Financial Market Update
Point
of Interest:
•
Ekspektasi
penurunan suku bunga The Fed pada FOMC Desember kembali menguat tajam seiring
rilis data AS yang lebih lemah dari perkiraan, antara lain pelemahan penjualan
ritel dan jatuhnya indeks kepercayaan konsumen ke 88,7 pada bulan November.
Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 80–83% untuk pemangkasan 25 bps pada
pertemuan 9–10 Desember, naik dari sekitar 40% sepekan sebelumnya. Kombinasi
data yang melemah dan perbedaan pandangan internal FOMC member ini membuat
prospek kebijakan The Fed ke depan tetap “data-dependent” dan menjadi sumber
utama volatilitas bagi dolar AS, UST yield, dan aset berisiko global.
•
Survei
Bloomberg memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh stabil di kisaran 5% pada
2025–2027, dengan risiko resesi rendah (probabilitas 3,5% oleh 6 responden) dan
inflasi tetap terjaga. Proyeksi PDB jangka pendek direvisi sedikit turun
(Q4-2025: +0,70% q/q vs sebelumnya +0,75% dan Q1 2026: +0,05% q/q vs sebelumnya
+0,10%), sementara BI rate diperkirakan turun bertahap ke 4,50% pada akhir 2025
dan ke 4,25% pada 1H-2026.
•
Analis
S&P Global menilai defisit fiskal Indonesia akan melebar namun tetap di
bawah batas 3% thd PDB. Namun demikian, S&P menilai bahwa penggunaan skema
pembiayaan off-balance sheet melalui Danantara berpotensi menyamarkan
peningkatan utang pemerintah yang sesungguhnya.
•
Menko
Perekonomian memberi sinyal bahwa tidak ada insentif khusus untuk industri
otomotif pada 2026, karena sektor dinilai sudah cukup stabil dan kuat.
Pemerintah tetap membuka ruang kajian lanjutan berdasarkan evaluasi hasil
pameran, termasuk GIIAS 2025, yang mencatat penjualan 38.929 unit (+12% YoY)
namun nilai transaksi turun ke Rp11,8 triliun (-37% YoY) akibat kompetisi harga
yang ketat, terutama dari produsen China (BYD dan Wuling). Meskipun pengunjung
meningkat 5–10%, lemahnya transaksi mencerminkan daya beli masyarakat yang
belum pulih sepenuhnya. Namun demikian, industri dianggap cukup tangguh tanpa
tambahan stimulus fiskal tahun depan.
•
Menko
Airlangga: Pertumbuhan ekonomi Indonesia Q4-2025 diperkirakan di atas 5% atau
pada rentang 5,4%-5,6%. Optimisme tersebut didorong oleh berbagai upaya
pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di sisa tahun ini, antara lain
melalui berbagai stimulus, baik bantuan langsung tunai (BLT) maupun beberapa
program lainnya.
•
OJK
membubarkan 10 lembaga dana pensiun sepanjang tahun 2025, lebih sedikit
dibandingkan tahun lalu, yang dipengaruhi oleh kondisi keuangan dan komitmen
pendiri atau pemberi kerja dalam memenuhi kewajiban pendanaan jangka panjang,
serta strategi untuk melanjutkan program pensiun melalui DPLK. Adapun alasan
pembubaran disebabkan oleh permohonan dari para pendiri akibat rasio kecukupan
dana yang tidak lagi mencukupi dan ketidakmampuan pendiri untuk menambah
kekurangan dana.
•
Pemerintah
akan mengumumkan besaran Upah Minimum Provinsi (UMP) sebelum 31 Desember 2025,
agar berlaku efektif mulai Januari 2026. Pemerintah saat ini tengah menyusun
aturan dan skema baru untuk perhitungan UMP tersebut, yang disesuaikan dengan
perkembangan terkini.
•
Harga
obligasi domestik pemerintah seri benchmark mayoritas bergerak melemah dengan
kisaran kenaikan yield sebesar 1-4bps.
•
IHSG
ditutup menguat sebesar 0,94% ke level 8.602,13 (all time high) ditopang oleh
penguatan saham sektor energi (+2,34%), keuangan (+1,95%), barang baku
(+1,67%), dan infrastruktur (+1,12%).
•
Rupiah
ditutup stabil di level 16.662, dari penutupan sebelumnya di level Rp16.662.
Divisi Pengelolaan Investasi
DAPENBI IP