Financial Market Update

Point of Interest:

 

§  Yield SBN 10 tahun mencapai 6,21% yang merupakan level tertinggi dalam lebih dari sebulan, di tengah kekhawatiran pasar bahwa ekspansi fiskal pemerintah lebih agresif. Hal ini sebagaimana realisasi APBN 2025 hingga Oktober yang menunjukkan ekspansi fiskal lebih agresif, terutama setelah tambahan penempatan dana pemerintah di bank-bank Himbara. Namun data menunjukkan permintaan kredit dari sektor swasta masih lesu dan pertumbuhan dana pihak ketiga stagnan. Stagnasi simpanan perbankan menambah keraguan atas potensi penyerapan obligasi pemerintah dalam jangka pendek dan menengah.

 

§  Danantara menargetkan dana senilai Rp15 triliun melalui penerbitan Patriot Bond pada 2026, dengan rencana memperluas jangkauan ke segmen investor yang berbeda dari penerbitan sebelumnya. Langkah ini mencerminkan strategi pendanaan yang lebih terdiversifikasi dalam memperkuat kapasitas investasi sovereign wealth fund tersebut.

 

§  Danantara mengungkapkan rencana kerja sama dengan BEI untuk membentuk indeks saham baru guna meningkatkan transparansi benchmarking investasi, sekaligus menjajaki ekspansi ETF Indonesia ke pasar global. Inisiatif ini menandai langkah strategis Danantara dalam memperkuat infrastruktur pasar dan memperluas akses investor terhadap produk investasi nasional.

 

§  Indonesia akan menerbitkan aturan terkait wali amanat dan SPV mulai tahun depan guna memperkuat mobilisasi modal domestik dan memperdalam pasar keuangan. Regulasi ini mencakup pemisahan kepemilikan legal–benefisial dan penerapan prinsip bankruptcy remoteness, yang memungkinkan aset dikelola secara aman oleh trustee. Kebijakan ini diperkirakan akan menarik lebih banyak dana swasta dan institusional, sekaligus membuka peluang bagi Danantara untuk membentuk trust fund dalam pengelolaan modal onshore.

 

§  Citi memperkirakan BI berpotensi menunda pemangkasan suku bunga dalam 1–3 bulan ke depan karena fokus kembali pada stabilitas rupiah, terutama di tengah penyempitan spread yield SBN–UST dan indikasi arus keluar modal dari lonjakan net errors & omissions di BoP 3Q-2025. Koordinasi yang lebih erat dengan pemerintah juga memberi ruang bagi BI untuk mempertahankan kebijakan suku bunga. Adapun prospek penurunan BI rate diperkirakan kembali terbuka dalam 3–12 bulan ke depan, jika pertumbuhan melambat akibat investasi yang lemah. Citi juga mencatat tidak ada urgensi mengubah batas defisit 3% to GDP, meski risikonya meningkat pada 2026 apabila pertumbuhan tetap lesu dan penerimaan tidak mencapai target.

 

§  Menkeu AS Scott Bessent menyatakan bahwa pemerintah sedang menyiapkan langkah untuk menurunkan biaya kesehatan, dengan detil lebih lanjut akan diumumkan pada minggu ini. Rencana tersebut penting karena premi asuransi kesehatan diperkirakan melonjak setelah subsidi berakhir di akhir 2025. Gedung Putih meminta waktu untuk proses perumusan kebijakan dengan target penyelesaian sebelum 30 Januari.

 

§  Pertemuan Uni Eropa–AS di Brussels tidak menghasilkan kesepakatan penurunan tarif, dimana UE menegaskan bahwa agenda hari ini difokuskan pada evaluasi posisi kedua pihak. UE diperkirakan akan menekan AS terkait keputusan memperluas tarif 50% atas baja dan aluminium hingga mencakup lebih dari 400 produk asal Eropa, yang memicu kekhawatiran bahwa kesepakatan dagang yang dicapai pada Juli mulai kehilangan substansinya.

 

§  Harga obligasi domestik pemerintah seri benchmark bergerak melemah dengan kisaran kenaikan yield sebesar 2-12bps, di tengah antisipasi pelaku pasar terhadap peluang penurunan suku bunga kebijakan AS yang semakin berkurang.

 

§  IHSG ditutup menguat tajam sebesar 1,85% ke level 8.570,25 yang terutama disebabkan oleh aksi beli investor asing pada sejumlah saham antara lain Bumi Resources (BRMS), Barito Renewables Energy (BREN), Bank Mandiri (BMRI), dan Petrosea (PTRO). Secara sektoral, penguatan saham terbesar ditopang oleh sektor properti (+3,9%), barang konsumen primer (+2,5%), infrastruktur (+2,36%), energi (2,33%), dan perindustrian (2,2%). Penguatan saham beberapa emiten turut dipicu oleh rebalancing indeks MSCI Indonesia Global Standard yang memasukkan emiten BRMS dan BREN efektif per penutupan pasar hari ini.

 

§  Rupiah ditutup menguat tipis sebesar 0,03% ke level 16.695, dari penutupan sebelumnya di level Rp16.700.

 

Divisi Pengelolaan Investasi

DAPENBI IP