Financial Market Update

Point of Interest:

 

·        Indeks Harga Produsen AS (PPI) naik 0,5% MoM, sedikit lebih tinggi dari angka Desember yang telah direvisi dan melampaui ekspektasi ekonom sebesar 0,3%. Secara tahunan, PPI tercatat naik 2,9% YoY, sedikit melandai dari 3,0% pada Desember. kenaikan tersebut terutama dipicu oleh biaya jasa dan meningkatnya pricing power yang mendorong margin grosir dan ritel. Adapun dampak kenaikan harga akibat perluasan tarif dinilai belum terlihat. 

 

·        Departemen Perdagangan AS memberlakukan bea masuk sementara terhadap impor panel surya dari India (125,87%), Indonesia (104,38%), dan Laos (80,67%), dengan alasan subsidi yang tidak adil. Ketiga negara tersebut memasok sekitar $4,5 miliar, hampir dua pertiga dari impor panel surya AS pada tahun 2025. Keputusan akhir terkait tarif tersebut diperkirakan akan dirilis pada Juli 2026.

 

·        Perundingan nuklir putaran ketiga antara AS-Iran di Jenewa, Swiss, berakhir tanpa kesepakatan final meskipun terdapat klaim adanya kemajuan. Pihak Iran mengklaim adanya kemajuan signifikan dalam isu nuklir serta pencabutan saksi. Delegasi khusus AS (Steve Witkoff) dan Jared Kushner dilaporkan belum puas dengan proposal yg dimajukan Iran.

 

·        PBOC mengumumkan penghapusan persyaratan GWM sebesar 20% menjadi 0% untuk kontrak forward valuta asing, yang efektif berlaku mulai 2 Maret 2026. Kebijakan ini ditujukan untuk meredam apresiasi CNY terhadap USD dengan menurunkan biaya lindung nilai bagi institusi keuangan dan korporasi dalam membeli USD melalui instrumen derivatif. Langkah tersebut mempermudah pelaku pasar melakukan hedging maupun posisi short CNY, dan dipandang sebagai sinyal kuat PBOC untuk menjaga nilai tukar CNY tetap pada level yang “wajar dan berimbang” guna melindungi daya saing eksportir China. 

 

·        Pemerintah menyatakan bahwa tarif global AS tetap akan berlaku bagi Indonesia hingga Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang baru ditandatangani mulai efektif. Adapun tarif mengikuti ketentuan global yang ditetapkan Washington, yang diperkirakan mencapai 90%.

 

·        Bloomberg: Inflasi Indonesia diperkirakan kembali meningkat pada Februari dan bergerak semakin menjauhi batas atas kisaran target bank sentral. Inflasi tahunan diproyeksikan naik menjadi 4,39% YoY, dari 3,55% pada Januari. Kenaikan ini terutama dipengaruhi efek basis yang rendah, mengingat pada periode yang sama tahun lalu pemerintah sempat memangkas tarif listrik hingga 50% bagi sebagian rumah tangga. Selain itu, sejumlah indikator aktivitas menunjukkan tekanan permintaan domestik yang semakin menguat.

 

·        Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah terbatas dengan kisaran kenaikan yield sebesar 1-2bps. Yield SUN 10 tahun ditutup naik 1 bps ke level 6,41%. Volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp21,5 triliun, turun dari Rp33,2 triliun pada perdagangan hari sebelumnya.

 

·        IHSG ditutup stabil pada level 8.235,49 setelah sempat melemah pada sesi awal perdagangan. Sektor industri mencatat kenaikan harga terbesar (+4,5%) sedangkan sektor finansial turun paling dalam (-0,8%).

 

·        Rupiah ditutup melemah 0,10% ke level 16.771, dari penutupan sebelumnya 16.755.

 

 

Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP