Financial Market Update
Point
of Interest:
·
Eskalasi
konflik AS–Israel–Iran, disertai gangguan signifikan pada jalur pelayaran di
Selat Hormuz, telah mendorong
pergeseran sentimen pasar ke arah risk-off yang memicu investor untuk
mengurangi eksposur pada aset yang lebih berisiko. Kapal logistik dan tanker
minyak di Teluk Persia menerima siaran radio frekuensi tinggi dari Garda
Revolusi Iran yang memperingatkan bahwa kapal tidak akan diizinkan untuk
melewati jalur air strategis tersebut.
·
Media
pemerintah Iran mengkonfirmasi bahwa Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei
tewas dalam serangan AS dan Israel.
Presiden Rusia Vladimir Putin mengutuk pembunuhan tersebut sebagai pelanggaran
hukum internasional. Situasi ini menimbulkan ketidakpastian terkait transisi
politik Iran dan stabilitas kawasan Timur Tengah.
·
Perusahaan
logistik Maersk resmi menangguhkan seluruh pelayaran melalui Terusan Suez,
Selat Bab el-Mandeb, dan Selat Hormuz.
Langkah serupa diambil oleh MSC dan CMA CGM yang mengalihkan armada mereka
memutari Tanjung Harapan. Pengalihan rute ini diprediksi memperpanjang waktu
transit hingga 14 hari dan memicu lonjakan biaya logistik akibat penerapan Emergency
Conflict Surcharge. Mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama bagi
20-25% pasokan minyak dunia, pelaku pasar kini mengantisipasi tekanan inflasi
baru dari sektor energi dan potensi disrupsi ketersediaan barang secara global.
·
Harga
minyak mentah jenis Brent melonjak hingga 10% hingga menyentuh level $82 per
barel menyusul serangan militer
AS-Israel ke Iran yang memicu penutupan Selat Hormuz. Penutupan jalur vital
bagi 20% pasokan global disertai kerusakan infrastruktur energi di kilang Ras
Tanura (milik Saudi Aramco), meningkatkan kekhawatiran serius akan defisit
pasokan global, dimana sejumlah analis memperkirakan harga minyak dapat
mencapai $100/barel jika Selat Hormuz tetap ditutup.
·
Harga
emas naik mencapai $5,419/Toz seiring sentimen risk off pelaku pasar
akibat situasi perang Iran yang meningkatkan permintaan emas sebagai aset safe
haven. Pelaku pasar cenderung
mengalihkan portofolio ke logam mulia untuk mengantisipasi potensi inflasi
global yang dipicu oleh guncangan harga energi.
·
OPEC+
sepakat untuk meningkatkan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April
2026, guna mengimbangi potensi
gangguan suplai minyak global akibat serangan terhadap Iran. Namun demikian, gangguan
yang berkepanjangan berpotensi memangkas pasokan minyak global sebesar 8–10
juta barel per hari.
·
BPS
melaporkan inflasi tahunan Indonesia melonjak tajam menjadi 4,76% YoY pada
Februari 2026 (Jan: 3,55%), yang
merupakan level tertinggi sejak awal 2023. Secara bulanan, terjadi kenaikan inflasi
sebesar 0,68% MoM yang didorong oleh reli harga emas global serta kenaikan
harga pangan menjelang Ramadan. Selain itu, terdapat efek basis rendah akibat
berakhirnya kebijakan diskon listrik tahun sebelumnya. Angka ini melampaui
ekspektasi pasar dan memberi sinyal potensi pengetatan kebijakan moneter jika
tekanan harga terus berlanjut.
·
Surplus
neraca perdagangan Indonesia bulan Januari 2026 mencapai $954 juta (prev. $2,51
miliar), atau lebih rendah dari
ekspektasi $2,8 miliar. Surplus tersebut telah terjadi selama 69 bulan
berturut-turut sejak Mei 2020, dikontribusikan oleh kinerja ekspor yang
mencapai $22,16 miliar (+3,39% YoY) sedangkan impor $21,20 miliar (+18,21%).
Komoditas non migas yang mengalami surplus $3,22 miliar dan menjadi penopang
surplus trade balance, antara lain lemak dan minyak hewan nabati, serta
besi dan baja.
·
PMI Manufacturing
Indonesia bulan Februari 2026 diumumkan sebesar 53,8 (prev.52,6), yg merupakan level tertinggi sejak Maret 2024.
Peningkatan PMI Manufacturing terutama didorong oleh pertumbuhan pesanan baru dan
pertumbuhan produksi secara signifikan.
·
BI
memantau dengan ketat kondisi pasar keuangan serta potensi spillover
terhadap stabilitas Rupiah, seiring
meningkatnya ketegangan akibat perang AS-Israel-Iran. BI menyatakan akan terus
mencermati pergerakan pasar dan merespons secara tepat, termasuk memastikan
nilai tukar Rupiah sesuai dengan kondisi fundamental-nya.
·
Harga obligasi
domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 2-8bps. Yield
SUN 10 tahun ditutup naik 4 bps ke level 6,45%. Volume transaksi SBN secara outright
tercatat sebesar Rp15,1 triliun, turun dari Rp21,5 triliun pada perdagangan Jumat
lalu.
·
IHSG
ditutup melemah tajam sebesar 2,65% ke level 8.016,83 sejalan dengan risk-off global, dengan pelemahan
terbesar pada sektor barang konsumsi non-primer (-7,60%), perindustrian (-5,95%), properti
dan real estate (-4,14%). Adapun sektor energi merupakan satu-satunya
yang menguat (+1,54%).
·
Rupiah ditutup
melemah 0,54% ke level 16.861, dari
penutupan sebelumnya 16.771.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP