Financial Market Update

Point of Interest:

 

·        S&P Global Ratings memperingatkan bahwa meningkatnya tekanan fiskal, khususnya beban pembayaran bunga utang, menjadi risiko utama bagi profil kredit Indonesia dan berpotensi memicu aksi rating negatif. S&P menyoroti rasio pembayaran bunga terhadap penerimaan yang sebelumnya stabil di bawah 15%, namun naik signifikan pascapandemi dan belum menunjukkan penurunan cepat. Dengan defisit fiskal 2025 tercatat 2,9% PDB (mendekati batas 3%), risiko terhadap trajektori fiskal dinilai meningkat di tengah lemahnya penerimaan negara.

 

·        Survei terbaru Bloomberg News mengindikasikan prospek makro Indonesia tetap resilien dengan pertumbuhan PDB 2026 diproyeksikan sebesar 5,20% YoY (vs survei sebelumnya 5,03%), diikuti 5,10% pada 2027 dan 5,20% pada 2028. Proyeksi pertumbuhan Q1-2026 direvisi naik menjadi 5,23% YoY (prior: 4,99%), mencerminkan perbaikan momentum aktivitas domestik, dengan probabilitas resesi 12 bulan ke depan relatif rendah sebesar 5%.

 

·        Inflasi Indonesia 2026 diperkirakan berada di 2,80% YoY dan 2,59% pada 2027, masih dalam kisaran target. Dari sisi kebijakan moneter, suku bunga Bank Indonesia diperkirakan bertahan di 4,75% hingga akhir Q1-2026 sebelum turun ke 4,50% pada akhir tahun, mengindikasikan ruang pelonggaran yang gradual dan data-dependent. Secara umum, konsensus memperkirakan akselerasi pertumbuhan ditopang oleh belanja pemerintah yang meningkat dan perbaikan permintaan domestik.

 

·        Chief Economist Bank Mandiri: Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 diproyeksikan menguat ke kisaran 5,4% YoY, didorong percepatan belanja fiskal sekitar Rp800 triliun, efek basis rendah, serta peningkatan konsumsi musiman selama Ramadan dan Idulfitri. Kombinasi stimulus fiskal dan faktor musiman ini diperkirakan menopang akselerasi aktivitas domestik pada awal tahun, dengan peluang realisasi pertumbuhan berada di atas proyeksi apabila momentum konsumsi berjalan lebih kuat dari ekspektasi.

 

·        Pelaku pasar masih mencermati pernyataan Presiden Trump terkait tarif di State of the Union kemarin, yang kembali memicu ketidakpastian terhadap perdagangan global. Selain itu, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, mempertahankan sikap hati-hati dengan menekankan bahwa inflasi masih berada satu poin persentase di atas target meski pasar tenaga kerja mulai mendingin.

 

·        Laporan Reuters mengonfirmasi bahwa Iran hampir merampungkan kesepakatan untuk membeli rudal anti-kapal supersonik CM-302 dari China. Pembelian ini dinilai sebagai "game changer" yang dapat memperkuat kemampuan Iran terutama dalam menghadapi kehadiran armada kapal induk AS di teluk Timur Tengah.

 

·        Rata-rata suku bunga tetap (fixed-rate) KPR tenor 30 tahun di AS turun menjadi 6,09% untuk pekan yang berakhir 20 Februari 2026, turun dari 6,17% pada pekan sebelumnya, dan merupakan level terendah sejak awal September 2022. Meskipun suku bunga melandai, keterjangkauan rumah di AS masih menjadi masalah karena harga rumah single family yang terus meningkat akibat stok yg sangat terbatas.

 

·        Institute of International Finance melaporkan utang global melonjak menjadi $348 triliun pada 2025 (naik $29 triliun), dengan sektor publik menyumbang kenaikan terbesar lebih dari $10 triliun. Sekitar tiga perempat lonjakan utang pemerintah berasal dari AS, China, dan Eropa. Meski rasio utang terhadap PDB global sedikit turun ke 308% berkat pertumbuhan ekonomi di negara maju, rasio utang negara berkembang justru mencapai rekor tertinggi di atas 235%.

 

·        Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak menguat terbatas dengan kisaran penurunan yield sebesar 1-2bps. Yield SUN 10 tahun ditutup turun 2 bps ke level 6,40%. Volume transaksi SBN secara outright tercatat sebesar Rp33,2 triliun, naik dari Rp22,9 triliun pada perdagangan hari sebelumnya.

 

·        IHSG ditutup melemah 1,04% ke level 8.235,26 dengan pelemahan terjadi secara merata di seluruh sektor akibat meningkatnya ketidakpastian global dan aksi profit taking pelaku pasar. Tiga sektor dengan penurunan harga terbesar adalah sektor transportasi (-4,54%), barang konsumsi non-primer (-2,59%), dan infrastruktur (-2,41%).

 

·        Rupiah ditutup menguat 0,18% ke level 16.755, dari penutupan sebelumnya 16.785.

 

 

Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP