan meningkatkan
volatilitas aset berisiko.
·
Hasil
survei Bloomberg News terhadap ekonom menunjukkan bahwa inflasi global
diperkirakan akan meningkat akibat perang dengan Iran, terutama berasal dari kenaikan harga minyak dan gas bumi
serta dampak lanjutan seperti kenaikan tarif penerbangan dan biaya distribusi.
Mayoritas responden memperkirakan dampak perang terhadap PDB di AS, kawasan
Eropa, maupun China akan relatif terbatas, meskipun sangat bergantung pada
durasi konflik.
·
Harga gas
alam Eropa melonjak lebih dari 20%
di tengah ketidakpastian mengenai durasi penghentian ekspor dari fasilitas LNG
terbesar di dunia di Qatar, serta dampaknya terhadap pasokan energi global.
Negara-negara Asia berupaya mengamankan pasokan alternatif setelah fasilitas
milik QatarEnergy ditutup akibat serangan drone Iran. Sejumlah pembeli
juga meminta pengiriman LNG dipercepat untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek,
dengan harapan situasi segera mereda.
·
Harga obligasi
domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 3-7bps. Yield
SUN 10 tahun ditutup naik 7 bps ke level 6,52%. Volume transaksi SBN secara outright
tercatat sebesar Rp27,5 triliun, naik dari Rp15,1 triliun pada hari sebelumnya.
·
IHSG
ditutup melemah sebesar 0,96% ke level 7.939,77 atau berada di bawah level psikologis 8.000 dan di bawah
rata-rata pergerakan 200 hari (MA200), menandakan potensi pelemahan lebih
lanjut akibat sentimen geopolitik. Tiga sektor dengan pelemahan terbesar adalah
barang baku (-3,85%), barang konsumen non-primer (-1,05%), dan infrastruktur
(-0,86%).
·
Rupiah ditutup
menguat tipis 0,02% ke level 16.857, dari
penutupan sebelumnya 16.861. Saat ini, Rupiah tengah menghadapi tekanan outflow
yang berpotensi membawa nilai tukar mendekati/di atas 17.000, terutama jika
perang di wilayah Timur Tengah terus memuncak.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP